TRENGGALEK NJENGGELEK- IHSG menjelang penutupan perdagangan masih berada di zona merah setelah terkoreksi 0,34 persen di level 6.969. Tekanan pasar terlihat dari mayoritas indeks sektoral yang melemah, sementara investor masih bersikap wait and see di tengah ketegangan Timur Tengah dan keputusan FTSE Russell yang mempertahankan status Indonesia sebagai secondary emerging market. Meski demikian, sektor energi justru menguat seiring kenaikan harga komoditas minyak.
Baca Juga: IHSG di Bawah 6.000, BEI Buka Suara soal Tekanan Jual yang Makin Kuat
IHSG Masih Tertekan di Sesi Kedua
Pergerakan IHSG sepanjang perdagangan menunjukkan tekanan yang cukup kuat. Pada sesi pertama, indeks ditutup melemah 0,29 persen di level 6.969.
Memasuki sesi kedua, tekanan belum sepenuhnya mereda. Menjelang penutupan, IHSG masih berada di zona merah dengan koreksi sekitar 0,34 persen.
Aktivitas transaksi juga tetap ramai. Berdasarkan laporan dari Gedung Bursa Efek Indonesia, volume perdagangan berada di kisaran 23 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp3 triliun pada waktu pemantauan menjelang penutupan.
Pada sesi pertama, tercatat sekitar 17,42 miliar saham berpindah tangan dengan nilai transaksi mencapai Rp23 triliun. Sebanyak 371 saham mengalami penurunan, 261 saham menguat, sementara 174 saham lainnya bergerak stagnan.
Delapan Sektor Berada di Zona Merah
Tekanan IHSG tercermin dari pergerakan indeks sektoral. Sebanyak delapan dari 11 indeks sektoral mengalami koreksi pada sesi pertama.
Sektor industrial menjadi salah satu yang mengalami pelemahan paling dalam dengan penurunan sekitar 2,12 persen. Setelahnya terdapat sektor barang konsumen primer yang turun 1,4 persen.
Sektor kesehatan juga terkoreksi 0,76 persen, disusul barang konsumen nonprimer yang melemah 0,70 persen. Transportasi dan logistik turun 0,61 persen, sementara teknologi terkoreksi 0,54 persen.
Sektor barang baku turun 0,48 persen. Sementara itu, sektor properti dan real estate melemah sekitar 0,44 persen.
Di tengah mayoritas sektor yang tertekan, sektor energi justru mencatat penguatan terbesar, yakni sekitar 0,72 persen. Sektor infrastruktur turut menguat 0,38 persen, sedangkan sektor keuangan naik 0,32 persen.
Indonesia Bertahan di Secondary Emerging Market
Salah satu perhatian utama investor datang dari hasil peninjauan FTSE Russell. Dalam laporan yang disampaikan, Indonesia masih dipertahankan dalam kategori secondary emerging market dan belum diturunkan menjadi frontier market.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang dicermati pelaku pasar. Analis pasar modal Wahyu Laksono menyebut keputusan tersebut tidak langsung memicu arus dana keluar dalam skala besar.
Namun, aktivitas investor asing masih menunjukkan tekanan jual. Data yang disampaikan dalam laporan menunjukkan investor asing mencatat net foreign sell sekitar Rp1,38 triliun di seluruh pasar.
Nilai pembelian asing berada di kisaran Rp1,68 triliun, sedangkan nilai penjualan mencapai sekitar Rp3,06 triliun. Kondisi tersebut menunjukkan investor masih cenderung berhati-hati meskipun status Indonesia tetap dipertahankan.
Konflik Timur Tengah Jadi Sentimen Pasar
Selain keputusan FTSE Russell, ketegangan di Timur Tengah turut menjadi perhatian investor. Situasi geopolitik tersebut membuat pelaku pasar memilih menunggu perkembangan lebih lanjut sebelum meningkatkan aktivitas investasi.
Di sisi lain, kenaikan harga komoditas minyak yang berada di atas US$100 per barel memberikan sentimen berbeda bagi sejumlah saham. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membantu sektor energi mencatat penguatan ketika mayoritas sektor lainnya berada di zona merah.
Pelaku pasar kini masih mencermati kombinasi antara arus dana asing, perkembangan geopolitik, harga komoditas, serta arah indeks global.
Dengan IHSG menjelang penutupan yang masih berada di zona merah, investor tampaknya masih membutuhkan katalis baru untuk menentukan arah perdagangan berikutnya. Bertahannya Indonesia di secondary emerging market menjadi salah satu faktor penyeimbang, tetapi tekanan jual asing dan ketidakpastian global masih menjadi perhatian.
Baca Juga: IHSG Usai Purbaya Diganti, Sempat Anjlok Lalu Mendadak Berbalik
Editor : Cholifatun NisakSumber : pinterest