TRENGGALEKNJENGGELEK - Pernyataan soal batik tradisional Malaysia dalam promosi film Fantastic Four kembali menyulut perdebatan warganet di media sosial.
Dalam sesi interview pemain Fantastic Four, batik dikenalkan sebagai budaya tradisional Malaysia sehingga memicu respons tajam warganet.
Penyebutan batik tradisional Malaysia oleh kreator konten Malaysia–Inggris, Mark O’Dea, dalam acara bersama tim Fantastic Four dianggap menyesatkan.
Kejadian bermula dari video promosi film The Fantastic Four: First Steps yang menampilkan seluruh pemeran utama memegang kain bermotif batik, termasuk Pedro Pascal.
Mark O’Dea sebagai host acara menyebut kain itu sebagai sesuatu yang sangat tradisional di Malaysia.
Pernyataan singkat itu langsung menimbulkan respons negatif dari publik tanah air.
Unggahan ulang potongan video tersebut ramai dibahas di berbagai platform media sosial, terutama X dan Instagram.
Warganet Indonesia menilai pernyataan Mark bisa mengaburkan sejarah dan asal-usul batik yang sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya takbenda Indonesia sejak 2009.
Beberapa akun bahkan langsung menuliskan protes mereka di kolom komentar Instagram milik Mark.
Salah satu komentar warganet berbunyi, "batik amba lan titik (bahasa Jawa), kwkwkw mana ada dari malay", ditulis akun @iamyourbae77.
Ada pula yang menegaskan, "Memang benar batik itu kosakata bahasa Jawa", tulis akun @sigittricahyono.
"Coraknya aja tipikal corak Indonesia timur tuh, kok bisa-bisanya”, komentar @pandamerahku.
Menanggapi gelombang komentar tersebut, Mark akhirnya memberi klarifikasi di akun Instagram pribadinya @markodea8.
Ia menyatakan tidak bermaksud mengklaim batik sebagai budaya asli Malaysia, melainkan hanya menyebut bahwa batik juga sangat umum dijumpai di Malaysia.
Ia juga menyampaikan permintaan maaf jika penyebutan tersebut menimbulkan kesalahpahaman.
Meski begitu, reaksi warganet Indonesia tetap menunjukkan betapa sensitifnya isu klaim budaya di tengah hubungan antarnegara Asia Tenggara.
Batik telah lama menjadi simbol identitas budaya Indonesia sehingga banyak pihak merasa perlu meluruskan narasi tentang asal-usulnya.
Isu batik tradisional Malaysia yang muncul dari sesi promosi Fantastic Four ini seolah memperlihatkan pentingnya literasi budaya di level internasional.
Warganet berharap, ke depan, penyebutan budaya seperti batik bisa disampaikan tanpa mengaburkan sejarahnya.
Editor : Akhmad Nur Khoiri