KOTA, Radar Trenggalek – Kuliner Jepang termasuk sushi dan ramen mulai mendapat tempat di kalangan anak muda Trenggalek. Meski tergolong makanan yang belum terlalu familier bagi sebagian masyarakat, rasa penasaran membuat kuliner khas Negeri Sakura itu perlahan mulai dicoba.
Minat masyarakat terhadap sushi dan ramen cukup terbuka. Terutama bagi mereka yang sebelumnya pernah mencicipi makanan Jepang saat berkunjung ke luar kota, termasuk Surabaya maupun Tulungagung.
Sementara bagi masyarakat Trenggalek yang belum pernah mencoba, keberadaan tempat makan dengan menu Jepang di daerah sendiri menjadi pengalaman baru. Mereka bisa mencicipi sekaligus membandingkan rasa yang ditawarkan dengan makanan serupa yang pernah ditemui di luar kota.
“Mahasiswa yang sudah pernah mencoba di luar kota, ketika kembali ke sini tahu ternyata ada ramen dan sushi di Trenggalek, kemudian mereka mencoba dan membandingkan. Mungkin karena rasanya juga mirip,” ujar owner Nooja Trenggalek, Redhitya Widiarso, Kamis (11/9).
Baca Juga: Polemik Akun DON Bisa Picu Gesekan PSHT Minta Anggota Tak Terprovokasi
Menurut dia, mayoritas konsumen yang tertarik mencoba menu didominasi kalangan anak muda. Bahkan, sekitar 70 persen konsumennya berasal dari kelompok Gen Z, sedangkan konsumen berusia 40 tahun ke atas relatif lebih sedikit karena memang bukan menjadi target utama.
Salah satu menu sushi yang banyak diminati adalah salmon mentai. Menu tersebut menjadi pilihan menarik, khususnya bagi konsumen yang baru pertama kali mencoba sushi. Perpaduan salmon dan mentai dianggap mampu menjadi pintu masuk bagi mereka yang masih penasaran dengan cita rasa sushi.
Redhitya menyebut keberadaan menu berbahan salmon juga menjadi salah satu daya tarik. Sebab, menu salmon masih tergolong jarang ditemukan di Trenggalek. Ditambah lagi, harga yang ditawarkan relatif terjangkau dibandingkan harga menu serupa di kota-kota besar.
“Salmon mentai yang ramai. Karena salmon dan menu sushi itu masih sangat jarang di Trenggalek. Kalau di luar kota, paling tidak Rp 50 ribu sampai Rp 60 ribuan untuk mendapatkan salmon. Kalau di sini harganya terjangkau,” jelasnya.
Baca Juga: Bekas Pasar Durenan Berubah Jadi TPS Lama Terbengkalai Tanpa Kejelasan
Bagi yang belum berani mencoba sushi atau ramen, bisa mencicipi salah satunya Yaki Meshi, yakni menu berbahan dasar nasi yang diolah menyerupai nasi goreng.
“Kalau orang yang enggak berani mencoba makanan Jepang, biasanya arahnya ke Yaki Meshi. Jadi makanan yang aman untuk orang yang belum pernah merasakan sushi atau ramen,” katanya.
Dia menambahkan bahwa terus berusaha mempertahankan karakter ramen melalui proses pengolahan yang cukup panjang. Kuah ramen yang digunakan dibuat dari tulang ayam, ceker, dan bumbu yang dimasak selama kurang lebih 6 jam. Proses tersebut dilakukan untuk mendapatkan cita rasa kuah yang sesuai dengan karakter ramen yang ditawarkan.
Tak hanya kuah, mi yang digunakan juga merupakan mi khusus ramen. Begitu pula dengan topping chasu yang dibuat sendiri.
Baca Juga: Sarirotun Nadziroh Dari Rumah, Buktikan Perempuan Bisa Berkarya dan Berdaya
Bumbu yang digunakan pun mengadaptasi bumbu khas Jepang. Namun, seluruh bahan yang digunakan tetap disesuaikan dengan konsep halal.
“Kuahnya benar-benar dari tulang ayam yang dimasak berjam-jam. Proses merebus tulang, ceker, dan bumbunya sekitar 6 jam. Mi juga khusus untuk ramen, kemudian chasu juga kami buat sendiri,” terangnya.
Menurut Redhitya, edukasi mengenai ramen dan sushi juga masih diperlukan. Sebab, sebagian masyarakat masih memiliki gambaran bahwa ramen tidak jauh berbeda dengan mi instan.
Maka, dia berharap semakin banyak masyarakat yang mengenal perbedaan antara ramen Jepang dengan mi instan, termasuk dari proses pembuatan kuah, mi, hingga topping yang digunakan.
Baca Juga: Data Desil Tak Sesuai, Fakta di Lapangan Jadi Acuan
Di sisi lain, dia melihat peluang perkembangan kuliner Jepang di Trenggalek masih sangat terbuka. Tidak menutup kemungkinan, nantinya akan muncul pelaku usaha lain yang ikut menawarkan konsep serupa.
“Pesaing kemungkinan ada. Pasti ada, entah kapan. Perkembangan kuliner sekarang juga cepat,” ungkapnya.
Bagi Redhitya, bertambahnya pilihan kuliner Jepang di Trenggalek justru dapat menjadi kesempatan untuk membuat masyarakat semakin mengenal sushi dan ramen. Bukan sekadar mengikuti tren, melainkan juga memahami karakter dan proses di balik makanan yang disantap. (mal/c1/din)
Editor : Juwita RatnasariSumber : RADAR TRENGGALEK