Bukan Sekadar Cari Saham Murah, Ini Cara Screening Saham Potensial 2026

Cholifatun Nisak • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 20:39 WIB
Cara memilih saham potensial 2026 mulai dari screening, valuasi, fundamental, hingga menghindari jebakan value trap.
Cara memilih saham potensial 2026 mulai dari screening, valuasi, fundamental, hingga menghindari jebakan value trap.

 

TRENGGALEK NJENGGELEK- Memilih saham potensial 2026 tidak cukup hanya melihat harga yang sedang murah atau dividen yang terlihat tinggi. Investor perlu melakukan screening, menilai fundamental, menghitung valuasi, hingga memahami alasan pasar memberikan harga tertentu. Strategi tersebut dibagikan Dodi dalam analisisnya untuk membantu investor menemukan saham yang layak masuk watchlist sebelum mengambil keputusan investasi.

Baca Juga: Morgan Stanley Borong Saham GOTO, Transaksi di Bawah Harga Rp50 Jadi Sorotan

Hidup dari Saham, Capital Gain atau Dividen?

Dodi menjelaskan terdapat dua jalur utama untuk memperoleh penghasilan dari investasi saham, yakni capital gain dan dividen. Capital gain diperoleh dari selisih harga jual dan harga beli saham, sedangkan dividen berasal dari pembagian keuntungan perusahaan kepada pemegang saham.

Ia sendiri lebih memilih pendekatan dividen karena dianggap memberikan arus pendapatan yang lebih terukur. Sebagai ilustrasi, investor dengan kebutuhan biaya hidup Rp10 juta per bulan membutuhkan sekitar Rp120 juta per tahun.

Jika portofolio mampu menghasilkan rata-rata dividend yield 5 persen per tahun, secara matematis diperlukan dana sekitar Rp2,4 miliar untuk menghasilkan Rp120 juta dalam setahun.

Namun, dividend yield tinggi tidak otomatis menunjukkan saham tersebut menarik. Yield bisa meningkat karena harga saham mengalami penurunan akibat memburuknya fundamental perusahaan.

Tiga Cara Screening Saham Potensial

Menurut Dodi, pencarian ide investasi perlu dilakukan secara rutin karena kondisi pasar terus berubah. Saham yang sebelumnya mahal dapat menjadi murah, begitu pula sebaliknya.

Cara pertama adalah screening berdasarkan valuasi. Investor dapat mencari saham yang diperdagangkan di bawah estimasi nilai wajarnya, kemudian menelusuri alasan mengapa pasar memberikan diskon tersebut.

Cara kedua adalah menggunakan strategi stock picking yang telah dirancang berdasarkan sejumlah indikator keuangan. Pendekatan ini dapat membantu investor menemukan saham berdasarkan tema atau karakteristik tertentu.

Sementara cara ketiga adalah menentukan kriteria sendiri. Misalnya, investor mencari perusahaan yang konsisten membayar dividen, mencatat laba, memiliki fundamental sehat, dan masih mempunyai ruang kenaikan berdasarkan estimasi nilai wajar.

Dari proses tersebut, investor dapat membuat watchlist sekitar 10 hingga 20 saham untuk dianalisis lebih mendalam.

Jangan Berhenti di Screening

Screening hanya menjadi tahap awal. Dodi menyebut terdapat tiga pertanyaan utama sebelum sebuah saham dipertimbangkan masuk portofolio.

Pertama, good business, yakni apakah perusahaan memiliki bisnis yang layak dimiliki dalam jangka panjang. Aspek yang diperhatikan meliputi model bisnis, pertumbuhan laba, profitabilitas, arus kas, utang, keunggulan kompetitif, dan prospek perusahaan.

Untuk saham dividen, riwayat serta kualitas pembayaran dividen juga menjadi faktor tambahan.

Kedua, good price. Perusahaan bagus belum tentu menjadi investasi bagus jika sahamnya dibeli terlalu mahal. Karena itu, investor perlu memperkirakan nilai wajar saham menggunakan metode valuasi tertentu.

Salah satu pendekatan yang dicontohkan adalah relative valuation dengan menggunakan price to earnings ratio atau PE historis. Dodi memberikan ilustrasi valuasi KLBF dengan asumsi PE wajar 17,5 kali dan laba bersih sekitar Rp3,7 triliun.

Waspadai Value Trap

Pertanyaan ketiga adalah why cheap, atau mengapa pasar memberikan valuasi murah terhadap saham tersebut.

Menurut Dodi, saham dengan PE rendah belum tentu undervalued. Harga murah bisa terjadi karena pasar terlalu pesimistis terhadap masalah sementara, tetapi bisa pula disebabkan persoalan struktural yang membuat kinerja perusahaan berpotensi terus menurun.

Karena itu, investor perlu memahami alasan di balik valuasi murah sebelum membeli saham.

Pada akhirnya, berbagai alat screening dan teknologi AI dapat digunakan untuk menemukan ide saham serta mempercepat analisis. Namun, hasil screening bukan otomatis menjadi rekomendasi pembelian.

Keputusan investasi tetap membutuhkan analisis terhadap bisnis, valuasi, risiko, serta kesesuaian saham dengan tujuan dan profil masing-masing investor.

Baca Juga: Saham BUMI Usai Purbaya Dicopot, Investor Asing dan Transaksi Jumbo Jadi Sorotan

Editor : Cholifatun Nisak
Sumber : pinterest
screening saham investasi saham saham dividen valuasi saham Saham potensial 2026