KOTA, Radar Trenggalek – Cuaca ekstrem dan anomali iklim yang melanda perairan selatan Jawa beberapa tahun terakhir tidak hanya melumpuhkan aktivitas melaut nelayan di Kabupaten Trenggalek.
Dampak turunannya kini mulai merembet ke mana-mana. Salah satunya, angka penyerapan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi untuk sektor perikanan tangkap yang terjun bebas.
Anjloknya konsumsi BBM subsidi ini menjadi indikator riil lesunya aktivitas nelayan.
“Sepanjang semester pertama tahun ini, tangkapan ikan di Trenggalek baru menyentuh angka 2.000 ton. Angka ini merosot tajam dibanding periode yang sama tahun lalu yang mampu menembus 3.500 ton,” ungkap Kepala UPT TPI Prigi Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Trenggalek, Samsu Rijal, Rabu (12/8).
Secara historis, penurunan ini tergolong amat drastis. Berdasarkan data dinas tersebut, puncak kejayaan produksi perikanan tangkap terjadi pada 2023 dengan raihan mencapai 28.000 ton.
Namun, angka tersebut terus merosot pada 2024 menjadi 22.000 ton, dan kian terperosok pada 2025 yang hanya menyisa 12.000 ton.
Imbasnya, alokasi BBM subsidi khususnya jenis solar banyak yang mangkrak dan tak terserap optimal oleh para pemilik armada.
"Tingkat aktivitas melaut nelayan berkurang jauh. Faktor utamanya cuaca buruk, curah hujan tinggi, dan angin kencang sejak awal tahun. Saking sepinya laut, BBM yang disubsidi untuk nelayan kemarin banyak yang tidak terserap," ungkapnya.
Sebagai gambaran, dari evaluasi penyerapan BBM khusus nelayan pada tahun sebelumnya, persentase konsumsi terbilang minim. Secara rata-rata, penyerapan solar subsidi nelayan hanya berada di angka 60-65 persen.
Kelesuan paling terasa pada kapal-kapal berukuran menengah ke atas, seperti kapal di atas 5 gross tonage (GT) hingga kapal slerek yang beroperasi di Kawasan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi. Kapal-kapal ini mengandalkan kalkulasi matang sebelum melempar jangkar.
"Kapal besar ini sistemnya getok tular. Kalau ada satu kapal yang berangkat lalu dapat hasil, baru yang lain menyusul. Kalau cuaca tidak menentu seperti kemarin, risiko operasionalnya terlalu tinggi, makanya banyak yang memilih bersandar," pungkasnya. (gun/c1/din)
Editor : Juwita RatnasariSumber : RADAR TRENGGALEK