TRENGGALEK NJENGGELEK - Babad Tanah Jawa menyimpan salah satu bagian paling terkenal dalam kisah Panembahan Senopati.
Yaitu saat Panembahan Senopati bertemu Kanjeng Ratu Kidul, yang dikenal sebagai Nyi Roro Kidul.
Potongan bait berikut ini menggambarkan suasana pertemuan pendiri Dinasti Mataram dan penguasa Laut Selatan tersebut, sarat dengan simbol mistis dan nilai spiritual.
Baca Juga: Wajah Nyai Roro Kidul Tak Secantik yang Dibayangkan, Hal Ini yang Dilihat Panembahan Senopati
Bait ketiga pupuh Kinanthi:
Sak praptanira kêdhatun, Narpeng Dyah lan Senapati, luwar kanthen tata lênggah, mungging kanthil kêncana di, Jêng Ratu mangênor raga, Senapati tansah ngliring.
Bagian ini menceritakan momen ketika Panembahan Senopati tiba di istana Ratu Kidul. Dia bersama Sang Ratu Kidul saling bergenggaman tangan, lalu melepaskannya dan duduk di ranjang keemasan.
Ratu Kidul berlenggak-lenggok, menandakan pesona mistisnya, sementara Senopati terus melirik, terpengaruh tetapi tetap mengendalikan diri.
Baca Juga: Babad Tanah Jawa: Kisah Panembahan Senopati, Raja Mataram yang Penuh Legenda
Dalam tradisi Jawa, adegan ini menunjukkan kekuatan spiritual seorang raja Jawa yang mampu menaklukkan hawa nafsu.
Meski digoda oleh kecantikan Ratu Laut Kidul, Panembahan Senopati tetap mengingat tugas utamanya sebagai pemimpin yang harus menjaga kesucian lahir batin.
Hal ini dipertegas pada bait keempat pupuh Kinanthi yang berhubungan dengan kesadaran dan pengalihan nafsu yang berbunyi sebagai berikut.
Mring warnanira Jêng Ratu, abrangta sak-jroning galih, engêt sabil jroning driya, yen Narpeng Dyah dede jinis, nging sinamun ngêgar karsa, midêr wrin langêning puri.
Dalam bait berikutnya, Panembahan Senopati mulai sadar bahwa Kanjeng Ratu Kidul bukanlah manusia biasa.
Ia seketika mengalihkan hasratnya, menahan diri dari godaan, dan berpaling dengan berjalan-jalan mengamati keindahan istana Laut Selatan.
Bagian ini mengandung pesan moral penting dalam falsafah Jawa: seorang pemimpin sejati harus mampu menguasai diri di tengah godaan duniawi.
Hubungan spiritual dengan Nyai Roro Kidul menjadi simbol pengikat antara kekuasaan kerajaan di daratan dan perlindungan dari alam gaib Laut Selatan. ****
Editor : Dharaka R. Perdana