TRENGGALEK NJENGGELEK- Saham GOTO kembali menjadi sorotan setelah kinerja keuangan perseroan menunjukkan perbaikan, tetapi harga saham masih tertahan di level Rp50. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai valuasi GOTO, tekanan jual, hingga peluang perusahaan melakukan turnaround setelah bertahun-tahun mencatat kerugian.
Dalam sebuah diskusi pasar modal, analis Rudi menilai GOTO kini berada pada fase yang menarik untuk dicermati karena bisnisnya mulai menunjukkan perubahan dari rugi menuju laba. Namun, tekanan dari likuiditas saham, kebijakan indeks, serta aksi jual pemegang saham tertentu masih menjadi tantangan.
Baca Juga: Morgan Stanley Borong Saham GOTO, Transaksi di Bawah Harga Rp50 Jadi Sorotan
Kinerja GOTO Mulai Berbalik Positif
Berdasarkan laporan keuangan yang dibahas dalam diskusi tersebut, GOTO mencatat pendapatan hampir Rp11 triliun pada enam bulan pertama 2026. Beban usaha berada di kisaran Rp10,2 triliun sehingga laba usaha mencapai sekitar Rp781 miliar.
Setelah memperhitungkan berbagai beban lainnya, laba bersih enam bulan pertama 2026 disebut mencapai sekitar Rp328 miliar. Angka tersebut menjadi perubahan signifikan dibandingkan periode sebelumnya yang masih mencatat kerugian.
Rudi menilai perubahan tersebut menunjukkan adanya potensi efisiensi. Penurunan pendapatan dari layanan tertentu tidak otomatis membuat laba perusahaan kembali negatif apabila manajemen mampu menekan biaya.
Menurutnya, skala bisnis GOTO yang besar memberikan ruang bagi perusahaan untuk melakukan efisiensi pada berbagai pos pengeluaran.
Tiga Segmen Bisnis Jadi Penopang
GOTO saat ini memiliki bisnis yang dibahas dalam tiga kelompok utama, yakni layanan on-demand, financial technology, dan bisnis terkait e-commerce.
Tokopedia disebut sebelumnya menjadi salah satu bisnis yang banyak membutuhkan biaya. Setelah transaksi dengan TikTok, beban yang harus dikonsolidasikan GOTO juga berubah.
Dari sisi segmen, kinerja enam bulan pertama 2026 disebut sudah menunjukkan kontribusi positif. Bahkan, arus kas bebas atau free cash flow juga diklaim telah berada di area positif sekitar Rp2 triliun.
Rudi menyebut kondisi tersebut menjadi salah satu indikator yang menarik bagi investor yang mencari perusahaan dengan potensi turnaround.
Saham GOTO Masih Tertekan di Rp50
Meski kinerja keuangan membaik, saham GOTO masih tertahan di harga Rp50. Dalam diskusi tersebut disebut terdapat antrean jual dalam jumlah sangat besar, sementara kemampuan pasar reguler untuk menyerap saham tersebut terbatas.
Salah satu faktor yang disebut memengaruhi tekanan jual adalah keluarnya GOTO dari indeks MSCI. Selain itu, skema kompensasi berbasis saham bagi karyawan juga dinilai menjadi salah satu sumber pasokan saham.
GOTO People First Fund disebut masih memiliki nilai sekitar Rp7,3 triliun. Saham yang diberikan kepada karyawan melalui skema tersebut dapat memberikan keuntungan besar apabila dijual pada harga pasar yang jauh lebih tinggi dibandingkan harga perolehan.
Namun, Rudi menilai pemberian saham kepada karyawan di harga rendah bukan berarti otomatis merugikan investor lama karena saham tersebut disebut berasal dari dana yang telah disiapkan perusahaan, bukan penerbitan saham baru.
Valuasi GOTO Jadi Perhatian
Pada harga sekitar Rp20–Rp30 dalam transaksi pasar negosiasi, narasumber menilai terdapat investor yang masih melihat nilai GOTO. Salah satu pertimbangannya adalah posisi kas per saham yang disebut berada di sekitar Rp20.
Dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp20–Rp30 triliun, valuasi GOTO saat ini jauh lebih rendah dibandingkan valuasi pada masa awal perusahaan melantai di bursa.
Narasumber juga membandingkan total pendanaan Gojek dan Tokopedia sebelum IPO yang disebut mencapai sekitar US$8 miliar. Perbedaan antara akumulasi pendanaan tersebut dengan valuasi pasar saat ini menjadi gambaran besarnya penurunan valuasi perusahaan teknologi tersebut.
Meski demikian, potensi turnaround tetap bergantung pada kemampuan GOTO mempertahankan pertumbuhan bisnis, meningkatkan laba, mengelola biaya, serta menciptakan likuiditas saham yang lebih sehat.
Baca Juga: Saham GOTO Masih Rp50, Kepemilikan Asing dan Market Maker Jadi Sorotan
Editor : Cholifatun NisakSumber : pinterest