TRENGGALEK NJENGGELEK - Salah satu warisan budaya Jawa yang paling sakral dan penuh mistis adalah keyakinan tentang pernikahan spiritual antara Panembahan Senopati, pendiri Dinasti Mataram Islam, dengan Nyi Roro Kidul, Sang Ratu Laut Selatan.
Momen inti hubungan gaib ini tergambar jelas dalam bait ke-32 hingga ke-36 Babad Tanah Jawa.
Baca Juga: Nyi Roro Kidul Terus Merayu Panembahan Senopati Meski Pernah Bersumpah Tak Menikah, Berhasilkah Dia?
Ketika keduanya berada di dekat ranjang emas Sri Kumêndhung — simbol perjanjian suci antara penguasa bumi dan penguasa samudera.
Pada bait ke-32, digambarkan bagaimana Nyi Roro Kidul menunjukkan ranjang emas Sri Kumêndhung yang dihiasi berbagai kemewahan bagaikan potongan surga di dasar laut.
Baca Juga: Panembahan Senopati Tetap Sadar Meski Terpana pada Kecantikan Nyi Roro Kidul, Kok Bisa?
Nyi Roro Kidul menjelaskan pada Panembahan Senopati bahwa ranjang tersebut hanyalah ranjang seorang ‘randha papa’ — janda kesepian — yang sunyi tanpa pendamping.
Di balik ungkapan merendah itu, tersimpan makna mendalam jika anjang ini hanya boleh dimiliki oleh ‘raja pilihan’ yang berani menyatukan diri secara spiritual dengan kekuatan Laut Selatan.
Baca Juga: Kekuasaan Nyi Roro Kidul: Semua Makhluk Halus Tunduk, Namun Tidak di Ciamis Jawa Barat
Setelah bergulat dengan pikirannya, Panembahan Senopati pun memiliki keputusan batin. Ia tersenyum lembut, merayu Sang Ratu dengan kata-kata peneguh hati:
“Sesungguhnya, istanamu ini jauh melebihi keindahan istana para raja di bumi.”
Baca Juga: Bisa Secantik Bidadari dan Jelek, Begini Kesaktian Nyi Roro Kidul dalam Babad Tanah Jawa
Pujian itu adalah bentuk penerimaan, isyarat bahwa Panembahan Senopati bersedia menjadi pasangan spiritual Nyi Roro Kidul demi menjaga keharmonisan alam dan mendulang restu kekuasaan.
Tidak berselang lama Panembahan Senopati bahkan mulai merasa berat hati pulang ke Mataram, terbuai suasana istana megah dan kehangatan sang Ratu.
Dia pun berujar halus: “Namun satu kekurangan istana ini, tidak ada lelaki yang mendampingi…”
Ungkapan ini menegaskan maksud pernikahan spiritual adalah menyatukan raja darat dengan ratu laut, agar kekuasaan Mataram mendapatkan perlindungan Laut Selatan.
Dalam kepercayaan Jawa, ikatan gaib ini dipercaya sebagai jaminan kestabilan tahta raja-raja Mataram hingga keturunannya.
Nyi Roro Kidul pun melemparkan lirikan manja penuh arti, seolah mengokohkan perjanjian gaib mereka.
Sebagai Ratu Laut Selatan, ia rela menjadi pasangan spiritual sang Raja, meski dalam wujud gaib, demi menjaga keseimbangan jagad.
Ikatan batin ini diyakini menitis pada semua penerus Mataram, dan hingga kini ritual labuhan di Pantai Selatan menjadi simbol kelanjutan sumpah spiritual antara raja dan Laut Selatan. ****