IHSG 2026 Diprediksi Rebound, 3 Sektor Ini Masuk Watchlist hingga Akhir Tahun

Cholifatun Nisak • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 20:40 WIB
IHSG 2026 diprediksi menuju 7.000–7.500. Simak sektor perbankan, komoditas, konsumer, serta faktor penentunya.
IHSG 2026 diprediksi menuju 7.000–7.500. Simak sektor perbankan, komoditas, konsumer, serta faktor penentunya.

 

TRENGGALEK NJENGGELEK- IHSG 2026 kembali menjadi sorotan setelah mengalami penurunan tajam hingga menyentuh area 5.300-an sebelum berbalik menguat. Investor dan pengamat pasar saham Rifan Kurniawan menilai pemulihan indeks masih memiliki ruang, dengan sektor perbankan, komoditas, dan konsumer premium menjadi perhatian hingga akhir tahun.

Dalam sebuah podcast, Rifan membahas strategi menghadapi volatilitas pasar, kondisi likuiditas, hingga sejumlah faktor yang dinilai dapat menentukan arah IHSG 2026. Ia juga menyoroti kebijakan Bank Indonesia, pergerakan rupiah, harga minyak, serta keputusan MSCI yang menjadi perhatian investor.

Baca Juga: Saham BUMI Usai Purbaya Dicopot, Investor Asing dan Transaksi Jumbo Jadi Sorotan

Strategi Cash Mulai Dipakai Saat IHSG Tertekan

Rifan mengungkapkan sebelumnya mempertahankan porsi kas sekitar 30 persen. Namun, posisi tersebut mulai banyak digunakan ketika pasar mengalami tekanan pada Mei dan Juni 2026.

Menurutnya, saat IHSG berada di sekitar 5.300, terdapat peluang yang dinilai menarik karena penurunan indeks tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental perusahaan. Ia menyebut beberapa portofolio yang dikelolanya tetap mampu mencatat pertumbuhan meski IHSG mengalami tekanan.

Strategi tersebut membuat portofolio contoh yang ia tampilkan dalam podcast masih mencatat pertumbuhan sekitar 4,7–4,8 persen hingga Juni 2026. Rifan menyebut kinerja tersebut kemudian kembali meningkat pada Juli dan Agustus seiring dengan rebound pasar.

Tiga Sektor Jadi Perhatian Investor

Untuk sektor yang masuk watchlist, Rifan menyebut perbankan sebagai salah satu pilihan utama. Menurut dia, peluang kembali masuknya investor asing dapat memberikan sentimen positif terhadap saham bank, terutama bank-bank besar.

Selain perbankan, sektor komoditas juga menjadi perhatian. Ia mencontohkan saham yang berkaitan dengan tembaga yang menurutnya sempat mengalami penurunan besar dari level tertingginya, sementara kinerja bisnis mulai menunjukkan pemulihan.

Sektor ketiga adalah konsumer, terutama perusahaan yang menyasar segmen premium. Rifan mengaitkannya dengan indeks keyakinan konsumen yang menurutnya masih menunjukkan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi.

Likuiditas dan Rupiah Jadi Kunci

Rifan menilai rebound IHSG turut didukung membaiknya likuiditas pasar. Jika sebelumnya nilai transaksi harian sempat berada di sekitar Rp10 triliun, ia menyebut kondisi berikutnya telah bergerak ke kisaran Rp20 triliun.

Ia juga menyoroti pergerakan rupiah. Stabilnya nilai tukar dinilai penting untuk meningkatkan kepercayaan investor asing. Menurut Rifan, ketika likuiditas membaik dan tekanan terhadap rupiah mereda, peluang investor asing kembali masuk ke pasar Indonesia semakin terbuka.

Selain itu, penurunan harga minyak dan laporan keuangan emiten yang dinilai cukup baik juga disebut menjadi faktor pendukung rebound.

MSCI November Jadi Penentu Penting

Perhatian terbesar justru diarahkan pada keputusan MSCI pada November 2026 terkait status Indonesia di pasar saham global. Rifan menyebut terdapat risiko volatilitas apabila ada perubahan klasifikasi sejumlah emiten.

Namun, ia menilai dampak pengumuman dalam waktu dekat dapat lebih terbatas jika tidak terjadi perubahan besar terhadap status Indonesia. Menurutnya, investor perlu mencermati saham yang terdampak langsung daripada melakukan aksi jual terhadap seluruh portofolio.

Ia juga menilai reformasi pasar modal, termasuk peningkatan transparansi kepemilikan dan kebijakan free float, menjadi perkembangan yang perlu diperhatikan.

Target IHSG 2026 di 7.000–7.500

Untuk akhir tahun, Rifan memperkirakan IHSG 2026 berpotensi berada di kisaran 7.000 hingga 7.500. Proyeksi tersebut, menurutnya, bergantung pada tiga faktor utama, yakni keputusan MSCI pada November, stabilitas rupiah, dan perkembangan harga minyak.

Ia menekankan bahwa investor sebaiknya tidak hanya melihat pergerakan IHSG, tetapi juga fundamental emiten. Penurunan indeks yang besar tidak otomatis berarti kinerja bisnis setiap perusahaan ikut turun dengan besaran yang sama.

Dengan kondisi tersebut, Rifan tetap melihat peluang di pasar saham, tetapi mengingatkan investor untuk memperhatikan valuasi, fundamental, dan risiko masing-masing emiten sebelum mengambil keputusan investasi.

Baca Juga: Bukan Sekadar Cari Saham Murah, Ini Cara Screening Saham Potensial 2026

Editor : Cholifatun Nisak
Sumber : pinterest
saham konsumer MSCI Indonesia saham perbankan saham komoditas IHSG 2026