Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Panembahan Senapati Menggenggam Tangan Nyi Roro Kidul, Benarkah Ini Janji Spiritual di Istana Laut Selatan?

Dharaka R. Perdana • Minggu, 22 Juni 2025 | 06:14 WIB

Panembahan Senopati konon memiliki hubungan dengan Nyi Roro Kidul
Panembahan Senopati konon memiliki hubungan dengan Nyi Roro Kidul

TRENGGALEK NJENGGELEK - Babad Tanah Jawa menyimpan kisah mistis yang tak lekang oleh waktu. Salah satunya adalah pertemuan Panembahan Senopati, raja agung Mataram, dengan Nyi Roro Kidul, sang Ratu Laut Selatan.

Bagian ini menjadi salah satu kunci pemahaman mengenai restu gaib yang mengikat kekuasaan Mataram dengan Laut Selatan.

Salah satu hal yang digambarkan dalam Babad Tanah Jawa adalah suasana di dalam ruang pribadi Istana Laut Selatan.

Baca Juga: Pergolakan Batin Nyi Roro Kidul Menyala, Namun Ratu Laut Selatan itu Menghadapi Batasan Kodrat

Panembahan Senopati, yang terpesona pada keelokan Nyi Roro Kidul, semakin terbawa suasana.

Ia menggenggam lembut tangan Sang Ratu, sebuah tindakan sederhana tetapi sarat arti spiritual dalam filosofi Jawa.

Di atas ranjang berhias permadani emas, Panembahan Senapati duduk berhadap-hadapan dengan Ratu Laut Selatan.

Baca Juga: Nyi Roro Kidul Tegas Menjawab Panembahan Senapati: Antara Rayuan, Restu Gaib, dan Filosofi Raja Jawa

Ia tak kuasa lagi menyimpan hasrat batin, tangannya perlahan meraih jemari Sang Ratu — lambang permintaan restu untuk mempersatukan kekuatan bumi dan samudera.

Nyi Roro Kidul menanggapi genggaman tersebut dengan sindiran manis: “Asta kelor driji ulun, yen putung sintên nglintoni…” (Bait 51)

Dalam hal ini Sang Ratu menjelaskan bahwa jari jemarinya bagaikan daun kelor — lembut dan rapuh. Bila putus, siapa yang bisa mengganti?

Baca Juga: Pernikahan Spiritual Panembahan Senopati dan Nyi Roro Kidul, Misteri Ranjang Emas Sri Kumêndhung

Bahkan Panembahan Senopati pun, meski manusia agung dari Mataram, tidak mampu mencipta ulang takdir Sang Ratu.

Ini menegaskan bahwa meskipun Raja Jawa memiliki kekuasaan besar, kekuatan gaib Laut Selatan tetap tak tersentuh mutlak.

Panembahan Senapati kemudian membela diri, menenangkan Sang Ratu agar tidak tersinggung.

Dia berdalih hanya ingin melihat cincin yang tersemat di jari Ratu Laut Selatan. Dalam budaya Jawa, cincin di jari seorang ratu atau raja adalah lambang kekuatan gaib dan kesetiaan.

Dalih ini sebenarnya hanya pembuka jalan bagi Senapati untuk meraih persetujuan batin Sang Ratu.

Nyi Roro Kidul, yang bijak dan peka, menangkap maksud Panembahan Senapati. Dengan nada halus, beliau menyindir: “Yêkti dora arsanipun… paring jangji sih mring cêthi.” (Bait 53)

Sang Ratu sadar, genggaman tangan bukan hanya untuk melihat cincin. Ini pertanda permintaan janji batin: restu untuk menjadi Raja agung Mataram harus diikat dengan janji cinta tulus, bukan sekadar nafsu sesaat.

Karena itu, Sang Ratu menuntut janji suci, sebagai tanda bahwa Sang Senapati benar-benar ikhlas menjadikan Laut Selatan sebagai sekutu spiritual Mataram. ****

 

Editor : Dharaka R. Perdana
#Babad Tanah Jawa #Panembahan Senopati #istana laut selatan #nyi roro kidul