JAKARTA – Sebuah video yang memperlihatkan seorang siswa sekolah dasar (SD) berangkat sekolah sendirian menggunakan KRL dari Tangerang menuju Jakarta Timur tengah menjadi sorotan publik.
Aksi penuh keberanian dan kedisiplinan tersebut menuai banyak pujian dari warganet karena dianggap menunjukkan semangat belajar yang luar biasa.
Video yang diunggah oleh seorang pengguna media sosial itu memperlihatkan seorang bocah dengan seragam sekolah lengkap menaiki KRL dari Stasiun Parung Jaya, Kota Tangerang.
Ia tampak duduk tenang sambil membawa tas sekolah, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan menuju SDN Klender 4, Jakarta Timur, tempatnya bersekolah.
Berangkat Sejak Subuh, Tekad Belajar yang Tak
Dalam narasi video, pengunggah menyebut bahwa bocah tersebut merupakan siswa kelas 1 SD yang baru berusia sekitar enam atau tujuh tahun.
Meski demikian, ia sudah terbiasa menempuh perjalanan jauh seorang diri setiap pagi.
“Hafithar ini anak yatim bang.
Tadi bincang-bincang silaturahmi sama ibu guru semua.
Orangnya welcome semua,” tulis pengunggah video tersebut.
Diketahui, siswa kecil bernama Hafithar itu harus berangkat sejak subuh untuk mengejar waktu masuk sekolah.
Perjalanan dari Parung Jaya ke Klender membutuhkan waktu hampir satu jam lebih, tergantung kondisi jadwal dan kepadatan penumpang.
Aksi berangkat sekolah sendirian ini pun dinilai sebagai bukti bahwa ia memiliki tekad kuat untuk tetap mengejar pendidikan meskipun dalam kondisi kurang beruntung.
Baca Juga: Lee Kwang Soo Tampil di Panggung, Lee Sun Bin Beri Gestur Menggemaskan di Blue Dragon Awards 2025
Viral di Media Sosial, Warganet Kagum dengan Keberaniannya
Tidak butuh waktu lama, video tersebut langsung viral dan menuai berbagai respons dari warganet.
Banyak yang terharu sekaligus bangga melihat perjuangan seorang anak kecil yang berani bepergian jauh demi menuntut ilmu.
“ANAK SEKECIL ITU BERKELAHI DENGAN WAKTU,” tulis seorang netizen, menggambarkan betapa luar biasanya kedisiplinan Hafithar.
Netizen lainnya juga memberikan komentar yang tak kalah menyentuh.
“Hebat banget dek, anak SD loh.
Gimana reaksi orang sekitar atau guru-gurunya? Mereka tahu nggak sih dia berangkat jam berapa? Semoga viral biar bisa dibantu orang dermawan,” ujar pemilik komentar.
Respons positif ini membuat banyak warganet berharap ada uluran tangan dari pihak sekolah, pemerintah daerah, atau para dermawan untuk membantu meringankan beban hidup Hafithar agar ia bisa bersekolah dengan lebih nyaman.
Baca Juga: YouTuber Indonesia Menang Lomba Mr Beast, Kisah Azrealon Bikin Bangga dan Viral di Media Sosial
Reaksi Guru dan Lingkungan Sekolah
Pengunggah video menyatakan bahwa guru-guru di SDN Klender 4 menerima Hafithar dengan baik.
Mereka tampak mengetahui kondisi keluarga siswa tersebut dan berusaha memberikan perhatian ekstra agar proses belajarnya tetap berjalan lancar.
Lingkungan sekolah yang ramah dan suportif menjadi salah satu hal yang membuat publik semakin tersentuh.
Banyak warganet yang menilai bahwa dukungan dari pihak sekolah sangat penting bagi siswa seperti Hafithar agar dapat terus berprestasi meski berada dalam situasi sulit.
Baca Juga: Ayu Ting Ting Bongkar Alasan Gagal Menikah dan Kriteria Pria Idaman “Ini Bukan Pembelaan!”
Potret Ketangguhan dan Kemandirian Sejak Dini
Fenomena ini sekaligus menunjukkan bagaimana sebagian anak di Indonesia harus menghadapi perjuangan mental dan fisik setiap hari untuk memperoleh pendidikan.
Jarak yang jauh dan keterbatasan ekonomi tidak mematahkan semangat mereka untuk bersekolah.
Kisah Hafithar menjadi contoh inspiratif bahwa keinginan untuk belajar dapat mengalahkan segala keterbatasan.
Kemandiriannya yang sudah terbentuk sejak dini turut membuat masyarakat terkesan dan berharap kisah ini mendapat perhatian lebih luas.
Harapan Warganet: Ada Bantuan untuk Masa Depannya
Di antara banyak komentar yang membanjiri video tersebut, sebagian besar berharap agar Hafithar mendapatkan bantuan pendidikan.
Mulai dari biaya transportasi, beasiswa, hingga pendampingan khusus bagi anak yatim seperti dirinya.
Banyak pula yang mengusulkan agar pihak pemerintah daerah atau layanan sosial turun tangan melihat perjuangan Hafithar setiap hari.
Kisah ini menjadi pengingat bagi banyak orang bahwa masih ada anak-anak yang harus berjuang keras untuk meraih pendidikan berkualitas.
Semoga kepedulian yang muncul dari publik dapat membuka jalan bagi masa depan Hafithar yang lebih baik. (*)