TRENGGALEK NJENGGELEK - Dalam Babad Tanah Jawa, bait ke-29 hingga ke-31 menjadi salah satu bagian paling simbolis dan penuh misteri.
Di sinilah hubungan antara Panembahan Senopati, pendiri Dinasti Mataram Islam, dan Nyi Roro Kidul, Sang Ratu Laut Selatan, mencapai puncak ikatan spiritual dan batin.
Baca Juga: Nyi Roro Kidul Terus Merayu Panembahan Senopati Meski Pernah Bersumpah Tak Menikah, Berhasilkah Dia?
Bagian ini tidak sekadar menggambarkan pertemuan intim, melainkan menjadi perlambang kuatnya pengaruh kekuatan alam gaib dalam legitimasi kekuasaan raja-raja Jawa.
Dikisahkan Panembahan Senopati tak kuasa menahan rasa takjub. Lirikan manja Sang Ratu Kidul membuat hati sang raja semakin berdebar. Ia pun akhirnya menyatakan keinginannya:
Baca Juga: Panembahan Senopati Tetap Sadar Meski Terpana pada Kecantikan Nyi Roro Kidul, Kok Bisa?
“Duh wong ayu karsa mami, wus dangu nggon ingsun ningal, mring langêne ing jro puri,”
yang artinya: “Duh cantik, inilah keinginanku, sudah lama aku menikmati keindahan istana ini…”
Ini menunjukkan bagaimana pesona istana bawah laut dan aura sang Ratu berhasil melenakan siapa pun yang memasukinya.
Baca Juga: Kekuasaan Nyi Roro Kidul: Semua Makhluk Halus Tunduk, Namun Tidak di Ciamis Jawa Barat
Panembahan Senopati penasaran ingin tahu seperti apa ranjang tidur Sang Ratu Kidul. Dengan anggun, Ratu Kidul menjawab bahwa ranjang tersebut tidak pernah benar-benar dimiliki siapa pun.
Ia hanya menjaganya, seolah berarti keabadian dan kemurnian kekuasaan gaib Laut Selatan.
Baca Juga: Istana Laut Selatan Milik Nyi Roro Kidul Berlantaikan Emas dan Perak, Aura Magisnya Sangat Kuat
“Dyah Tan sae warninya, yen kêdah sumangga karsi, sintên yogi ndarbenana, lun mung darmi anênggani.”
Artinya bahwa tidak ada yang pantas memilikinya, kecuali sang Ratu sendiri sebagai penjaga.
Dalam falsafah Jawa, ranjang ini melambangkan kekuasaan spiritual Laut Selatan yang tidak dapat diwarisi, dijual, atau direbut manusia.
Puncaknya Panembahan Senopati dan Ratu Kidul beranjak bersama menuju ranjang tersebut. Mereka masuk ke ruang tidur berhiaskan permadani indah. Sang Raja duduk perlahan, terpesona akan kemewahan dan keanggunannya.
Bagian ini sering ditafsirkan para ahli budaya Jawa sebagai pernikahan spiritual antara penguasa bumi (Mataram) dan penguasa laut (Laut Selatan).
Ikatan ini diyakini menjadi sumber legitimasi dan pelindung takhta Mataram, menjamin kemakmuran, kekuatan, dan restu alam.