Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Broken Strings Aureli Mormans Viral dan Picu Polemik, Memoar Luka Remaja hingga Suara Keberanian Setelah Lama Diam

Axsha Zazhika • Rabu, 14 Januari 2026 | 18:30 WIB
Broken Strings Aureli Mormans Viral dan Picu Polemik, Memoar Luka Remaja hingga Suara Keberanian Setelah Lama Diam
Broken Strings Aureli Mormans Viral dan Picu Polemik, Memoar Luka Remaja hingga Suara Keberanian Setelah Lama Diam

TRENGGALEK NJENGGELEK - Nama Broken Strings Aureli Mormans kembali menjadi perbincangan hangat publik. Bukan karena perannya di layar kaca, melainkan lewat buku memoar pertamanya berjudul Broken Strings: Fragments of A Stolen Youth. Buku tersebut mendadak viral setelah potongan ceritanya beredar luas di media sosial dan menyentuh empati banyak warganet.

Dalam sejumlah unggahan di Instagram, Aureli Mormans—yang akrab disapa Oril—menjelaskan bahwa Broken Strings adalah kisah nyata perjalanan hidupnya. Ditulis dari sudut pandang pribadi, memoar ini mengisahkan pengalaman masa remaja saat ia berusia 15 tahun dan berada dalam relasi yang tidak seimbang dengan sosok yang usianya jauh lebih dewasa. Tanpa menyebut nama, Broken Strings Aureli Mormans menggambarkan pengaruh kuat, kendali emosional, hingga proses panjang untuk menyelamatkan dan memulihkan dirinya.

Aureli mengungkapkan bahwa buku Broken Strings sejatinya tidak pernah diniatkan untuk dipublikasikan. Ia menulisnya sebagai bagian dari proses healing. Dorongan orang terdekat membuatnya akhirnya berani membagikan kisah tersebut ke publik dengan harapan dapat membantu korban lain yang mengalami situasi serupa.

Ditulis untuk Healing, Dibagikan demi Edukasi

Aureli Mormans mengaku bukan penulis profesional. Ia menulis Broken Strings tanpa editor dan bahkan mengerjakan desain sampulnya sendiri. Ketidaksempurnaan teknis tersebut justru memperkuat kesan jujur dalam buku ini. Menurut Aureli, menulis memoar tersebut menjadi cara untuk memahami luka lama yang selama bertahun-tahun ia pendam.

Tanggal rilis buku, 10 Oktober, disebut sebagai tanggal yang traumatik baginya. Aureli sengaja memilih tanggal tersebut sebagai bentuk rekonsiliasi dengan masa lalu. Ia juga memutuskan membagikan Broken Strings secara gratis agar kisahnya dapat diakses siapa saja tanpa batasan.

Respons Publik Mengalir Deras

Sejak dirilis, Broken Strings Aureli Mormans telah dibaca puluhan ribu orang dan menuai respons luas. Dukungan datang dari warganet hingga figur publik. Presenter Hesti Purwadinata mengaku tersentuh dan kagum atas keberanian Aureli menuliskan kisah yang berat namun penting.

Banyak pembaca menilai memoar ini membuka mata tentang isu relasi tidak sehat di usia muda yang masih kerap luput dari perhatian. Buku tersebut juga memantik diskusi soal trauma, keberanian berbicara, serta pentingnya pemulihan diri.

Spekulasi dan Polemik Nama

Namun, viralnya Broken Strings juga memunculkan spekulasi. Sejumlah netizen menuding pesinetron Robi Tremonti sebagai sosok pria yang diduga diceritakan dalam buku tersebut. Padahal, Broken Strings sama sekali tidak menyebut nama siapa pun.

Merasa disudutkan, Robi Tremonti akhirnya angkat bicara melalui siaran langsung di media sosial. Ia mengaku telah memilih diam selama bertahun-tahun meski merasa dihina dan dituduh tanpa bukti. Pernyataan tersebut justru membuat polemik semakin memanas.

Tak lama berselang, Aureli Mormans kembali muncul lewat media sosial, termasuk video TikTok yang diduga menjadi respons. Ia menegaskan sejak awal niatnya hanya berbagi pengalaman hidup, bukan menyerang atau menuding pihak tertentu.

Klarifikasi Status Pernikahan dan Aspek Hukum

Dalam pernyataannya, Aureli juga menyinggung soal status pernikahan secara Katolik. Ia menjelaskan tentang annulment atau pembatalan pernikahan yang menyatakan pernikahan tidak sah sejak awal. Menurut Aureli, dokumen gereja yang sudah tidak berlaku tidak bisa digunakan untuk membuktikan adanya pernikahan sah.

Ia menegaskan bahwa penggunaan dokumen tidak sah untuk menyebarkan klaim tertentu dapat masuk kategori informasi menyesatkan dan berpotensi menjadi fitnah atau pencemaran nama baik. Secara hukum, hal tersebut dapat diproses jika disertai bukti yang kuat.

“Diam Adalah Pilihan, Bukan Kewajiban”

Salah satu pernyataan Aureli Mormans yang banyak dikutip warganet adalah, “Diam adalah pilihan, bukan kewajiban.” Menurutnya, selama ini ia memilih diam bukan karena takut, melainkan demi menjaga diri sendiri. Namun setiap pilihan, katanya, memiliki batas.

Meski sempat mengalami peretasan akun media sosial setelah Broken Strings dirilis, Aureli menegaskan bahwa ceritanya tidak bisa dihapus. Ia mengumumkan bahwa Broken Strings versi bahasa Indonesia akan hadir dalam bentuk fisik dengan penyempurnaan isi, sampul baru, dan ilustrasi tambahan.

Kini, Broken Strings Aureli Mormans tak lagi sekadar memoar pribadi. Kisah ini telah menjelma menjadi cermin bagi banyak orang tentang keberanian berbicara, menghadapi luka masa lalu, dan keyakinan bahwa pemulihan selalu mungkin terjadi.

Editor : Axsha Zazhika
#Buku Memoar Artis #Aureli Mormans #Trauma dan pemulihan #Broken Strings Aureli Mormans #Polemik Selebriti