JAKARTA - Perdamaian suporter Indonesia kembali mencuat setelah hubungan The Jak Mania dan Bonek semakin harmonis, bahkan saling bertamu ke kandang lawan. Fenomena ini memicu desakan agar PSSI tidak hanya menjatuhkan sanksi, tetapi juga memberikan apresiasi terhadap upaya damai yang dilakukan para suporter.
Perdamaian suporter Indonesia kini memasuki fase baru. Tidak lagi sekadar wacana, tetapi sudah terlihat nyata di lapangan. Salah satu momen penting terjadi ketika The Jak Mania bertandang ke Surabaya dan diterima dengan baik oleh Bonek. Bahkan, jumlah suporter yang hadir mencapai lebih dari 5.000 orang.
“Kalau cuma akur di stadion itu biasa. Tapi ini mereka keliling kota Surabaya, bebas, enggak ada yang ganggu. Itu luar biasa,” ujar tokoh suporter Persija, Feri, dalam perbincangan yang dikutip dari tayangan YouTube.
Fenomena ini menjadi bukti bahwa konflik yang telah berlangsung lebih dari dua dekade mulai mencair. Permusuhan yang disebut bermula sejak tahun 2000 kini perlahan digantikan dengan komunikasi dan kerja sama antar kelompok suporter.
Kronologi Perdamaian Suporter Indonesia yang Dimulai dari Akar Rumput
Perdamaian suporter Indonesia tidak terjadi secara instan. Prosesnya berlangsung bertahun-tahun dan dimulai dari inisiatif kecil di tingkat akar rumput.
Feri menjelaskan, awal mula hubungan baik antara The Jak Mania dan Bonek dirintis oleh komunitas kecil seperti Green Nord. Mereka mulai dengan langkah sederhana, seperti menampung suporter tamu yang melintas di Surabaya.
“Awalnya cuma ratusan, lama-lama jadi ribuan. Kemarin itu lebih dari 5.000 Jak Mania hadir di Surabaya,” jelasnya.
Proses ini disebut memakan waktu sekitar tiga tahun hingga akhirnya tercipta kepercayaan penuh. Bahkan, komunikasi antar suporter kini dilakukan secara rutin, baik di Jakarta maupun Surabaya.
Tak hanya itu, momentum penting lainnya terjadi ketika The Jak Mania memberikan perlindungan kepada Bonek saat melakukan aksi demonstrasi ke PSSI beberapa tahun lalu. Peristiwa tersebut menjadi titik balik hubungan kedua kelompok.
Regulasi PSSI Dipertanyakan, Polisi Justru Izinkan Suporter Tamu
Di tengah menguatnya perdamaian suporter Indonesia, regulasi PSSI terkait larangan suporter tamu justru menuai kritik.
Feri mempertanyakan dasar aturan tersebut. Ia mengaku pernah meminta bukti surat dari FIFA yang disebut menjadi dasar larangan, namun hingga kini belum pernah diperlihatkan.
“Katanya ada surat FIFA, tapi sampai sekarang enggak pernah ditunjukkan. Jadi dasarnya apa?” tegasnya.
Menariknya, pihak kepolisian justru memberikan izin kepada suporter tamu untuk hadir, seperti yang terjadi di Surabaya. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai sinkronisasi kebijakan antara federasi dan aparat keamanan.
“Ini bukan pertandingan antar negara. Ini sepak bola dalam negeri, kenapa harus dilarang?” tambahnya.
Sebagai alternatif, muncul usulan menarik dari kalangan suporter. Jika kerusuhan bisa berujung pengurangan poin, maka pertandingan yang berlangsung damai seharusnya mendapat tambahan poin.
“Kalau aman, damai, kenapa enggak dikasih reward? Tambah poin misalnya,” ujarnya.
Dampak Positif dan Harapan Masa Depan Perdamaian Suporter Indonesia
Perdamaian suporter Indonesia dinilai membawa dampak besar, tidak hanya bagi keamanan pertandingan, tetapi juga bagi perkembangan sepak bola nasional.
Feri optimistis bahwa tren positif ini akan diikuti oleh kelompok suporter lain, termasuk rival besar seperti Viking dan Aremania. Ia menilai kesadaran akan kerugian konflik mulai tumbuh di kalangan suporter.
“Sekarang tinggal masalah ego saja. Siapa yang mau mulai duluan,” katanya.
Baca Juga: Yamaha Aerox Disebut Motor Paling Sempurna, Tapi Kenapa Kalah Telak dari Honda Vario 160?
Ia juga menekankan pentingnya peran senior dalam membimbing generasi muda suporter. Menurutnya, arahan yang jelas akan membantu mengurangi provokasi, terutama dari media sosial yang sering memperkeruh suasana.
“Yang susah itu sekarang media sosial. Banyak yang provokasi, tapi kita enggak tahu siapa,” jelasnya.
Ke depan, ia berharap PSSI tidak hanya fokus pada hukuman, tetapi juga memberikan apresiasi terhadap inisiatif damai yang telah dilakukan suporter.
“Jangan cuma menghukum. Upaya damai ini harus dihargai,” tegasnya.
Baca Juga: Lucky Shio 2026: Chinese Zodiac Signs Expected to Attract Wealth and Career Success
Sebagai penutup, perdamaian suporter Indonesia yang ditunjukkan oleh The Jak Mania dan Bonek menjadi bukti bahwa rivalitas tidak harus berujung konflik. Dengan komunikasi yang konsisten dan dukungan semua pihak, sepak bola Indonesia berpeluang menjadi ruang hiburan yang aman, inklusif, dan mempersatukan.
Editor : Axsha Zazhika