Trenggaleknjenggelek – Film asal Malaysia berjudul Bidaah menjadi pemantik keberanian bagi para santriwati di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), untuk melaporkan dugaan pelecehan dan kekerasan seksual yang dilakukan pimpinan pondok pesantren mereka. Tokoh fiktif “Walid” dalam film tersebut menjadi cermin bagi para korban atas pengalaman traumatis yang selama ini mereka simpan rapat.
Sebanyak tujuh korban kini telah melaporkan kasus tersebut ke Polresta Mataram, didampingi oleh politikus Partai NasDem Cucu Purnamasari Z S.Psi, kuasa hukum korban Teguh Gunawan SH, serta Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram, Joko Jumadi. Mereka juga berkonsultasi dengan akademisi hukum Universitas Mataram, Prof Widodo Dwi Putro, untuk memperkuat aspek yuridis dalam penanganan perkara.
“Kasus ini terkuak karena para korban menonton film Bidaah, di mana tokoh Walid memiliki modus dan posisi serupa dengan pelaku. Dari situ mereka sadar bahwa apa yang mereka alami adalah penipuan dan pelecehan,” ujar Cucu Purnamasari dalam keterangan tertulisnya, Rabu (23/4/2025).
Baca Juga: Walid, Sosok Pemimpin Karismatik dan Kontroversial dalam Drama Bidaah
Pelaku yang dilaporkan bernama Ahmad Faisal (AF), pimpinan Ponpes Nabi Nubu di Desa Kekait, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat. Ia diduga melakukan kekerasan seksual terhadap santriwati sejak 2016 hingga 2023. Berdasarkan investigasi awal, AF menggunakan dalih spiritual untuk meyakinkan korban, di antaranya dengan menjanjikan keberkahan di rahim santriwati agar kelak melahirkan anak-anak yang menjadi wali.
Ketua LPA Kota Mataram Joko Jumadi menyebut, hingga kini pihaknya telah mengidentifikasi setidaknya 20 korban.
“Dari jumlah itu, sekitar 10 orang mengalami persetubuhan, sisanya menjadi korban pencabulan, mulai dari perabaan hingga manipulasi psikologis,” kata Jumadi.
AF diduga kerap melakukan pelecehan di ruang kelas pondok pesantren saat santri lainnya tengah beristirahat malam. Modusnya adalah memanggil korban satu per satu ke dalam ruangan tersebut.
“Pelecehan ini terjadi secara sistematis dan dalam waktu yang panjang,” tambahnya.
Baca Juga: Memaknai Sosok Ayah, Antara Abi dan Walid dalam Perspektif Al Quran
Sebagian besar korban merupakan alumni ponpes tersebut. Mereka mengaku selama ini enggan berbicara karena pelaku dianggap sebagai tokoh agama, guru, dan orang tua. Namun, setelah menyadari kesamaan jalan cerita yang mereka alami dengan tokoh Walid dalam film Bidaah, para korban mulai saling menghubungi dan memutuskan untuk melapor ke polisi.
Kasat Reskrim Polresta Mataram AKP Regi Halili membenarkan laporan tersebut. “Pelaku saat ini sudah kami amankan. Penahanan dilakukan untuk menjaga situasi agar tetap kondusif,” ujarnya. Polisi juga masih mendalami laporan-laporan lain dan terus mengembangkan penyelidikan terhadap kasus ini.
Pihak kepolisian mengapresiasi keberanian para korban dan menjanjikan penanganan yang serius dan menyeluruh atas laporan tersebut.(jaz)