Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Kehebatan Kapal Jung Jawa Pantang Diremehkan: Keunggulan dan Asal Penamaan

Dharaka R. Perdana • Jumat, 30 Mei 2025 | 06:47 WIB
Kapal di lepas pantai Jawa seperti yang digambarkan oleh Lodewijcks, The First Dutch Expedition (Amsterdam, 1598).
Kapal di lepas pantai Jawa seperti yang digambarkan oleh Lodewijcks, The First Dutch Expedition (Amsterdam, 1598).

TRENGGALEK NJENGGELEK - Kapal Jung adalah sejenis kapal layar, yang banyak terdapat di Asia Tenggara hingga ke pantai timur Afrika. 

Jung (juga disebut jong atau hutan) adalah jenis kapal layar kuno yang berasal dari Jawa, dan digunakan secara umum oleh pelaut Jawa dan Melayu.

Jung digunakan sebagai kapal penumpang dan kapal laut, dapat mencapai Ghana atau bahkan Brasil di zaman kuno. 

Baca Juga: Yuk Kenalkan 5 Perahu Tradisional dari Beberapa Daerah di Indonesia, Nomor 5 Konon untuk Mata-mata

Bobot muatan rata-rata adalah 4-500 ton, dengan kisaran 85-700 ton. Pada zaman Majapahit kapal jenis ini digunakan sebagai kapal perang, tetapi masih dominan sebagai kapal angkut.

Anthony Reid mengutip, istilah Jung digunakan pertama kali dalam catatan-catatan Rahib Odorico, John de Marignolli, dan Ibn Battuta pada abad ke 14.

Asal usul kata “jung” menurut Manguin dari bahasa Jawa sebagai sebutan kapal, hal ini dapat ditelusuri dalam prasasti Jawa kuno abad ke 9.

Baca Juga: Selain Kunting, Ada Ragam Perahu Tradisional di Pantai Prigi Sebagai Identitas Maritim Nelayan Trenggalek

Tatkala pelaut Portugis mencapai Asia Tenggara pada awal tahun 1500-an mereka menemukan kawasan ini membicarakan kapal-kapal Jung Jawa. 

Kapal dagang milik orang Jawa ini menguasai jalur rempah-rempah yang sangat vital, antara Maluku, Jawa, dan Malaka. Kota pelabuhan Malaka pada waktu itu praktis menjadi kota orang Jawa.

Di sana banyak saudagar dan nakhoda kapal Jawa yang menetap, dan sekaligus memegang perdagangan internasional. 

Baca Juga: Andalan Nelayan Prigi Trenggalek, Perahu Ini Lebih Besar Daripada Kunting dan Untul, Bisa Menebak?

Tukang-tukang kayu Jawa yang membangun galangan kapal di kota pelabuhan terbesar di Asia Tenggara itu.

Bukti kepiawaian orang Jawa dalam bidang perkapalan juga ditemukan pada relief Candi Borobudur yang memvisualkan perahu bercadik – disebut sebagai “Kapal Borobudur”.

Konstruksi perahu Nusantara sangat unik. Papan-papan pada papan-papan pada papan kapal. Kemudian disambungkan pada pasak kayu tanpa menggunakan baut, baut, atau besi. 

Baca Juga: Sekilas Mirip, Ini Perbedaan Perahu Kunting dan Perahu Untul Asal Prigi Trenggalek

Ujung haluan dan buritan kapal berbentuk lancip. Kapal ini dilengkapi dengan dua batang yang dilengkapi dayung, serta layar berbentuk segi empat (layar tanja) atau layar laten dengan sekat bambu (layar jung).

Kapal Jawa dibuat menggunakan kayu jati pada saat laporan ini (1512), pada saat itu hutan Cina masih menggunakan kayu sebagai bahan pendukung. 

Lambung kapal Jawa dibuat dengan papan papan lunas dan kemudian ke satu sama lain dengan kayu semat, tanpa menggunakan rangka (kecuali untuk penguat berikutnya), baik baut atau paku besi.

Baca Juga: Kemeriahan Balap Perahu Kunting di Teluk Prigi Trenggalek, Ini Tantangan para Peserta

Papannya dilubangi oleh bor dan pasak pada papan-papan itu, tidak terlihat dari luar. Kapal itu juga sama-sama lancip pada kedua ujungnya, dan membawa dua kemudi yang mirip dayung dan layar lateen.

Ini sangat berbeda dari kapal Cina, yang diikat oleh tali dan paku besi ke rangka dan ke sekat yang membagi ruang kargo. 

Kapal Cina memiliki kemudi tunggal di Buritan, dan (kecuali di Fujian dan Guangdong) mereka memiliki bagian bawah yang rata-rata tanpa Lunas.

Editor : Dharaka R. Perdana
#kapal jung Jawa