Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Ledakan Petasan Ponorogo Tewaskan Pelajar SMP, Satu Korban Luka Bakar 80 Persen Jelang Magrib.

Isna Dzikirianti • Rabu, 4 Maret 2026 | 15:19 WIB

Ledakan petasan di Ponorogo tewaskan pelajar SMP, satu korban luka bakar 80 persen jelang magrib di Desa Ploso Jenar.
Ledakan petasan di Ponorogo tewaskan pelajar SMP, satu korban luka bakar 80 persen jelang magrib di Desa Ploso Jenar.

JAKARTA - Ledakan petasan Ponorogo kembali memakan korban jiwa. Peristiwa tragis itu terjadi di Dusun Cuet, Desa Ploso Jenar, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Minggu (1/3/2026) sore menjelang magrib.

Ledakan petasan Ponorogo tersebut mengguncang rumah milik Minten di RT 02 RW 02 Desa Ploso Jenar. Satu pelajar SMP dilaporkan meninggal dunia di lokasi kejadian, sementara satu remaja lainnya mengalami luka bakar berat hingga 80 persen dan harus menjalani perawatan intensif di RSUD Bantarangin Ponorogo.

Insiden ledakan petasan Ponorogo ini sontak membuat warga sekitar panik. Suara dentuman keras terdengar hingga radius beberapa ratus meter dari lokasi kejadian.

Dentuman Keras Jelang Magrib

Salah satu saksi mata, Siswanto, mengaku mendengar suara ledakan yang sangat dahsyat. Ia langsung bergegas menuju lokasi setelah mendengar teriakan warga.

“Ledakannya dahsyat. Saya dengar langsung ke sini,” ungkap Siswanto saat ditemui di lokasi kejadian, Minggu malam.

Saat tiba di lokasi, ia mendapati dua korban sudah tergeletak. Korban meninggal dunia diketahui berinisial R, pelajar kelas 3 SMP yang juga merupakan anak pemilik rumah.

Sedangkan korban luka berat berinisial T, warga Desa Morosari, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo.

Petugas kepolisian yang datang ke lokasi langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan memasang garis polisi untuk mengamankan area.

Korban Luka Bakar 80 Persen

Dari keterangan awal pihak kepolisian, korban meninggal dunia masih berstatus pelajar SMP. Sementara satu korban lainnya mengalami luka bakar serius hampir di seluruh tubuhnya.

“Korban dua orang. Satu meninggal dunia inisial R, masih kelas 3 SMP. Yang kedua inisial T mengalami luka bakar kurang lebih 80 persen,” jelas petugas di lokasi.

Korban luka langsung dilarikan ke RSUD Bantarangin untuk mendapatkan penanganan medis intensif. Hingga berita ini ditulis, kondisi korban masih dalam perawatan dan belum bisa dimintai keterangan.

Diduga Meracik Bahan Petasan

Berdasarkan hasil olah TKP sementara, ledakan diduga terjadi saat korban tengah meracik atau membuat bahan mercon. Namun, polisi masih mendalami penyebab pasti ledakan tersebut.

“Informasi sementara berdasarkan olah TKP, diduga merakit atau meracik bahan mercon. Namun, akan kami dalami lagi dan koordinasikan untuk memastikan apakah benar bahan tersebut untuk petasan,” terang petugas.

Sejumlah barang bukti turut diamankan dari lokasi kejadian. Polisi belum merinci secara detail jenis bahan yang ditemukan dan masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.

Tradisi Petasan Saat Ramadan

Peristiwa ledakan petasan Ponorogo ini kembali menyoroti tradisi petasan dan balon udara yang kerap muncul saat bulan Ramadan. Di Ponorogo, kebiasaan menerbangkan balon udara yang disertai petasan memang sudah menjadi fenomena tahunan.

Namun, tradisi tersebut sering kali menimbulkan bahaya, baik kebakaran maupun korban jiwa akibat ledakan bahan peledak rakitan.

Petugas kepolisian mengimbau masyarakat, khususnya warga Ponorogo, agar tidak lagi membuat atau menyalakan petasan.

“Sudahlah hindari membuat petasan. Tidak ada untungnya. Terbukti dengan kejadian sebelumnya dan saat ini ada korban meninggal dunia,” tegasnya.

Ia juga meminta seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban selama bulan puasa agar Ponorogo tetap aman dan kondusif.

Warga Diminta Waspada

Kasus ini menambah daftar panjang insiden ledakan mercon di wilayah Ponorogo. Aparat menegaskan akan meningkatkan patroli dan pengawasan guna mencegah kejadian serupa terulang.

Masyarakat diminta tidak tergiur membuat petasan rakitan karena risiko ledakan sangat tinggi. Selain melanggar hukum, aktivitas tersebut juga membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Peristiwa memilukan di Dusun Cuet ini menjadi pengingat keras bahwa tradisi tanpa pengawasan dan keselamatan dapat berujung petaka.

Satu nyawa melayang, satu lainnya berjuang antara hidup dan mati akibat ledakan petasan Ponorogo yang kembali terjadi jelang Ramadan.(*)

Editor : Adinda Putri Sefiana
#PETASAN RAMADHAN #ledakan petasan Ponorogo #tragedi #RSUD Bantarangin #Desa Ploso Jenar