Rupiah Melemah Lagi, Analis Ungkap Target Rp18.775 dan Dampaknya ke IHSG

Cholifatun Nisak • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 20:37 WIB
Rupiah melemah diproyeksikan menuju Rp18.775. Simak faktor pemicu dan dampaknya terhadap IHSG.
Rupiah melemah diproyeksikan menuju Rp18.775. Simak faktor pemicu dan dampaknya terhadap IHSG.

 

TRENGGALEK NJENGGELEK- Rupiah melemah kembali menjadi perhatian pelaku pasar setelah sebelumnya sempat menguat ke kisaran Rp17.400-Rp17.500 per dolar AS. Dalam analisis terbaru, pelemahan rupiah dinilai masih berpotensi berlanjut hingga kisaran Rp18.643-Rp18.775. Kondisi tersebut turut menjadi perhatian karena pergerakan nilai tukar memiliki hubungan dengan arah IHSG dan aliran dana asing ke pasar saham Indonesia.

Baca Juga: Saham GOTO Masih Rp50, Kepemilikan Asing dan Market Maker Jadi Sorotan

Rupiah Diproyeksikan Menuju Rp18.775

Dalam pembahasan tersebut, analis mengingat kembali prediksi yang dibuat pada 21 Agustus 2026. Saat itu, rupiah disebut membentuk pola ABC correction dengan target penguatan ke kisaran Rp17.400-Rp17.500.

Prediksi tersebut kemudian disebut terealisasi ketika nilai tukar mencapai area tersebut. Namun, penguatan rupiah tidak dianggap sebagai akhir dari pergerakan. Analisis berikutnya justru melihat adanya potensi pelemahan menuju Rp18.775.

Target tersebut sebelumnya disebut sudah diproyeksikan sejak Juni 2026. Berdasarkan analisis teknikal yang disampaikan, level Rp18.775-Rp18.875 menjadi area yang perlu diperhatikan.

Dengan pendekatan Fibonacci, analis juga menyebut level 1,618 berada di sekitar Rp18.643. Karena itu, kisaran Rp18.643 hingga Rp18.775 menjadi area target yang disorot dalam analisis tersebut.

Faktor Eksternal Jadi Pemicu

Pelemahan rupiah dalam analisis tersebut lebih banyak dikaitkan dengan faktor eksternal. Salah satunya adalah pergerakan suku bunga Amerika Serikat dan meningkatnya daya tarik aset berbasis dolar.

Kenaikan imbal hasil US Treasury juga disebut berpotensi mendorong perpindahan dana dari negara berkembang menuju Amerika Serikat. Kondisi tersebut dapat meningkatkan permintaan dolar dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara emerging market, termasuk rupiah.

Selain itu, risiko geopolitik dan tingginya harga minyak dunia turut menjadi perhatian. Jika tekanan eksternal berlanjut, analis memperkirakan rupiah masih memiliki ruang untuk melemah.

Sementara dari sisi domestik, suku bunga Indonesia disebut masih berada pada level 5,75 persen. Kebijakan moneter domestik dinilai menghadapi dilema antara menjaga stabilitas rupiah dan mempertahankan aktivitas ekonomi serta daya beli masyarakat.

Rupiah Melemah, Bagaimana Dampaknya ke IHSG?

Pergerakan rupiah juga dikaitkan dengan arah IHSG. Dalam analisis tersebut, ketika rupiah menguat, pasar saham Indonesia sebelumnya cenderung mendapatkan dorongan dari aliran dana dan meningkatnya minat investor.

Sebaliknya, pelemahan rupiah dapat meningkatkan tekanan terhadap sejumlah saham, terutama sektor yang sensitif terhadap nilai tukar dan arus modal asing.

Meski begitu, rupiah melemah tidak selalu berarti IHSG harus turun. Narasumber mencontohkan kondisi sebelumnya ketika rupiah mengalami tekanan tetapi IHSG tetap mampu mencatat penguatan.

Karena itu, narasi pasar dan arah money flow tetap menjadi faktor penting. Investor juga disebut perlu memperhatikan peluang pada saham tertentu, bukan hanya melihat kondisi indeks secara keseluruhan.

Level IHSG yang Perlu Diperhatikan

Untuk IHSG, analis menyebut area 6.000 sebagai salah satu level yang perlu dicermati. Selain itu, masih terdapat gap pada grafik yang berpotensi menjadi area pergerakan berikutnya.

Dalam kondisi pasar yang bergejolak, strategi yang digunakan dalam analisis tersebut lebih menekankan pada pencarian peluang secara selektif. Beberapa saham yang sebelumnya diklaim telah dikoleksi disebut mampu memberikan keuntungan sekitar 4 persen, meski terdapat pula posisi yang harus ditutup dengan kerugian.

Dengan demikian, proyeksi rupiah menuju Rp18.775 masih merupakan skenario analisis, bukan kepastian. Pergerakan nilai tukar tetap akan dipengaruhi kebijakan moneter, arus modal, kondisi global, serta sentimen pasar yang berkembang.

Baca Juga: Saham BUMI Turun, Broker Borong Jumbo Terungkap? Ini Analisis dan Level yang Disorot

Editor : Cholifatun Nisak
Sumber : pinterest
Dolar AS kurs rupiah pasar saham indonesia ihsg rupiah melemah