Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Misteri ‘Sakit Cinta’ Panembahan Senopati: Antara Restu Gaib Nyi Roro Kidul dan Ambisi Menjadi Raja Mataram

Dharaka R. Perdana • Jumat, 20 Juni 2025 | 18:33 WIB

Panembahan Senopati sedang mengutarakan maksud hatinya untuk menjadi raja dengan kode halus pada Nyi Roro Kidul.
Panembahan Senopati sedang mengutarakan maksud hatinya untuk menjadi raja dengan kode halus pada Nyi Roro Kidul.

TRENGGALEK NJENGGELEK - Dalam kisah klasik Babad Tanah Jawa, bait ke-40 sampai ke-44 adalah bagian paling menarik dan sering diulas oleh ahli budaya Jawa.

Karena bagian Babad Tanah Jawa ini menggambarkan strategi halus Panembahan Senopati dalam membangun kekuatan politik dan spiritual.

Tidak hanya sebagai penakluk bumi, Panembahan Senopati juga penakluk hati, termasuk hati Sang Ratu Laut Selatan, Nyi Roro Kidul.

Baca Juga: Pernikahan Spiritual Panembahan Senopati dan Nyi Roro Kidul, Misteri Ranjang Emas Sri Kumêndhung

Bagian ini dibuka dengan adegan manis saat Nyi Roro Kidul terpana mendengar rayuan Panembahan Senapati.

“Jêng Ratu kêpraneng wuwus, merang tyas wêtareng lungit, kakung ciniwêl lambungnya…”

Sang Ratu tersipu, malu, bahkan mencubit Panembahan Senopati, sambil tersenyum dan menunduk.

Baca Juga: Nyi Roro Kidul Terus Merayu Panembahan Senopati Meski Pernah Bersumpah Tak Menikah, Berhasilkah Dia?

Adegan ini bukan sekadar romantis, tetapi simbol kekuatan retorika seorang raja Jawa: halus, manis, tapi penuh maksud.

“Ya sun pajar mirah ingsun, nggon sun praptaneng jêladri, labêt sun anandhang gêrah…”

Panembahan Senopati mengaku datang ke Istana Laut Selatan karena menderita ‘sakit cinta’ yang tak kunjung sembuh.

Baca Juga: Kekuasaan Nyi Roro Kidul: Semua Makhluk Halus Tunduk, Namun Tidak di Ciamis Jawa Barat

Sebenarnya ada dua makna dalam hal ini. Yakni makna lahiriah yang merindukan kasih sayang sang Ratu.

Serta makna batiniah yang berupa kode halus, bahwa Panembahan Senopati mencari restu dan perlindungan gaib agar berhasil menaklukkan bumi Jawa, terutama menghadapi konflik dengan Pajang.

Panembahan Senopati pun semakin menegaskan dramanya dengan perkataan “Midêr ing rat nggon sun ngruruh, kang dadi usadeng kingkin, tan lyan mung andika mirah…”

Artinya, aku sudah menjelajah dunia mencari penawar, hanya engkau satu-satunya tabib yang bisa menyembuhkanku.

Ini adalah sandi budaya bahwa restu Nyi Roro Kidul adalah ‘obat penawar’ supaya rintangan politik di bumi bisa dilalui.

Baca Juga: Bisa Secantik Bidadari dan Jelek, Begini Kesaktian Nyi Roro Kidul dalam Babad Tanah Jawa

Karena itulah, raja-raja Jawa melakukan ‘pernikahan spiritual’ dengannya demi stabilitas kerajaan.

Nyi Roro Kidul tidak mudah terbuai. Ia tahu rayuan manis Senopati hanyalah topeng, di baliknya tersembunyi ambisi kekuasaan.

Nyi Roro Kidul sadar Senopati datang bukan benar-benar sakit cinta, tetapi butuh dukungan gaib agar sah naik tahta, tanpa diganggu Pajang, kerajaan induk yang kala itu masih punya pengaruh besar.

Baca Juga: Wajah Nyai Roro Kidul Tak Secantik yang Dibayangkan, Hal Ini yang Dilihat Panembahan Senopati

Hingga akhir Sang Ratu ‘membongkar’ segalanya, karena sakit cinta hanyalah alasan pembuka. 

Maksud utamanya adalah “lara arsa madêg nata”, yaitu rasa gelisah karena niatnya mendirikan kerajaan sendiri dan berdaulat penuh.

Namun ia segan karena Pajang masih punya Raja (Hadiwijaya / Sultan Pajang) yang menjadi ayah angkat sekaligus penguasa sah kala itu. ****

 

Editor : Dharaka R. Perdana
#Babad Tanah Jawa #Panembahan Senopati #mataram #nyi roro kidul