TRENGGALEK NJENGGELEK - Panembahan Senopati, raja besar pendiri Kerajaan Mataram Islam, tercatat dalam Babad Tanah Jawa memiliki hubungan istimewa dengan Nyi Roro Kidul, Sang Ratu Laut Selatan.
Hubungan spiritual Panembahan Senopati dan Nyi Roro Kidul ini menjadi salah satu penopang kejayaan Mataram dan hingga kini terus menjadi bagian dari ritual kejawen di tanah Jawa.
Baca Juga: Panembahan Senopati Tetap Sadar Meski Terpana pada Kecantikan Nyi Roro Kidul, Kok Bisa?
Pada Babad Tanah Jawa, digambarkan secara detail bagaimana keintiman, godaan, dan perjanjian gaib antara Panembahan Senopati dan Sang Ratu Kidul berlangsung di Istana Laut Selatan yang megah dan mistis.
Pada bait ke-25, diceritakan bagaimana Panembahan Senopati mulai sadar bahwa jika ia terlalu lama tinggal di Istana Laut Selatan, keinginannya untuk kembali memimpin Mataram bisa gagal tercapai.
Baca Juga: Ini Gambaran Istana Laut Selatan yang Dilihat Panembahan Senopati dalam Babad Tanah Jawa
Ratu Kidul, yang memiliki daya batin luar biasa, dapat membaca isi hati Sang Raja, sebuah bukti bagaimana kekuatan spiritual Ratu Laut Selatan menembus pikiran manusia.
Hal ini diceritakan pada bait sebelumnya yang menyebutkan kesaktian Nyi Roro Kidul melebihi para jin yang tunduk dan patuh kepadanya.
Baca Juga: Kekuasaan Nyi Roro Kidul: Semua Makhluk Halus Tunduk, Namun Tidak di Ciamis Jawa Barat
Pada bait ke-26 hingga ke-27, diungkapkan pergumulan batin Sang Ratu Kidul. Ia merasa menyesal pernah bersumpah tidak menikah demi menjaga kekuasaannya.
Namun, di hadapan Panembahan Senopati, ia goyah. Ratu Kidul mulai merencanakan bagaimana merayu dan menaklukkan hati Sang Raja, demi menahan Panembahan Senopati agar betah di kerajaan bawah lautnya.
Baca Juga: Istana Laut Selatan Milik Nyi Roro Kidul Berlantaikan Emas dan Perak, Aura Magisnya Sangat Kuat
Pada bait ke-28, Ratu Kidul mencoba memikat Panembahan Senopati agar melupakan kerajaan Mataram dan menetap di samudera.
Nyi Roro Kidul memancarkan senyum, menundukkan kepala dengan pesona menggoda, membuat hati Panembahan Senopati berdebar.
Kisah ini mengajarkan filosofi Jawa bahwa seorang pemimpin harus bijak, mampu menahan godaan duniawi dan gaib, agar tetap fokus pada tanggung jawab di bumi. ****