TRENGGALEK JENGGELEK - Nama Anto Wijaya pasti tak asing bagi penikmat sinetron kolosal era 2000-an.
Sosok Anto Wijaya begitu melekat lewat perannya sebagai Prabu Angling Dharma dalam sinetron legendaris berjudul sama yang tayang di Indosiar.
Tak banyak yang tahu bahwa nama asli Anto Wijaya adalah Saptapara Ichtijanto. Ia lahir pada 10 November 1969 di Surabaya.
Kariernya di dunia hiburan bermula dari dunia modeling, hingga akhirnya membintangi sejumlah sinetron kolosal ternama seperti Tutur Tinular, Karmapala, hingga Angling Dharma yang membuat namanya benar-benar melejit.
Setelah sinetron Angling Dharma tamat pada pertengahan 2000-an, Anto Wijaya perlahan mulai menghilang dari layar kaca.
Banyak penggemar yang bertanya-tanya ke mana sang aktor pergi. Rupanya, ia memilih untuk meninggalkan ibu kota dan kembali ke kampung halamannya di Surabaya.
Baca Juga: Film Lokal Kuasai Daftar Terlaris Sepanjang Masa di Indonesia
Kini, Anto Wijaya fokus menjalani usaha di bidang properti. Ia dikenal sebagai salah satu pebisnis properti aktif di kota Pahlawan tersebut.
Meski tak lagi tampil di sinetron, jiwa kepemimpinannya seperti Prabu Angling Dharma tetap terpancar dalam dunia usaha yang ia tekuni.
Baca Juga: Review Film Jalan Pulang, Sebuah Perjalanan Emosional Menuju Kedamaian Hati
Selain sukses dalam karier, kehidupan pribadi Anto Wijaya juga terbilang harmonis. Dia tinggal di Surabaya bersama istri dan tiga anaknya: Arya Narayana Wijaya, Dimas Bima Wijaya, dan Sheila Putri Wijaya.
Keluarga kecil ini kerap tampil kompak di berbagai kesempatan, meski tidak banyak terekspos media.
Meski jauh dari dunia hiburan, Anto Wijaya tetap menjaga hubungan dengan para penggemarnya lewat media sosial.
Ia aktif di Instagram dengan akun @antoichtijanto. Di sana, ia sering membagikan potret kesehariannya, mengenang masa-masa kejayaan sinetron kolosal, hingga memberi motivasi soal hidup dan bisnis.
Meski sudah tidak tampil lagi di layar kaca, Anto Wijaya tetap menjadi legenda hidup dunia sinetron kolosal Indonesia. Karakternya sebagai Prabu Angling Dharma masih dikenang hingga kini. .
Editor : Dharaka R. Perdana