Saham GOTO Mentok Rp50, Likuiditas Menipis dan Buyback Rp3,5 Triliun Jadi Sorotan

Cholifatun Nisak • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 20:24 WIB
Saham GOTO masih mentok Rp50. Likuiditas menipis, MSCI dan buyback Rp3,5 triliun jadi sorotan investor.
Saham GOTO masih mentok Rp50. Likuiditas menipis, MSCI dan buyback Rp3,5 triliun jadi sorotan investor.

 

TRENGGALEK NJENGGELEK- Saham GOTO kembali menjadi perhatian setelah harga sahamnya bertahan di level Rp50 meski kinerja operasional perusahaan disebut terus membaik sepanjang semester I 2026. Kondisi ini dikaitkan dengan likuiditas yang semakin tipis, tekanan jual setelah GOTO keluar dari indeks global MSCI, serta dampak kebijakan pembatasan komisi aplikator ojek online. Di sisi lain, rencana buyback saham senilai Rp3,5 triliun dinilai dapat menjadi salah satu katalis bagi saham GOTO.

Dalam pembahasan terbaru, likuiditas menjadi salah satu persoalan utama yang membuat pergerakan harga saham GOTO terlihat stagnan di batas bawah pasar reguler Bursa Efek Indonesia (BEI).

Saham GOTO Mengalami Liquidity Trap

Secara aturan, harga saham di pasar reguler BEI memiliki batas bawah Rp50. Sementara saham yang masuk papan pemantauan khusus dengan mekanisme full call auction dapat diperdagangkan pada harga di bawah level tersebut.

Namun, GOTO masih berada di pasar reguler sehingga harga sahamnya bertahan di Rp50 meskipun tekanan jual cukup besar.

Analis yang dikutip dalam pembahasan tersebut menyebut kondisi ini sebagai liquidity trap. Sederhananya, saham masih dapat diperdagangkan, tetapi ketika pemegang saham ingin menjual dalam jumlah besar, belum tentu tersedia pembeli dalam volume yang sama.

Akibatnya, transaksi saham GOTO disebut lebih banyak terlihat di pasar negosiasi. Berbeda dengan pasar reguler, harga transaksi di pasar negosiasi dapat disepakati antara pembeli dan penjual.

Baca Juga: Harga Minimum Saham Jadi Rp1, 92 Emiten Disebut Keluar dari Papan FCA

Tekanan Setelah Keluar dari Indeks MSCI

Persoalan likuiditas semakin menjadi perhatian setelah GOTO disebut dikeluarkan dari indeks global MSCI.

Keluarnya sebuah saham dari indeks tersebut berpotensi memicu aksi jual dari investor pasif maupun pengelola dana yang mengikuti komposisi indeks. Namun, ketika likuiditas di pasar reguler terbatas, transaksi dalam jumlah besar dapat berpindah ke pasar negosiasi.

Dalam analisis tersebut, tekanan jual dinilai masih lebih besar dibandingkan permintaan pembelian. Kondisi inilah yang disebut menjadi salah satu alasan saham GOTO belum mampu meninggalkan level Rp50.

Buyback Rp3,5 Triliun Jadi Harapan

GOTO sebelumnya telah memperoleh persetujuan pemegang saham untuk melakukan pembelian kembali saham atau buyback dengan anggaran hingga Rp3,5 triliun.

Persetujuan tersebut diperoleh melalui RUPS pada 18 Juni 2026 dan memiliki periode pelaksanaan selama satu tahun. Artinya, manajemen memiliki waktu untuk menjalankan aksi tersebut sesuai ketentuan yang berlaku hingga periode persetujuan berakhir.

Namun, berdasarkan pembahasan dalam video, belum terdapat informasi bahwa seluruh rencana buyback tersebut telah dieksekusi.

Buyback dinilai dapat membantu menyerap sebagian tekanan jual karena perusahaan berperan sebagai pembeli sahamnya sendiri. Meski demikian, aksi tersebut tidak otomatis menjamin harga saham langsung naik.

Kebijakan Ojol Bisa Tekan Profitabilitas

Selain persoalan likuiditas, prospek GOTO juga menghadapi sentimen dari kebijakan pembatasan komisi aplikator ojek online maksimal 8 persen.

Kebijakan tersebut mulai berlaku pada 1 Juli 2026. Dalam analisis yang dikutip, sejumlah sekuritas memperkirakan kebijakan tersebut dapat menekan kinerja segmen layanan on-demand GOTO.

Di sisi lain, GOTO masih memiliki bisnis layanan finansial melalui GoPay. Pertumbuhan penyaluran kredit disebut menjadi salah satu sumber optimisme perusahaan untuk menopang kinerja ketika bisnis layanan transportasi dan pengantaran menghadapi tekanan.

Bisakah Saham GOTO Keluar dari Rp50?

Sejumlah analis dalam pembahasan tersebut melihat peningkatan likuiditas sebagai faktor penting agar saham GOTO kembali menarik bagi investor.

Selain buyback, terdapat pula wacana reverse stock split untuk meningkatkan harga nominal saham. Namun, manajemen disebut belum menunjukkan rencana untuk menjalankan aksi korporasi tersebut.

Dengan berbagai sentimen yang ada, pergerakan saham GOTO masih akan bergantung pada likuiditas, pelaksanaan buyback, perkembangan bisnis, serta respons investor terhadap kinerja perusahaan hingga akhir 2026.

Baca Juga: Saham GOTO Jelang 28 September, Investor Asing Disebut Mulai Borong di Harga Rendah

Editor : Cholifatun Nisak
Sumber : pinterest
GOTO Rp50 buyback GOTO likuiditas saham MSCI saham goto