TRENGGALEK NJENGGELEK - Panembahan Senopati, sang pendiri Kerajaan Mataram Islam merupakan sosok yang legendaris bagi masyarakat Jawa hingga menjadi tokoh penting pada Babad Tanah Jawa.
Dalam Babad Tanah Jawa, salah satu hal yang cukup menarik adalah kisah pertemuan Panembahan Senopati dengan Nyai Roro Kidul.
Hal ini tercantum pada Pupuh Kinanthi Babad Tanah Jawa, yang mengisahkan hubungan pendiri Wangsa Mataram itu dengan penguasa Laut Selatan itu.
Pada suatu pertemuan, Panembahan Senopati tidak mengetahui seperti apa wajah Nyi Roro Kidul yang bakal dilihatnya.
Bahkan saat bertemu muka, justru Panembahan Senopati melihat sesosok wanita tua yang sudah renta.
Hal ini tercantum pada gatra pertama Pupuh Kinanthi, yang berbunyi:
Baca Juga: 11 Jenis Tembang Macapat Jadi Perlambang Perjalanan Hidup Manusia, Berikut Ulasannya
Alon tindak kalihipun,
Senapati lan Sang Dewi,
Sadangunya apêpanggya,
Senapati samar ngeksi,
Mring suwarna Narpaning Dyah,
Wau wanci nini-nini.
Artinya
Keduanya berjalan pelahan, (Panêmbahan) Senopati dan sang Dewi, sekian lama mereka bertemu, (Panêmbahan) Senopati tiada jelas melihat, kepada wujud Ratu Wanita, tadi terlihat bagai wanita tua.
Benarkah Nyi Roro Kidul itu seorang wanita tua bukan berwajah cantik seperti anggapan semua orang?
Di gatra kedua pun dijelaskan, dalam sekejap mata, nenek tua itu pun berubah wujud menjadi seorang wanita cantik layaknya bidadari.
Tak ayal Panembahan Senopati pun terpesona melihat kecantikan Nyi Roro Kidul selayaknya bidadari dari kahyangan.
Begini ini gatra kedua Pupuh Kinanthi:
Mangke Dyah warnane santun,
wangsul wayah sumengkrami,
Senapati gawok ing tyas,
mring warna kang mindha Ratih,
tansah aliringan tingal,
Senapati lan Sang Dewi.
Artinya
Sekejap nanti Dyah (Ayu) wujudnya berubah, kembali terlihat sangat menarik hati, (Panêmbahan) Senopati terpesona dalam hati, menyaksikan wujud bagaikan (Dewi) Ratih, senantiasa saling mencuri pandang, antara (Panêmbahan) Senopati dan Sang Dewi. ****