Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Heboh Anggota Brimop Pukul Siswa Pakai Helm hingga Tewas di Tual: Kronologi dan Penahanan Pelaku.

Isna Dzikirianti • Senin, 23 Februari 2026 | 15:43 WIB

Siswa di Maluku tewas diduga dipukul helm oleh oknum Brimob. Kasusnya kini dalam penyelidikan aparat berwenang.
Siswa di Maluku tewas diduga dipukul helm oleh oknum Brimob. Kasusnya kini dalam penyelidikan aparat berwenang.

JAKARTA- Kota Tual, Maluku – Peristiwa memilukan terjadi di ruas jalan RSUD Maren, Desa Viditan, Kecamatan Pulau Dula Utara, Kota Tual, Maluku, kamis (19/2/2026).

Seorang remaja berusia 14 tahun, Arianto Tawakal, siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Maluku Tenggara, meninggal dunia diduga akibat penganiayaan yang dilakukan anggota Kompi 1 Batalyon C Pelopor Satuan Brimob Polda Maluku berinisial MS Bripda Masia Siahaya.

Insiden bermula saat korban tengah berboncengan sepeda motor bersama kakaknya, Nasri Karim, siswa kelas 10 MTsN Maluku Tenggara, seusai melaksanakan salat subuh.

Baca Juga: Pencucian Uang Ramai Dibahas, Ini Pengertian, Modus, dan Dampak Besar Pencucian Uang bagi MasyarakatBaca Juga: Pencucian Uang Ramai Dibahas, Ini Pengertian, Modus, dan Dampak Besar Pencucian Uang bagi Masyarakat

Berdasarkan keterangan saksi, tiba-tiba terduga pelaku menghentikan keduanya dan langsung memukul Arianto menggunakan helm. Korban terjatuh dari sepeda motor dengan posisi menyamping dan terseret beberapa meter di atas aspal.

“Kami sempat sadar, tapi saya lihat dia mengalami pendarahan dari mulut dan hidung serta benturan di bagian belakang kepala,” ujar Nasri Karim.

Nasri sendiri mengalami patah tangan dan kini masih menjalani perawatan medis di RSUD Karel Satsuitubun. Arianto yang dilarikan ke rumah sakit, sekitar pukul 13.00 WIT dinyatakan meninggal dunia.

Kronologi Dugaan Penganiayaan

Menurut Nasri, ia sempat mendengar seorang anggota Brimob menegur rekannya, “Kenapa pukul pakai helm?” Ia juga membantah dugaan bahwa dirinya dan adiknya terlibat aksi balap liar sebelum insiden.

Kasat Reskrim Polresta Tual, Iptu Aji Prakoso Trisaputra, membenarkan peristiwa ini dan menyatakan bahwa terduga pelaku telah diamankan untuk menjalani pemeriksaan.

Baca Juga: Fakta Persidangan Korupsi Terungkap: Tiga Huruf Partai Disinggung, Wamen Akui Salah dan Sebut Praktik Sudah Ada Sejak 2012

“Anggota yang bersangkutan sudah ditahan di rumah tahanan Polresta Tual, dan kami sedang melakukan olah tempat kejadian perkara serta pemeriksaan saksi,” kata Iptu Aji.

Sementara itu, Kapolresta Tual, AKBP Wansi Desmoro, juga memastikan bahwa proses hukum terhadap anggota Brimob tersebut berjalan.

Pihak kepolisian menegaskan akan mengusut kasus ini secara transparan, termasuk memastikan motif dan kronologi lengkap penganiayaan yang menimbulkan kemarahan publik.

Tanggapan Keluarga dan Publik

Keluarga korban menuntut agar kasus ini diusut tuntas dan pelaku mendapat sanksi sesuai hukum yang berlaku.

Mereka menekankan pentingnya transparansi dan ketegasan aparat penegak hukum dalam menangani kasus yang menyita perhatian masyarakat Maluku ini.

Kasus ini menjadi sorotan publik karena melibatkan anggota aparat keamanan.

Baca Juga: KPK Bongkar Korupsi Impor Bea Cukai, 6 Tersangka Ditangkap, Barang Bukti Rp40,5 Miliar Disita!

Insiden yang menimpa Arianto menimbulkan keprihatinan luas, terutama terkait profesionalisme aparat dalam menjaga keamanan dan menegakkan hukum tanpa kekerasan berlebihan.

Proses Hukum dan Penyelidikan

Pihak kepolisian Polresta Tual masih melakukan penyelidikan untuk memastikan kronologi dan motif di balik penganiayaan. Saksi-saksi yang berada di lokasi, termasuk kakak korban, telah dimintai keterangan.

Meski Danat Brimob Polda Maluku, Kombes Irfan Marpaung, belum memberikan pernyataan rinci, ia menegaskan bahwa informasi resmi berada di bawah kewenangan Polresta Tual.

Kejadian ini menjadi peringatan bagi seluruh aparat keamanan tentang pentingnya prosedur operasional standar dalam menjalankan tugas, terutama saat berinteraksi dengan masyarakat sipil.

Penggunaan kekerasan yang berlebihan, seperti dalam kasus ini, tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga mempengaruhi kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian.

Hingga kini, proses hukum terhadap MS Bripda Masia Siahaya terus berlangsung. Aparat kepolisian berkomitmen untuk mengungkap fakta secara tuntas dan memastikan keadilan bagi korban serta keluarganya.

Baca Juga: Pencucian Uang: Modus “Menghalalkan” Duit Haram dari Korupsi hingga Usaha Fiktif, Begini Cara Kerjanya

Publik juga diminta bersabar menunggu hasil penyelidikan resmi yang akan menjawab seluruh pertanyaan mengenai kronologi dan motif insiden tragis ini.

Peristiwa tragis ini mengingatkan masyarakat dan aparat keamanan akan pentingnya penegakan hukum yang profesional dan manusiawi.

Kejadian yang menimpa Arianto Tawakal kini menjadi sorotan nasional, sekaligus panggilan bagi pihak berwenang untuk menegakkan transparansi dan akuntabilitas dalam setiap tindakan yang dilakukan oleh anggota kepolisian.(*)

Editor : Adinda Putri Sefiana
#maluku #Brimob Polda #Desa Viditan #penganiayaan #pukul siswa