Pasar Jadi Tantangan Perkembangan UMKM Ekraf

Mohammad Bima Faisal Mirza • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 10:10 WIB
CARI SOLUSI: Kegiatan Rembuk Kreatif para pelaku UMKM di  Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari, Kamis (17/9).(M. BIMA FAISAL/ RADAR TRENGGALEK)
CARI SOLUSI: Kegiatan Rembuk Kreatif para pelaku UMKM di Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari, Kamis (17/9).(M. BIMA FAISAL/ RADAR TRENGGALEK)

GANDUSARI, Radar Trenggalek - Persoalan akses pasar masih menjadi tantangan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Trenggalek. Tidak sedikit pelaku usaha yang sudah mampu menghasilkan produk, tetapi masih kebingungan menentukan pasar dan saluran penjualan yang tepat.

Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Rembuk Kreatif yang digelar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Trenggalek, Kamis (17/9), di UD Bambu Indah, Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari. Kegiatan tersebut dihadiri pelaku UMKM, sejumlah dinas terkait, serta perguruan tinggi.

Forum tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pihak dalam membahas persoalan dan kebutuhan pengembangan ekonomi kreatif (ekraf). Harapannya, pembahasan tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi dapat menghasilkan langkah konkret yang sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha.

Kabid Ekraf Disparbud Trenggalek Bangun Setyo Nugroho mengatakan, akses pasar menjadi salah satu tantangan yang perlu dicarikan solusi.

Baca Juga: Suli Da’im Soroti Polemik Data Desil di Trenggalek: Jangan Sampai Angka Mengalahkan Kondisi Riil

“Memang salah satu tantangan yang dihadapi pelaku ekonomi kreatif adalah akses pasar. Jangan sampai setelah mampu menghasilkan produk, pelaku UMKM justru kesulitan menentukan produk tersebut akan dipasarkan ke mana. Karena itu, kami ingin mendorong ekosistem yang tidak hanya berbicara soal produksi, tetapi juga pemasaran dan perluasan jaringan pasar,” ujarnya.

Menurut dia, pengembangan UMKM membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Potensi pariwisata dapat menjadi salah satu pintu untuk memperkenalkan produk lokal kepada wisatawan. Destinasi wisata maupun kegiatan pariwisata dan kebudayaan dapat membuka ruang bagi produk UMKM untuk dipasarkan.

Selain pemasaran, legalitas dan perlindungan produk juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan. Masih ada pelaku UMKM yang belum mengurus nomor induk berusaha (NIB) maupun Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Fasilitasi pengurusan legalitas tersebut dapat menjadi salah satu bentuk pendampingan yang dibutuhkan pelaku ekraf.

Disparbud dapat berperan mengarahkan atau menghubungkan pelaku usaha dengan instansi yang memiliki kewenangan. Sementara perguruan tinggi dapat dilibatkan dalam pendampingan, riset, inovasi produk, maupun pengembangan strategi pemasaran.

Baca Juga: Nasib Musri, Hidup Sebatang Kara Rumah Tak Layak Huni, Tak Pernah Tersentuh Bansos, Masuk Desil 8

“Harapannya, UMKM tidak berjalan sendiri. Potensi pariwisata bisa menjadi salah satu pintu masuk untuk memperluas pasar produk lokal. Kami juga perlu melihat fasilitas dan pola pendampingan yang dibutuhkan pelaku UMKM agar mereka tidak hanya mendapatkan pelatihan, tetapi juga bisa naik kelas dan memiliki pasar yang lebih luas,” imbuh Bangun.

Ke depan, pendampingan UMKM diharapkan tidak berhenti pada pelatihan produksi atau promosi. Pelaku usaha membutuhkan dukungan dari hulu hingga hilir, mulai peningkatan kualitas produk, kemasan, legalitas, HAKI, branding, pemasaran digital, hingga akses pasar.

Rembuk Kreatif menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antarpihak. Sebab, keberhasilan pengembangan UMKM tidak cukup diukur dari banyaknya kegiatan yang digelar. Lebih penting, apakah pelaku usaha mampu mendapatkan pasar, meningkatkan penjualan, melindungi produknya, serta mempertahankan usaha agar terus berkembang. (bim/c1/din)

Editor : Juwita Ratnasari
Sumber : RADAR TRENGGALEK
EkonomiKreatif AksesPasar umkm Disparbud