POGALAN, Radar Trenggalek – Suasana denyut nadi ekonomi yang berbeda kini tengah dirasakan oleh ratusan pedagang di Pasar Bendo, Kecamatan Pogalan.
Sejak sebulan terakhir, riuhnya aktivitas tawar-menawar tidak lagi terdengar di bangunan utama pasar, tetapi bergeser ke area relokasi sementara.
Langkah strategis ini merupakan bagian dari proyek revitalisasi besar-besaran didorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek melalui Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Komidag) Trenggalek.
Revitalisasi Pasar Bendo dinilai menjadi salah satu program prioritas pemkab untuk membenahi fasilitas publik. Pembangunan ini ditargetkan tidak hanya memperbaiki struktur fisik, tetapi juga bertujuan mendongkrak kenyamanan transaksi jual beli yang pada akhirnya akan menggerakkan roda perekonomian masyarakat secara lebih masif.
Pemkab berharap, dengan wajah yang baru, daya saing pasar tradisional di Bumi Menak Sopal tidak akan kalah dengan keberadaan pasar modern.
Baca Juga: Harga Kebutuhan Otomotif Belum Normal
Di sisi lain, antusiasme dan harapan besar juga disuarakan oleh para pedagang akar rumput yang terdampak. Meski harus rela berjualan di tempat penampungan sementara dengan kondisi ruang yang serbaterbatas, mereka memaklumi bahwa ini adalah proses yang harus dilewati menuju perubahan yang lebih baik.
Salah satu pedagang Pasar Bendo, Anis, mengungkapkan keluh kesahnya tentang bangunan lama, sekaligus menaruh asa yang tinggi untuk wujud bangunan yang baru nanti.
Dia sangat berharap proses relokasi dan pembangunan yang memakan waktu dan tenaga ini nantinya benar-benar membawa perubahan positif yang signifikan bagi aktivitas perdagangan sehari-hari. “Pengine (inginnya, Red) lebih maju, nyaman, aman,” ujar Anis saat ditemui di sela-sela aktivitasnya menata barang dagangan.
Menurut dia, kondisi fisik bangunan Pasar Bendo yang lama memang sudah waktunya mendapat sentuhan perbaikan total. Sebab masih ada sejumlah persoalan infrastruktur yang kerap mengganggu kenyamanan, baik bagi para pedagang maupun pembeli yang datang.
Termasuk masalah klasik yang paling sering dikeluhkan dan ditakuti pedagang adalah atap yang bocor saat musim penghujan tiba. “Memang kalau waktu hujan kan bocor, terutama itu. Sebelum hujan sedikit segera diperbaiki,” katanya.
Kondisi atap yang tak lagi layak tersebut acap kali membuat barang dagangan rawan basah dan membuat lorong-lorong pasar menjadi becek dan kumuh.
Lanjut dia, para pedagang telah menempati lapak di lokasi relokasi sementara ini kurang lebih selama satu bulan terakhir. Berdasarkan sosialisasi awal dari dinas terkait, proses perpindahan sekaligus masa pembangunan ini direncanakan akan berlangsung sekitar tiga bulan, hingga bangunan utama siap untuk kembali ditempati dengan fasilitas yang lebih mumpuni. “Pedagang pindah kurang lebih sebulanan,” jelasnya singkat.
Berdasarkan pantauan di lapangan, jumlah pedagang yang terdampak relokasi akibat proyek revitalisasi ini diperkirakan mencapai sekitar 150 pedagang. Untuk menghindari penumpukan dan menjaga ketertiban sirkulasi pengunjung, penempatan lapak sementara tersebut dilakukan secara bertahap.
Area relokasi juga dipecah dan dibagi ke sejumlah titik strategis di sekitar kawasan Pasar Bendo agar roda ekonomi tetap berputar normal tanpa menghambat alat berat dan pekerja proyek. “Relokasi ada yang di sebelah timur bangunan, terus ada yang sebelah barat,” ungkap Anis. (gun/c1/din)
Editor : Adinda Okta FitrianaSumber : RADAR TRENGGALEK