IHSG Tertekan hingga 7.000, Saham BBCA-BBRI Jadi Pemberat Utama

Cholifatun Nisak • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 20:52 WIB
IHSG tertekan menuju level 7.000 di tengah gejolak Timur Tengah. BBCA dan BBRI ikut menjadi pemberat indeks.
IHSG tertekan menuju level 7.000 di tengah gejolak Timur Tengah. BBCA dan BBRI ikut menjadi pemberat indeks.

 

TRENGGALEK NJENGGELEK- IHSG kembali menghadapi tekanan jual di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi geopolitik Timur Tengah dan kenaikan harga minyak mentah dunia. Dalam laporan dari Bursa Efek Indonesia, indeks sempat melemah sekitar 2 persen pada perdagangan pagi setelah sebelumnya ditutup di level 7.097. Sejumlah saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, BBNI dan BMRI turut menjadi pemberat pergerakan indeks.

Tekanan tersebut sejalan dengan sentimen global yang membuat investor cenderung berhati-hati terhadap aset berisiko. Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah pasar saham regional ketika ketidakpastian geopolitik meningkat.

Baca Juga: IHSG Hari Ini Kembali Terkoreksi, MNC Sekuritas Ungkap 4 Saham yang Jadi Sorotan

IHSG Uji Level Psikologis 7.000

Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai IHSG masih menghadapi tekanan akibat ketidakpastian ekonomi global dan sentimen geopolitik. Menurut analisisnya, level 7.000 menjadi area psikologis yang perlu diperhatikan pelaku pasar.

Jika level tersebut mampu dipertahankan, ruang untuk terjadinya technical rebound masih terbuka. Namun, apabila IHSG menembus ke bawah level tersebut, Hendra memperkirakan indeks dapat bergerak menuju area support berikutnya di sekitar 6.917.

Sementara itu, analis WH Project William Hartanto melihat IHSG masih berada dalam fase downtrend. Ia menilai tekanan jual dari pelaku pasar masih menjadi salah satu faktor yang membatasi penguatan indeks.

Kondisi pasar yang volatil juga menjadi perhatian karena tekanan eksternal dapat memengaruhi arus dana investor. Dalam perkembangan yang lebih baru, Hendra juga menyoroti aksi jual bersih investor asing sebagai salah satu faktor yang membuat ruang penguatan IHSG menjadi terbatas.

Harga Minyak di Atas US$100 Jadi Sentimen Pasar

Kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi salah satu perhatian utama. Dalam laporan tersebut, harga minyak WTI dan Brent disebut telah berada di atas US$100 per barel.

Lonjakan harga minyak berkaitan dengan kekhawatiran terhadap pasokan energi akibat ketegangan di Timur Tengah. Kondisi tersebut dapat meningkatkan perhatian investor terhadap inflasi dan prospek ekonomi global.

Tekanan akibat harga minyak juga dapat memberikan dampak berbeda antar sektor. Saham energi secara fundamental berpotensi mendapatkan manfaat dari harga komoditas yang tinggi, tetapi dalam kondisi risk-off, saham sektor tersebut tetap dapat ikut terkoreksi bersama pasar secara keseluruhan. Kondisi serupa pernah terlihat ketika kenaikan harga minyak tidak otomatis membuat IHSG menguat karena investor tetap mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.

BBCA dan BBRI Jadi Pemberat IHSG

Saham perbankan besar menjadi perhatian karena memiliki kapitalisasi dan bobot besar terhadap indeks. Dalam perdagangan yang dibahas, BBCA tercatat melemah sekitar 3,8 persen, sedangkan BBRI turun sekitar 2,3 persen.

Selain itu, BBNI dan BMRI juga berada di zona merah. Saham BUMI dan Energi Mega Persada turut mengalami tekanan.

Pergerakan saham bank besar memang kerap memberikan pengaruh terhadap IHSG. Data perdagangan lain juga menunjukkan BBCA dan BBRI termasuk saham dengan kontribusi besar terhadap pergerakan indeks karena bobotnya yang tinggi.

Investor Masih Menunggu Arah Pasar

Di tengah koreksi, pertanyaan mengenai apakah saham perbankan besar sudah menarik untuk dikoleksi kembali menjadi perhatian. Namun, laporan tersebut belum memberikan kesimpulan bahwa level koreksi saat ini merupakan titik akumulasi yang pasti.

Hendra Wardana justru menekankan pentingnya memperhatikan perkembangan sentimen global, terutama ketegangan geopolitik dan harga minyak. Investor juga perlu mencermati aliran dana asing serta kemampuan IHSG bertahan di sekitar level psikologis 7.000.

Dengan kondisi pasar yang masih sensitif terhadap faktor eksternal, pergerakan IHSG dan saham-saham big cap seperti BBCA, BBRI, BBNI serta BMRI masih akan menjadi perhatian pelaku pasar.

Baca Juga: 4 Saham Gorengan Masuk Watchlist, PZZA hingga MD Pictures Dibidik Trader

Editor : Cholifatun Nisak
Sumber : pinterest
saham BBRI saham BBCA Harga minyak dunia saham perbankan ihsg