TRENGGALEK NJENGGELEK -Buku Broken Strings Aureli Moremans kembali menjadi sorotan publik setelah viral di media sosial. Memoar yang ditulis selebritas Aureli Moremans itu mengungkap pengalaman masa lalu yang kelam, ketika ia mengaku menjadi korban child grooming sejak usia muda. Kisah tersebut tidak hanya menggugah emosi pembaca, tetapi juga membuka diskusi luas tentang bahaya kejahatan seksual terhadap anak.
Dalam Buku Broken Strings Aureli Moremans, Aureli secara terbuka menceritakan bagaimana proses manipulasi itu terjadi secara perlahan. Ia menggambarkan hubungan yang awalnya tampak penuh perhatian, namun perlahan berubah menjadi relasi yang tidak sehat dan merugikan secara psikologis. Pengakuan ini membuat buku tersebut viral dan ramai dibahas warganet.
Child Grooming dalam Perspektif KPAI
Menanggapi isu yang mencuat dari Broken Strings, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) turut angkat bicara. Melalui unggahan di akun Instagram resminya, KPAI menjelaskan bahwa child grooming merupakan modus kejahatan di mana pelaku mendekati anak, membangun kepercayaan, lalu memanipulasi korban untuk tujuan eksploitasi.
Komisioner KPAI Dian Sasmita menegaskan bahwa child grooming masuk dalam ranah kekerasan seksual terhadap anak. Menurutnya, praktik ini kerap disalahartikan sebagai bentuk kasih sayang atau perhatian, padahal di dalamnya terdapat unsur manipulasi dan relasi kuasa yang tidak setara.
“Grooming itu pasti ada unsur manipulatif. Dalam kerangka perlindungan anak, bujuk rayu dan tipu muslihat adalah bagian dari kekerasan terhadap anak,” tegas Dian. Ia juga menekankan bahwa masyarakat dan aparat penegak hukum tidak boleh permisif atau menormalisasi praktik tersebut.
Luka Psikologis Korban Child Grooming
Melalui Buku Broken Strings Aureli Moremans, publik diajak melihat dampak panjang child grooming terhadap korban. Aureli mengungkap bahwa pengalaman tersebut meninggalkan luka psikologis mendalam yang mempengaruhi perjalanan hidupnya hingga dewasa. Keberaniannya berbagi cerita menuai apresiasi luas sekaligus membuka ruang diskusi tentang pentingnya perlindungan anak.
Isu ini kemudian dibahas lebih jauh dalam program Kompas TV dengan menghadirkan psikolog anak, remaja, dan keluarga, Sani Budiantini. Ia menjelaskan bahwa child grooming sering kali tidak disadari oleh korban karena prosesnya berlangsung bertahap dan memanfaatkan kebutuhan emosional anak.
Tahapan Grooming yang Kerap Tak Disadari
Menurut Sani, pelaku biasanya masuk melalui hal-hal yang menyenangkan bagi anak, seperti menjadi pendengar yang baik atau memberi validasi emosional. Dari situ, pelaku membangun kepercayaan hingga menciptakan ketergantungan emosional. Anak kemudian diarahkan untuk menyimpan rahasia dan menjauh dari orang tua atau lingkungan terdekat.
“Anak jadi lebih terbuka pada pelaku, tapi tertutup pada orang tua. Ini yang berbahaya,” ujar Sani. Ia menambahkan bahwa pelaku tidak selalu orang asing, melainkan bisa berasal dari lingkungan terdekat, seperti tetangga atau kenalan keluarga.
Peran Orang Tua dan Lingkungan
Kasus Broken Strings Aureli Moremans menjadi pengingat pentingnya peran orang tua dalam mencegah child grooming. Sani menekankan bahwa orang tua harus membangun komunikasi terbuka dan tidak menunggu anak bercerita lebih dulu. Edukasi tentang batasan relasi dan keamanan digital juga dinilai krusial, mengingat banyak kasus berawal dari media sosial, game online, atau percakapan pribadi.
Tanda-tanda anak menjadi korban child grooming antara lain perubahan perilaku, menjadi lebih tertutup, sering berkomunikasi secara rahasia, serta enggan berbagi cerita dengan keluarga. Dalam situasi tersebut, orang tua diminta tidak menghakimi atau menyalahkan anak.
“Ketika anak berani bicara, jangan disalahkan. Jika orang tua menyalahkan, anak akan semakin menutup diri,” kata Sani.
Langkah Penanganan Korban
Jika anak terlanjur menjadi korban child grooming, langkah pertama yang disarankan adalah mencari bantuan profesional. Proses asesmen psikologis, terapi, hingga pendampingan jangka panjang diperlukan untuk mencegah dampak trauma berkepanjangan.
Fenomena yang diangkat melalui Buku Broken Strings Aureli Moremans ini diharapkan menjadi pembuka mata masyarakat tentang bahaya child grooming. Edukasi, kewaspadaan, serta komunikasi yang sehat antara anak dan orang tua dinilai sebagai kunci utama untuk melindungi generasi muda dari kejahatan serupa.
Editor : Ichaa Melinda Putri