TRENGGALEK NJENGGELEK – Dibukanya kembali pendakian Gunung Semeru tentu membuat para pecinta alam gembira.
Meskipun ada beberapa pembatasan, namun mereka tetap bakal menikmati pemandangan di jalur menuju Gunung Semeru via Ranupani.
Namun di balik statusnya sebagai gunung tertinggi di Pulau Jawa, Gunung Semeru namun juga memiliki kisah asal-usul sakral yang tercatat dalam Kitab Tantu Pagelaran.
Baca Juga: Pendakian Gunung Semeru Hanya Melalui Ranupani, Ini Alasan Resmi TNBTS
Dalam kitab tersebut, Semeru dikenal sebagai Mahameru, gunung suci yang diyakini sebagai poros alam semesta.
Kitab Tantu Pagelaran, yang ditulis pada abad ke-14, mengisahkan bagaimana Pulau Jawa pada awalnya terombang-ambing di lautan, tidak stabil dan selalu bergerak.
Para dewa dari kahyangan menjadi khawatir dan mencari cara untuk menyeimbangkan tanah Jawa agar layak dihuni.
Baca Juga: Pendakian ke Gunung Semeru Sudah Dibuka Lagi, TNBTS Ungkap Persyaratannya
Atas titah Dewa Brahma dan Dewa Wisnu, para dewa memutuskan untuk memindahkan Gunung Mahameru dari India ke Pulau Jawa sebagai penyeimbang.
Namun, saat Mahameru dipindahkan dan diletakkan di bagian barat, pulau Jawa masih saja miring ke timur.
Karena itu, bagian dari Mahameru dipotong kecil-kecil dan dijatuhkan di berbagai tempat di Jawa untuk menjadi gunung-gunung lain.
Baca Juga: Kenali Kesalahan Fatal Jadi Mendaki Tektok Gunung Sehari
Sementara puncak utama Mahameru akhirnya diletakkan di bagian timur Pulau Jawa dan menjadi Gunung Semeru seperti yang dikenal sekarang.
Dalam kepercayaan kuno, Mahameru adalah gunung pusat alam semesta, tempat bersemayamnya para dewa dan sumber dari segala kehidupan.
Masyarakat Jawa kuno percaya bahwa Semeru adalah poros kosmis yang menghubungkan dunia bawah (bhur), dunia manusia (bwah), dan dunia para dewa (swah).
Maka tak heran hingga kini, Semeru masih dianggap sebagai gunung suci, tempat spiritualitas tertinggi di tanah Jawa.