Trenggaleknjenggelek – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Mataram menetapkan dan menahan AF, Ketua Yayasan sebuah pondok pesantren (Ponpes) di Kecamatan Gunung Sari, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), atas dugaan kekerasan seksual terhadap belasan santri. Dalam aksinya AF berperan layaknya Walid dalam serial Bidaah yang saat ini tengah viral.
Kasat Reskrim Polres Mataram, AKP Regi Halili, mengatakan bahwa penetapan status tersangka dilakukan setelah polisi melakukan pemeriksaan terhadap pelaku dan sejumlah korban. “Dari pemeriksaan, pelaku mengakui semua perbuatannya,” kata Regi seperti yang dihimpun Trenggaleknjenggelek dari berbagai sumber, Kamis (24/4/2025).
Baca Juga: Walid, Sosok Pemimpin Karismatik dan Kontroversial dalam Drama Bidaah
Menurut Regi, AF dijerat dalam dua perkara sekaligus, yakni pencabulan dan persetubuhan. “Sementara ini sudah ada 10 orang yang melapor, dan tadi pagi datang lagi tiga orang pelapor baru,” ujarnya.
Dalam melancarkan aksinya, AF menggunakan berbagai modus. Salah satunya dengan mendatangi santri yang sedang tidur lalu melakukan tindakan tak senonoh. Ketika korban terbangun, AF berdalih hanya membangunkan karena melihat bayangan lewat.
Baca Juga: Memaknai Sosok Ayah, Antara Abi dan Walid dalam Perspektif Al Quran
Korban lain dijebak dengan dalih spiritual. Mereka dipanggil ke ruang AF dan diminta meminum air liurnya yang diberikan melalui mulut. Pelaku menjanjikan bahwa tindakan itu akan memberi kemuliaan dan menjadikan mereka orang tua dari anak-anak yang akan membawa cahaya bagi desa.
“Para korban ini memandang pelaku sebagai tokoh agama, guru, sekaligus orang tua mereka di pondok, sehingga tak berani menolak,” jelas Regi.
AF mengakui kepada penyidik bahwa perbuatannya telah berlangsung sejak 2015 hingga 2021. Ia mengaku tidak menghitung pasti jumlah korban. “Sekitar sepuluhan orang,” katanya.
Baca Juga: Sosok Walid dalam Film Bidaah Juga Ada di Indonesia, Kisah Imam Mahdi Palsu dan Korbannya
Pelaku juga menyatakan tidak memilih korban secara khusus. “Kadang-kadang tertuju pada seseorang. Saya mengajarkan doa kepada mereka sekaligus mengijazahkan,” ujarnya saat diperiksa.
Kasus ini mencuat setelah sejumlah korban melapor dengan pendampingan dari Lembaga Perlindungan Anak Kota Mataram dan Koalisi STOP Kekerasan Seksual pada pekan lalu. Polisi memastikan akan terus mendalami kasus ini, termasuk membuka kemungkinan jumlah korban yang lebih besar.(jaz)