JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 mencapai 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 5,12 persen. Kinerja ekonomi ditopang oleh menguatnya konsumsi rumah tangga, investasi, serta belanja pemerintah di tengah dinamika ekonomi global.
Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan, nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku pada triwulan II 2026 mencapai Rp6.552,1 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan sebesar Rp3.576,2 triliun. Secara kuartalan (quarter to quarter), ekonomi tumbuh 3,73 persen, sementara secara kumulatif semester I 2026 meningkat 5,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di tengah perlambatan perdagangan global dan ketidakpastian ekonomi dunia, Indonesia tetap mampu menjaga momentum pertumbuhan dengan ditopang permintaan domestik yang kuat, peningkatan aktivitas produksi, serta investasi pemerintah maupun swasta.
Baca Juga: Deteksi Penderita TB, Rontgen Portabel Diterjunkan
Dari sisi lapangan usaha, hampir seluruh sektor ekonomi mencatat pertumbuhan positif. Sektor yang menjadi penyumbang terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi adalah industri pengolahan, perdagangan, konstruksi, serta informasi dan komunikasi.
Industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan andil 0,90 persen. Kinerja sektor ini didorong meningkatnya permintaan domestik maupun ekspor, terutama pada industri makanan dan minuman yang tumbuh 6,51 persen, industri barang logam, komputer, elektronik dan peralatan listrik sebesar 8,04 persen, serta industri kimia, farmasi, dan obat tradisional yang tumbuh 4,99 persen.
Sementara itu, sektor perdagangan besar dan eceran tumbuh 6,39 persen seiring meningkatnya distribusi barang dan penjualan kendaraan bermotor. Adapun sektor konstruksi meningkat 6,68 persen karena naiknya belanja modal pemerintah, pembangunan infrastruktur, serta ekspansi kawasan industri dan perumahan.
Baca Juga: Tumpukan Meterial Jadi Sumber PAD Di Terminal MPU
Di sisi lain, sektor pertambangan masih mengalami kontraksi 1,64 persen. Penurunan terjadi akibat berkurangnya produksi beberapa komoditas tambang seperti nikel, timah, dan bauksit, serta belum pulihnya operasional tambang bawah tanah di Papua Tengah pascainsiden longsor pada 2025. prompt fix agustus.docx
Konsumsi Rumah Tangga Masih Dominan, Belanja Pemerintah Melonjak
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penyumbang terbesar terhadap PDB dengan kontribusi 53,32 persen dan tumbuh 5,06 persen.
Peningkatan konsumsi didorong momentum libur nasional dan hari besar keagamaan, yang mendorong belanja masyarakat pada sektor restoran, hotel, transportasi, dan komunikasi. Aktivitas perdagangan digital maupun pembayaran elektronik juga meningkat selama periode tersebut.
Baca Juga: Tambang di Gandusari Dipaksa Berhenti Hasil Inspeksi Sejumlah OPD Perizinan Diketahui Belum Beres
Investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,87 persen, ditopang peningkatan investasi kendaraan, mesin, bangunan, serta realisasi investasi pemerintah dan swasta.
Sementara itu, konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 15,97 persen. Kenaikan tersebut dipengaruhi pembayaran gaji ke-13 bagi ASN, TNI, Polri, pensiunan, peningkatan belanja barang dan jasa, serta pelaksanaan berbagai program pemerintah, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). prompt fix agustus.docx
Jawa, Bali-Nusa Tenggara, dan Sulawesi Tumbuh di Atas Nasional
Secara wilayah, seluruh pulau di Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi positif. Pulau Jawa masih menjadi kontributor terbesar terhadap PDB nasional dengan pangsa 56,47 persen, disusul Sumatera sebesar 22,50 persen.
Baca Juga: Kalender Jawa Aboge Tahun B: Cek Daftar Hari Pantangan dan Tanggal Baik Hajatan!
Pertumbuhan ekonomi tertinggi terjadi di Bali dan Nusa Tenggara sebesar 6,10 persen, diikuti Pulau Jawa sebesar 5,65 persen, dan Sulawesi sebesar 5,53 persen. Adapun DKI Jakarta menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar di Pulau Jawa, sementara Bali menjadi motor utama pertumbuhan di kawasan Bali dan Nusa Tenggara.
Dalam kesempatan yang sama, BPS juga melaporkan kondisi ketenagakerjaan membaik. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Mei 2026 turun menjadi 4,65 persen, sedangkan jumlah penduduk miskin pada Maret 2026 turun menjadi 22,93 juta orang atau 8,07 persen dari total penduduk. Meski demikian, rasio gini meningkat menjadi 0,368, menunjukkan ketimpangan pengeluaran masih mengalami kenaikan dibandingkan September 2025.
Editor : Cendikiawan Tristan Valentino