TRENGGALEK NJENGGELEK - 1 Suro adalah hari pertama dalam penanggalan Jawa, yang hingga kini masih dijaga sebagai hari penuh makna spiritual dan budaya.
Di balik sakralnya 1 Suro, terdapat sosok penting yang menjadi peletak dasar 1 Suro dalam sistem penanggalan Jawa-Islam: Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja besar Kesultanan Mataram.
1 Suro merupakan padanan dari 1 Muharram dalam kalender Hijriyah. Bagi masyarakat Jawa, 1 Suro bukan sekadar awal tahun, tetapi waktu penuh kesunyian dan perenungan.
Baca Juga: Dilarang Menikah di Bulan Suro, Mitos atau Fakta pada Masyarakat Jawa?
Dalam kepercayaan Kejawen, malam 1 Suro adalah momentum untuk menyucikan diri, bertapa, dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta.
Tradisi-tradisi seperti tirakat, kungkum (berendam di sungai tengah malam), hingga ziarah ke makam leluhur adalah praktik umum yang dilakukan pada malam tersebut.
Sosok yang berjasa besar dalam menetapkan 1 Suro sebagai awal tahun Jawa adalah Sultan Agung Hanyokrokusumo.
Baca Juga: Malam 1 Suro Identik dengan Jamasan Pusaka, Alasannya di Luar Perkiraan
Ia adalah raja terbesar dalam sejarah Kesultanan Mataram Islam, yang memadukan nilai-nilai Islam dengan budaya lokal Jawa.
Pada tahun 1633 Masehi (1555 Tahun Jawa), Sultan Agung menciptakan sebuah sistem baru yang disebut Kalender Jawa-Islam, sebuah perpaduan antara kalender Saka (Hindu-Buddha) dan kalender Hijriyah (Islam).
Dalam sistem ini, bulan pertama ditetapkan sebagai Suro, menggantikan bulan Caitra dalam kalender Saka.
Baca Juga: Masyarakat Jawa Percaya Bisa Bikin Sial, Ini Mitos dan Pantangan Malam 1 Suro
Langkah ini menjadi simbol transformasi budaya: dari kerajaan Hindu-Buddha ke kerajaan Islam, tanpa memutus akar tradisi leluhur.
Siapakah Sultan Agung Hanyokrokusumo?
Sultan Agung Hanyokrokusumo (1593 - 1645) adalah raja Kesultanan Mataram yang memerintah pada tahun 1613-1645.
Nama aslinya adalah Raden Mas Jatmika, atau terkenal pula dengan sebutan Raden Mas Rangsang.
Sultan Agung merupakan putra dari pasangan Prabu Hanyokrowati dan Ratu Mas Adi Dyah Banowati. Sultan Agung naik takhta pada tahun 1613 dalam usia 20 tahun.
Sultan Agung dikenal sebagai salah satu raja yang berhasil membawa kerajaan Mataram Islam mencapai puncak kejayaan pada 1627, tepatnya setelah empat belas tahun Sultan Agung memimpin kerajaan Mataram Islam.
Pada masa pemerintahan Sultan Agung daerah pesisir seperi Surabaya dan Madura berhasil ditaklukan. Pada kurun waktu 1613 sampai 1645 wilayah kekuasaan Mataram Islam meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur dan sebagian Jawa Barat.
Kehadiran Sultan Agung sebagai penguasa tertinggi, membawa Kerajaan Mataram Islam kepada peradaban kebudayaan pada tingkat yeng lebih tinggi.
Sultan Agung memiliki berbagai keahlian baik dalam bidang militer, politik, ekonomi, sosial dan budaya,yang menjadikan peradaban kerajaan Mataram pada tingkat yang lebih tinggi. ****
Editor : Dharaka R. Perdana