DURENAN, Radar Trenggalek – Dampak kenaikan harga kebutuhan otomotif sejak Mei 2026 masih terasa hingga sekarang. Buktinya, harga sparepart sepeda motor di tingkat bengkel masih bertahan tinggi. Kondisi tersebut membuat pemilik kendaraan harus merogoh kocek lebih dalam untuk melakukan perawatan maupun mengganti komponen yang sudah rusak.
Pemilik Bengkel Sepeda Motor di wilayah, Kecamatan Durenan, Ichsan Rizky mengatakan, kenaikan harga berbagai kebutuhan otomotif mulai terasa sejak akhir April hingga Mei lalu. Meski sudah berlangsung beberapa hampir enak bulan, harga sejumlah barang hingga kini belum kembali ke level sebelumnya.
Kenaikan paling terasa pada oli dan ban luar kendaraan. Hampir seluruh merek oli mengalami penyesuaian harga, termasuk produk yang sebelumnya dikenal sebagai pilihan dengan harga paling terjangkau.
“Kenaikan harga ini sudah berjalan sejak akhir April sampai sekarang. Kalau kita kalkulasi, nilainya bervariasi mulai dari Rp 5 ribu sampai sekitar Rp 20 ribu untuk setiap botol kemasan oli,” ujar Ichsan Rizky.
Baca Juga: Desil Bergeser, Penerima Bansos Berubah Perjuangan Jumlah Penerima Tak Signifikan
Tidak hanya pelumas, harga ban luar juga mengalami kenaikan sejak awal Mei. Sementara untuk ban dalam, menurut Ichsan, harganya masih relatif normal.
“Kalau untuk ban dalam harganya masih relatif normal. Tapi untuk ban luar, harganya naik sekitar Rp 20 ribu per unit,” katanya.
Ichsan mengatakan, kenaikan harga tersebut terjadi pada hampir seluruh merek dan jenis oli yang beredar di pasaran. Bahkan produk yang sebelumnya berada pada segmen harga paling murah ikut mengalami penyesuaian.
“Semua merek tanpa terkecuali ikut naik. Oli yang dulu harganya paling murah sekarang juga naik. Selama dua bulan terakhir, rata-rata kenaikannya mencapai Rp20 ribu,” jelasnya.
Baca Juga: Pameran FJTT Angkat Maestro Sanggar hingga Arsip Jaranan Trenggalek
Harga sejumlah suku cadang sepeda motor juga ikut terdorong naik. Meski kenaikannya tidak selalu sebesar oli dan ban, perubahan harga tetap dirasakan konsumen ketika melakukan penggantian komponen.
“Onderdil juga ikut naik. Memang tidak semua komponen mengalami kenaikan drastis, tetapi hampir semua barang menyesuaikan harga,” katanya.
Ichsan mencontohkan komponen ringan yang sebelumnya dapat diperoleh dengan harga sekitar Rp 45 ribu, kini berada pada kisaran Rp 55 ribu hingga Rp 60 ribu. Selisih tersebut menjadi gambaran bahwa harga kebutuhan perawatan sepeda motor masih belum sepenuhnya kembali seperti sebelumnya.
Menurut Ichsan, salah satu faktor yang mempengaruhi kenaikan harga tersebut adalah penguatan dolar Amerika Serikat terhadap rupiah. Kondisi nilai tukar kemudian ikut berdampak terhadap biaya berbagai produk otomotif yang sampai ke tingkat pengecer.
Baca Juga: Disdik Kirim Surat ke Pusat Dapodik Belum Dibuka Isi Kekosongan Guru
“Faktor utamanya karena dolar menguat dan rupiah melemah. Kondisi itu langsung mendorong kenaikan harga barang-barang otomotif di tingkat retail,” ungkapnya.
Situasi tersebut juga membuat pelaku usaha bengkel lebih berhati-hati dalam mengelola persediaan. Ichsan kini mengurangi pembelian stok dalam jumlah besar karena khawatir harga berubah ketika barang harus kembali dipesan.
“Risikonya terlalu besar kalau kita menyimpan stok terlalu banyak ketika harga belum stabil. Hari ini kita beli dengan harga tertentu, beberapa hari kemudian bisa saja harga sudah berubah saat kita harus restock,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi perubahan harga, pihaknya rutin berkomunikasi dengan sales dari distributor resmi. Informasi tersebut menjadi pertimbangan sebelum melakukan pemesanan barang agar stok yang tersedia tetap sesuai kebutuhan dan kondisi modal usaha.
Baca Juga: Terapkan Sistem Klaster hingga Digitalisasi RME
Di sisi lain, bertahannya harga sparepart pada level tinggi juga dikhawatirkan berdampak terhadap daya beli masyarakat. Sebab, sepeda motor menjadi kendaraan utama bagi banyak warga untuk bekerja dan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Ichsan berharap nilai tukar rupiah kembali menguat sehingga harga kebutuhan otomotif secara bertahap dapat lebih stabil.
“Harapan saya, rupiah bisa segera menguat dan harga-harga kembali normal. Kalau harga kebutuhan ini terus naik, tentu beban masyarakat kecil akan semakin berat,” pungkasnya. (jaz/din)
Editor : Juwita RatnasariSumber : RADAR TRENGGALEK