TRENGGALEK NJENGGELEK - Tradisi dalam Babad Tanah Jawa menjadi salah satu bagian penting yang sering dikaji oleh para peneliti budaya Jawa dan pemerhati sejarah keraton.
Khususnya mengenai pertemuan Panembahan Senopati dan Nyi Roro Kidul di Laut Selatan.
Di dalam istana yang digambar di bawah laut, keduanya terlibat pembicaraan serius dan diselipi rayuan Panembahan Senopati.
Bahkan Nyi Roro Kidul, sang penguasa Laut Selatan, dengan bijaksana menjawab rayuan manis Panembahan Senopati, yang datang dengan dalih “sakit cinta” untuk mencari pengobatan di Istana Laut Selatan.
Dalam bait ke-45, Sang Dyah Kidul (Nyi Roro Kidul) berbicara secara halus namun sangat menusuk logika:
“Kirang punapa Sang Pêkik, kang pilênggah ing Mataram, lêlana prapteng jêladri, tan sagêd lun sung usada, nggih dhatêng kêng gêrah galih.”
Baca Juga: Pernikahan Spiritual Panembahan Senopati dan Nyi Roro Kidul, Misteri Ranjang Emas Sri Kumêndhung
Sang Ratu bertanya balik, “Apa kurangnya engkau, wahai lelaki tampan yang bertahta di Mataram?”
Mengapa meninggalkan kerajaan hanya untuk datang ke samudera, berharap mendapatkan obat penawar hati?
Baca Juga: Nyi Roro Kidul Terus Merayu Panembahan Senopati Meski Pernah Bersumpah Tak Menikah, Berhasilkah Dia?
Intinya Nyi Roro Kidul ingin menegaskan bahwa seorang Raja Mataram tidak sepatutnya datang ke Laut Selatan hanya membawa alasan hati yang rapuh.
Restu spiritual tidak bisa diperoleh dengan alasan cengeng atau rayuan manis belaka. Bahkan Ratu Kidul menegaskan dirinya bukan seorang dukun pengobat sakit hati.
Baca Juga: Panembahan Senopati Tetap Sadar Meski Terpana pada Kecantikan Nyi Roro Kidul, Kok Bisa?
Api cinta di dalam dada seorang pria agung tidak akan membunuhnya. Justru seharusnya menjadi bara tekad untuk menjadi Raja yang lebih besar dan kuat, penguasa tanah Jawa yang disegani para Raja lai.
Sehingga Sang Ratu menolak menjadi sekadar pelipur lara. Ia paham betul bahwa di balik ‘sakit cinta’ Senapati tersembunyi ambisi politik untuk memperkokoh tahta Mataram.
Restu dari Laut Selatan hanya pantas diberikan pada Raja yang tegas, gigih, dan mampu menjaga keharmonisan antara bumi dan laut.
Nyi Roro Kidul pun terus melontarkan jawaban atas rayuan yang diucapkan Panembahan Senopati. Bahkan penguasa Laut Selatan itu menyangsikan jika di Mataram kekurangan wanita cantik dan siap melayani.
Dalam hal ini Sang Ratu ingin menegaskan bahwa hubungan ini bukan hubungan jasmani.
Ini adalah ikatan spiritual antara penguasa bumi (Raja Mataram) dengan penguasa laut (Nyi Roro Kidul). Kesepakatan gaib ini tidak boleh direndahkan hanya jadi cerita asmara biasa. ****