JAKARTA – Polemik dugaan pemerasan yang menyeret nama Imanuel Ebeneser memanas. Dalam pernyataan terbarunya, ia secara tegas membantah tuduhan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait praktik pemerasan terhadap pengusaha PJK3.
Imanuel bahkan menyebut kasus ini sarat agenda politik. Dalam penjelasannya, Imanuel menegaskan tidak ada satu pun pengusaha PJK3 yang mengaku menjadi korban pemerasan.
Ia justru mengklaim kehadirannya di Kementerian Ketenagakerjaan membawa perubahan signifikan, terutama dalam menghapus praktik pemberian uang nonteknis. “Sejak 2024 sampai 2025, praktik-praktik pemberian uang seperti itu tidak ada lagi,” ujarnya.
Bantahan Keras dan Tuduhan Balik
Imanuel Ebeneser menyebut tuduhan yang diarahkan kepadanya sebagai bentuk serangan balik dari pihak-pihak yang selama ini merasa terganggu dengan kebijakannya. Ia mengaku telah melakukan sejumlah inspeksi terhadap praktik-praktik yang merugikan pekerja, seperti penahanan ijazah, outsourcing bermasalah, hingga sistem magang yang dinilai tidak manusiawi.
Menurutnya, praktik magang yang berlangsung hingga bertahun-tahun merupakan bentuk kejahatan sosial yang dibiarkan. Ia juga menyoroti pembatasan usia kerja yang dinilai memperparah pengangguran.
“Harusnya yang diburu itu pengusaha yang memeras buruh, bukan saya yang membuat kebijakan,” tegasnya.
Ia bahkan menyebut ada koalisi pengusaha yang berusaha menjatuhkannya karena merasa terancam. Tak hanya itu, Imanuel juga melontarkan kritik keras terhadap aparat penegak hukum yang dinilainya tidak objektif.
Seret Isu Politik dan Partai
Dalam pernyataannya, Imanuel juga menyinggung dinamika politik nasional. Ia menyebut Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sebagai partai dengan basis massa loyal yang kuat, sehingga menjadi sasaran serangan politik.
Menurutnya, tidak hanya PDIP, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) juga menjadi target dalam dinamika politik saat ini. Ia menganggap kasus yang menimpanya tidak lepas dari agenda politik besar yang sedang berlangsung.
“Ini ada agenda politik besar. Publik nanti yang akan menilai,” katanya.
Pemerintah Pastikan BBM Subsidi Aman
Di sisi lain, isu ketahanan fiskal dan BBM subsidi 2026 juga mencuat dalam pembahasan. Pemerintah memastikan anggaran negara tetap aman meskipun harga minyak dunia berpotensi naik hingga 100 dolar AS per barel.
Menteri Keuangan menegaskan bahwa pemerintah telah melakukan berbagai simulasi (exercise) untuk menjaga stabilitas anggaran. Dengan asumsi harga minyak di level tersebut, defisit anggaran masih bisa dijaga di kisaran 2,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
“Dengan asumsi rata-rata 100 dolar, kita masih aman sampai akhir tahun,” jelasnya.
Bantalan Anggaran dan SAL Rp420 Triliun
Pemerintah juga memiliki bantalan fiskal berupa Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang kini mencapai Rp420 triliun. Dana ini menjadi cadangan penting jika terjadi lonjakan harga minyak yang tidak terkendali.
Selain itu, pemerintah memastikan subsidi BBM tidak akan naik hingga akhir tahun 2026. Kebijakan ini diambil untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus stabilitas ekonomi nasional. “Kita punya pertahanan berlapis. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir,” tambahnya.
Isu Keuangan Negara Dibantah
Munculnya isu bahwa kas negara hanya cukup untuk dua minggu juga dibantah keras. Pemerintah menilai kabar tersebut tidak berdasar dan justru menyesatkan publik.
Menurut Menteri Keuangan, perencanaan anggaran telah dilakukan secara matang dengan berbagai skenario, termasuk kemungkinan terburuk dari fluktuasi harga energi global.
“Dari desain anggaran saja kita masih di bawah 3 persen. Itu artinya masih sangat aman,” tegasnya.
Transparansi Jadi Sorotan
Meski demikian, sejumlah pihak di parlemen menyoroti pentingnya transparansi dalam pengelolaan anggaran, terutama terkait subsidi energi. Perhitungan tambahan beban subsidi akibat kenaikan harga minyak dinilai perlu dijelaskan secara terbuka.
Dengan dinamika ini, polemik antara Imanuel Ebeneser dan KPK serta isu ketahanan fiskal negara dipastikan masih akan menjadi perhatian publik dalam waktu dekat. (*)
Editor : Adinda Putri Sefiana