TRENGGALEK NJENGGELEK-Perjalanan mendaki kawasan Gunung Halimun dari arah Pelabuhan Ratu, Sukabumi, menghadirkan pengalaman berbeda ketika tiba di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut. Di sana berdiri sebuah komunitas adat Sunda yang masih kokoh memegang warisan leluhur: Kasepuhan Gelar Alam, yang sebelumnya dikenal sebagai Kasepuhan Cipta Gelar.
Tersembunyi di kaki Gunung Halimun, Kasepuhan Gelar Alam menjadi potret kehidupan masyarakat tradisional yang hidup selaras dengan alam. Sistem pertanian dijalankan tanpa bahan kimia, penanaman padi mengikuti kalender adat, dan seluruh tatanan kehidupan diatur berdasarkan nilai leluhur.
Pusat kegiatan adat berada di Imah Gede, rumah besar yang menjadi kediaman sekaligus tempat musyawarah pemimpin adat, Abah Ugi. Bangunan sakral ini menjadi titik sentral berbagai ritual, termasuk upacara Seren Taun atau panen raya yang digelar setahun sekali dan mampu menarik ribuan orang, bahkan hingga mancanegara.
Imah Gede, Simbol Harmoni Manusia dan Alam
Imah Gede dibangun dengan konsep rumah panggung berbahan kayu dan bambu. Dindingnya berupa bilik bambu, atapnya menggunakan daun, sementara tiang-tiangnya dirancang kokoh tanpa sentuhan material modern. Secara filosofis, rumah panggung dianggap sebagai perlindungan dari berbagai arah: aman dari bawah karena berkolong, terlindung dari atas oleh atap, dan kuat dari samping oleh anyaman bambu.
Di dalamnya, ruang luas mampu menampung banyak tamu yang menginap. Setiap hari selalu ada pengunjung datang dan pergi. Namun pihak kasepuhan menegaskan, wilayah ini bukan tempat wisata komersial.
“Tidak ada harga untuk makan atau menginap,” demikian prinsip yang dijalankan. Setiap tamu diperlakukan sebagai saudara. Jika ingin memberi, itu dianggap sebagai ungkapan terima kasih, bukan transaksi jual beli.
Kasepuhan Gelar Alam menekankan bahwa mereka adalah komunitas adat yang sedang menjalankan tugas leluhur, bukan destinasi pariwisata. Meski demikian, tamu tetap diterima dengan syarat mengikuti tatanan adat, seperti mengenakan ikat kepala bagi laki-laki.
Pindah Kampung Tanpa Alat Berat
Salah satu hal paling mencengangkan adalah proses perpindahan kampung. Setelah 2015, lokasi Kasepuhan Cipta Gelar dipindahkan ke titik baru yang kini disebut Gelar Alam. Seluruh infrastruktur—mulai dari Imah Gede, lumbung padi, hingga rumah warga—dipindahkan secara gotong royong.
Tanpa alat berat, ribuan warga bahu-membahu membangun kembali kampung di lokasi baru. Dalam satu kali gotong royong, tercatat hingga 3.000 orang terlibat. Hasilnya, dalam waktu kurang dari tiga tahun, kawasan baru telah tertata rapi meski masih terlihat tanah merah bekas pembukaan lahan.
Semangat kolektif ini menjadi bukti kuatnya budaya gotong royong yang masih hidup di tengah modernisasi.
Lumbung Padi untuk 95 Tahun
Salah satu kebanggaan Kasepuhan Gelar Alam adalah deretan lumbung padi atau “leuit”. Padi disimpan dalam bentuk bulir dan diyakini tetap “hidup”, sehingga tidak mengenal kedaluwarsa.
Berdasarkan perhitungan internal, total cadangan padi di seluruh kasepuhan mencapai sekitar 12.000 leuit. Jumlah tersebut diperkirakan mampu mencukupi kebutuhan pangan komunitas hingga 95 tahun.
Ada satu lumbung yang disakralkan, yakni Leuit Si Jimat. Letaknya dekat kediaman pemimpin adat dan berfungsi sebagai tabungan komunal. Jika terjadi gagal panen atau paceklik, cadangan dari leuit ini dapat digunakan untuk kebutuhan bersama.
Di tengah isu nasional tentang ketahanan pangan, model pengelolaan tradisional ini menunjukkan pendekatan berbeda: menjaga hutan, merawat lahan, dan mempertahankan varietas padi lokal tanpa eksploitasi berlebihan.
Dapur Besar dan Kehidupan di Atas 1.000 Mdpl
Kehidupan di Gelar Alam berlangsung sederhana namun mandiri. Dapur umum berukuran besar selalu aktif sejak pukul tiga dini hari. Makanan disiapkan untuk warga, tamu, hingga pekerja ladang dan pengurus ternak.
Meski menggunakan tungku kayu, dapur tidak dipenuhi asap berlebihan. Sirkulasi udara yang baik dan konstruksi tradisional membuat asap langsung terbuang ke atas.
Air bersumber langsung dari mata air pegunungan dan mengalir tanpa henti. Di ketinggian lebih dari 1.000 mdpl, udara terasa sangat dingin bahkan di siang hari. Rumah-rumah tidak membutuhkan pendingin udara; suhu alami sudah cukup sejuk.
Akses menuju kawasan ini memang menantang. Jalanan licin dan berbatu membuat kendaraan penggerak empat roda menjadi pilihan utama. Namun medan sulit itu justru menjadi bagian dari identitas dan ketahanan komunitas.
Kasepuhan Gelar Alam membuktikan bahwa modernitas tidak selalu harus menghapus tradisi. Di tengah derasnya perubahan zaman, masyarakat adat ini tetap teguh menjaga filosofi hidup selaras dengan alam, membangun dengan bahan alami, serta menguatkan ketahanan pangan berbasis kearifan lokal.
Editor : Ichaa Melinda Putri