JAKARTA – Nama Ernest Prakasa kembali menjadi sorotan setelah sejumlah film yang ia produksi mencetak angka penonton fantastis di bioskop. Dalam sebuah podcast, Ernest Prakasa secara terbuka mengungkap strategi, pemikiran, hingga rahasia di balik kesuksesan film-film yang diproduksinya hingga mampu menembus jutaan penonton.
Bagi Ernest Prakasa, angka penonton memang penting. Namun, sutradara sekaligus produser tersebut menegaskan bahwa kesuksesan film tidak semata diukur dari jumlah penonton yang besar.
“Buat saya angka penonton itu penting, tapi hanya sebatas agar kita bisa terus berkarya. Itu cukup untuk membiayai kebahagiaan kita sebagai seniman,” ujar Ernest Prakasa.
Menurut Ernest Prakasa, pencapaian angka penonton yang sangat besar sering kali tidak bisa diprediksi. Bahkan, ia mengaku pernah menganggap salah satu kesuksesan filmnya hanya sebagai keberuntungan karena momentum tertentu.
Ernest Prakasa: Angka Penonton Bukan Tujuan Utama
Ernest Prakasa menjelaskan bahwa dirinya tidak pernah menetapkan target jumlah penonton secara spesifik sebelum sebuah film dirilis. Baginya, proses kreatif jauh lebih penting daripada sekadar mengejar angka.
Ia mencontohkan saat salah satu filmnya berhasil meraih jutaan penonton. Menurutnya, kondisi sosial dan momentum saat itu ikut mempengaruhi keberhasilan film tersebut.
Karena itulah, Ernest lebih memilih menjadikan pencapaian besar tersebut sebagai modal untuk bereksperimen dengan ide-ide baru dalam industri film.
“Kalau film berhasil besar, itu memberi kami kesempatan untuk mencoba hal-hal yang lebih berani,” kata Ernest.
Ia juga menilai industri film Indonesia masih penuh tantangan. Tidak sedikit produser yang hanya mampu menciptakan satu film hit, namun kesulitan mengulang kesuksesan tersebut di proyek berikutnya.
Alasan Ernest Prakasa Mengajak Komika di Film
Salah satu ciri khas film yang diproduksi Ernest Prakasa adalah sering melibatkan komika atau stand-up comedian. Hal ini kerap memunculkan pertanyaan dari publik, apakah langkah tersebut dilakukan untuk menghemat biaya produksi atau sekadar memberi kesempatan bagi para komika.
Ernest pun memberikan penjelasan yang cukup menarik.
Menurutnya, memilih komika bukan semata soal biaya produksi. Ia justru menilai komedian memiliki kemampuan alami untuk menghadirkan komedi yang autentik di layar.
“Kalau kita bikin film komedi, ya logisnya kita cari komedian. Sama seperti film action yang mencari fighter,” jelasnya.
Selain itu, Ernest juga mengaku ingin memberi ruang bagi komika yang belum terlalu dikenal agar bisa mendapatkan eksposur lebih luas di industri hiburan.
Ia menyebut banyak komika yang sebenarnya sangat berbakat, namun belum memiliki panggung yang cukup besar untuk menunjukkan kemampuan mereka.
Strategi Menilai Film Layak Diproduksi atau Tidak
Sebagai produser, Ernest Prakasa juga mengungkapkan bahwa salah satu tugas terpenting adalah menghitung risiko produksi sejak awal.
Biasanya, ia akan membaca naskah film dan langsung memperkirakan besaran biaya produksi yang dibutuhkan. Dari situ, ia juga mencoba memprediksi potensi jumlah penonton yang mungkin diraih.
Jika perhitungan tersebut masih realistis, proyek film akan dilanjutkan. Namun jika tidak, maka tim produksi biasanya akan melakukan penyesuaian konsep.
“Ketika baca skrip, kita sudah punya bayangan kira-kira budgetnya berapa. Lalu kita hitung, dengan cerita seperti ini kira-kira penontonnya realistisnya berapa,” ujarnya.
Pendekatan ini dinilai penting karena industri film membutuhkan keseimbangan antara idealisme kreatif dan keberlanjutan bisnis.
Tantangan Genre Film di Indonesia
Ernest juga menyoroti bahwa selera penonton Indonesia masih didominasi oleh beberapa genre tertentu.
Menurut pengamatannya, film komedi dan horor masih menjadi dua genre yang paling konsisten mendatangkan penonton dalam jumlah besar.
Selain itu, drama keluarga juga cukup kuat di pasar film Indonesia karena tema tersebut sangat dekat dengan kehidupan masyarakat.
Namun, genre lain seperti thriller politik atau film spionase masih sulit menembus pasar bioskop dalam negeri.
Padahal, Ernest mengaku sangat tertarik membuat film dengan konsep seperti itu.
“Kalau bikin film seperti itu, tantangannya besar. Biayanya mahal dan belum tentu penontonnya banyak,” ungkapnya.
Ernest Prakasa Optimistis Industri Film Indonesia Bisa Mendunia
Meski menghadapi berbagai tantangan, Ernest tetap optimistis industri film Indonesia memiliki peluang besar untuk menembus pasar global.
Ia menilai Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat besar sehingga bisa menjadi sumber inspirasi cerita yang unik.
Bahkan, beberapa karya kreatif dari Indonesia mulai dilirik negara lain untuk diadaptasi atau dibuat ulang dalam versi lokal.
“Indonesia sangat kaya budaya. Itu modal besar untuk industri kreatif kita berkembang ke tingkat global,” katanya.
Ke depan, Ernest Prakasa juga mengungkapkan rencananya merilis beberapa proyek film baru yang diharapkan dapat memberikan warna berbeda di industri perfilman nasional. (*)
Editor : Adinda Putri Sefiana