Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Boikot Drama Korea Menggema di ASEAN, Rasisme Netizen Korsel Picu Ancaman Serius bagi Industri Hiburan Korea Selatan

Adinda Putri Sefiana • Rabu, 18 Februari 2026 | 15:26 WIB

Ilustrasi gelombang boikot drama Korea di Asia Tenggara usai dugaan rasisme netizen Korsel memicu kemarahan publik Indonesia dan ASEAN.
Ilustrasi gelombang boikot drama Korea di Asia Tenggara usai dugaan rasisme netizen Korsel memicu kemarahan publik Indonesia dan ASEAN.

JAKARTA - Gelombang boikot drama Korea kini menggema di Asia Tenggara. Seruan tersebut muncul setelah rasisme yang diduga dilakukan sejumlah netizen Korea Selatan terhadap warga ASEAN, termasuk Indonesia, viral di media sosial.

Konflik ini bahkan disebut-sebut berpotensi mengganggu citra dan industri hiburan Korea Selatan di pasar terbesar mereka, yakni Asia Tenggara.

Isu ini bermula dari unggahan bernada rasis yang menyerang film Indonesia Lara Ati. Sejumlah akun media sosial asal Korea Selatan diduga menghina kualitas film dan menyebut aktornya berpenampilan “kampungan”.

Baca Juga: Kenapa Cewek Suka Cowok Good Looking? Temukan Alasan Psikologis Dibalik Daya Tarik Fisik

Tak berhenti di situ, komentar tersebut juga merendahkan warga Asia Tenggara yang dianggap inferior dan ingin “menjadi orang Korea”.

Reaksi keras pun muncul. Netizen Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya menyerukan boikot drama Korea sebagai bentuk protes. Seruan ini cepat menyebar dan menjadi trending topic di berbagai platform digital.

Awal Mula Konflik

Perseteruan sebenarnya sudah memanas sejak konser grup band asal Korea Selatan, Day6, yang digelar di Bukit Jalil, Malaysia.

Saat itu, seorang fansite asal Korea membawa kamera profesional berukuran besar yang dianggap mengganggu penonton lain. Pihak penyelenggara melarang penggunaan kamera tersebut.

Namun, teguran tersebut justru memicu adu argumen antara fans Korea dan penonton lokal Malaysia. Dari insiden kecil itu, perdebatan merembet ke media sosial dan berkembang menjadi saling serang antar netizen.

Situasi semakin memburuk ketika sejumlah akun asal Korea melontarkan komentar bernada rasis, termasuk menyamakan warga Indonesia dengan hewan. Unggahan tersebut memicu kemarahan besar di kawasan ASEAN.

Baca Juga: 9 Artis Indonesia Disangka Beragama Islam, Ternyata Menganut Agama Hindu: Ade Rai hingga Happy Salma Terungkap

Dampak Boikot Drama Korea

Seruan boikot drama Korea tak hanya berupa tagar semata. Sejumlah warganet mengaku berhenti menonton drakor dan menyerukan penghentian konsumsi produk budaya Korea, mulai dari musik K-pop hingga produk fesyen.

Dampak ekonomi mulai diperbincangkan. Asia Tenggara selama ini dikenal sebagai pasar besar bagi industri hiburan Korea Selatan.

Berdasarkan laporan Media Partners Asia (MPA), jumlah pelanggan berbayar layanan streaming di lima negara utama ASEAN—Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand, dan Singapura—telah melampaui 61 juta akun.

Indonesia sendiri menjadi salah satu kontributor terbesar. Bahkan, kunjungan wisatawan Indonesia ke Korea Selatan pada 2025 disebut mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah, mendekati 500 ribu orang.

Jika separuh saja dari jumlah tersebut membatalkan perjalanan atau berhenti mengonsumsi konten Korea, dampaknya dinilai signifikan terhadap sektor pariwisata dan industri hiburan Negeri Ginseng.

Tak hanya itu, saham SM Entertainment sempat dilaporkan mengalami penurunan sekitar 3 persen di tengah sentimen negatif tersebut.

Meski fluktuasi saham dipengaruhi banyak faktor, sentimen publik tetap menjadi variabel penting dalam industri hiburan.

Persaingan Konten Lokal Meningkat

Di sisi lain, dominasi drama Korea di Asia Tenggara kini tak lagi absolut. Konten orisinal Indonesia dilaporkan mengalami pertumbuhan signifikan. Pasar film Indonesia tumbuh 19 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pasar hiburan digital di ASEAN semakin kompetitif. Jika sentimen negatif terhadap Korea Selatan terus berkembang, peluang bagi konten lokal dan regional untuk mengambil alih pangsa pasar semakin terbuka lebar.

Beberapa pengamat menilai konflik ini dapat menjadi ancaman citra (image crisis) bagi Korea Selatan.

Selama ini, keberhasilan gelombang Hallyu mulai dari K-pop, drama, hingga pariwisata ditopang oleh dukungan kuat penggemar internasional, termasuk dari Indonesia dan negara ASEAN lainnya.

Baca Juga: Fenomena Content Creator dan Perannya dalam Dunia Hiburan

Isu Rasisme dan Regulasi

Isu rasisme di Korea Selatan sebenarnya bukan hal baru. Sejumlah lembaga internasional pernah mendorong pengesahan undang-undang anti diskriminasi yang lebih tegas. Persoalan budaya homogen dan minimnya regulasi disebut menjadi salah satu faktor.

Namun demikian, tidak semua warga Korea Selatan mendukung tindakan rasis tersebut. Di media sosial, muncul pula dukungan dari netizen Eropa dan bahkan sebagian warga Korea yang mengecam komentar rasis tersebut.

Baca Juga: Pernikahan Ranti Maria dan Rain Wijaya Resmi Digelar di Bali, Tangis Haru Pecah di Intimate Wedding Berlatar Laut

Kini, pertanyaannya: apakah boikot drama Korea akan benar-benar berdampak jangka panjang? Ataukah ini hanya gelombang emosi sesaat di media sosial?

Yang jelas, Asia Tenggara—terutama Indonesia—memegang peran penting dalam ekosistem industri hiburan Korea Selatan. Jika relasi ini retak, efek domino bisa merambat ke sektor digital, musik, film, hingga pariwisata.

Publik pun menanti, apakah akan ada klarifikasi resmi atau langkah rekonsiliasi dari pihak terkait untuk meredam konflik ini sebelum berdampak lebih luas. (*)

Editor : Adinda Putri Sefiana
#boikot drama Korea #Netizen Indonesia #Day6 Malaysia #Rasisme netizen Korea Selatan #Industri hiburan Korea