Cuaca Pengaruhi Kualitas Getah

Gunawan Awan • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 06:47 WIB
POTENSI: Petani ketika menyadap getah pinus di kawasan hutan Trenggalek.(BKPH TRENGGALEK UNTUK RADAR TRENGGALEK)
POTENSI: Petani ketika menyadap getah pinus di kawasan hutan Trenggalek.(BKPH TRENGGALEK UNTUK RADAR TRENGGALEK)

KOTA, Radar Trenggalek – Sektor perhutanan di kawasan Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kediri, khususnya wilayah Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Trenggalek, terus menggeliat. Sebagai salah satu penyumbang pasokan getah pinus terbesar, keberhasilan produksi di wilayah ini rupah dipengaruhi oleh sejumlah faktor krusial.

​Asisten Perhutani (Asper) BKPH Trenggalek, Kusno mengungkapkan, potensi sumber daya hutan menjadi fondasi utama. Kerapatan tegakan pohon pinus sangat menentukan kuantitas getah yang dihasilkan.

Mayoritas komoditas yang dikembangkan di wilayah Trenggalek adalah jenis Pinus merkusii yang dikenal memiliki aliran getah lancar, berbeda dengan jenis Oocarpa yang cenderung lebih sulit disadap.

​Namun, keberadaan pohon yang produktif tidak akan berarti tanpa peran para penyadap. Kusno menegaskan bahwa para penyadap getah bukanlah tenaga harian lepas, melainkan mitra kerja yang bersifat sukarela.

Baca Juga: El Nino Menguat, Waspada Kekeringan Stok Beras Dipastikan Aman

​"Rata-rata penyadap ini memiliki pekerjaan utama lain seperti bertani atau beternak. Jadi sifatnya samberan. Kita tidak bisa memaksa, melainkan membangun pendekatan kemitraan agar mereka rutin melakukan pembaruan kuar (coar)," ujar Kusno.

Dia menjelaskan, pengerokan atau pembaruan luka pada pohon idealnya dilakukan tiga hingga empat kali agar getah tetap mengalir lancar. Pada pohon dengan kualitas unggul, tiga kali pembaruan saja sudah mampu memenuhi satu mangkok penampung.

Faktor alam seperti cuaca dan ketinggian tempat juga memegang peranan penting. Cuaca panas justru menjadi angin segar karena membuat getah lebih encer dan cepat mengalir. Sebaliknya, saat musim hujan tiba, getah cenderung membeku dan menempel pada bidang sadap. Begitu pula dengan faktor ketinggian; wilayah di atas 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) seperti di kawasan Bendungan memiliki suhu yang sangat dingin sehingga getah lebih sulit keluar.

​Terkait isu penebangan liar, Kusno meluruskan bahwa kegiatan tebangan legal di dalam kawasan hutan Perhutani selalu melalui perencanaan matang sejak dua tahun sebelumnya. Proses tersebut mencakup penghitungan keliling pohon, rekapitulasi data, hingga penerbitan Sah Rencana Kerja Teknik (RKT).

Baca Juga: Pagar Rusak, Pengusaha Tanggung Jawab

​"Kalau ada tebangan di luar prosedur resmi, itu bukan kegiatan internal, melainkan bentuk pembalakan atau pencurian. Untuk mengantisipasi gangguan keamanan hutan (GKH) tersebut, kami rutin menggelar patroli siang dan malam, bermitra dengan masyarakat, serta berkoordinasi intensif dengan jajaran polsek dan koramil setempat," tegasnya.

Dari sisi target, BKPH Trenggalek memikul amanat cukup besar dengan target produksi sekitar 1.950 ton getah pinus per tahun—menjadi yang tertinggi di wilayah KPH Kediri, disusul BKPH Dongko sekitar 1.800 ton. Evaluasi capaian pun dilakukan secara berkala setiap 15 hari.

​Getah yang terkumpul dari para penyadap nantinya ditampung dalam drum berkapasitas 1 kuintal, lalu dikirim ke Pabrik Getah Pinus dan Terpentin (PGT) Rejowinangun untuk melalui pengujian mutu, mulai dari kelas premium, mutu 1, hingga mutu 2 sebelum diolah lebih lanjut. (gun/c1/din)

Editor : Juwita Ratnasari
Sumber : RADAR TRENGGALEK
EkonomiDaerah GetahPinus Perhuni