TRENGGALEK NJENGGELEK - Babad Tanah Jawa tidak hanya menyimpan catatan sejarah berdirinya Kerajaan Mataram Islam.
Tetapi juga mengisahkan jalinan spiritual yang melibatkan Panembahan Senopati dan Ratu Laut Selatan, Nyi Roro Kidul.
Bagian ini adalah inti kisah “pernikahan gaib” yang dipercaya sebagai penopang legitimasi kekuasaan raja Jawa hingga saat ini.
Dalam bait ke-54, Panembahan Senopati, setelah membungkus maksud hatinya dengan rayuan manis, melantunkan tembang lembut.
Suaranya merdu menghanyutkan, menembus hati Nyi Roro Kidul. Ratu Laut Selatan pun luluh — senyum manisnya memikat hati sang raja Mataram.
Adegan ini memperlihatkan kelembutan Panembahan Senopati dalam menundukkan hati Sang Ratu, bukan dengan kekuasaan, melainkan dengan seni tutur kata dan tembang.
Baca Juga: Pergolakan Batin Nyi Roro Kidul Menyala, Namun Ratu Laut Selatan itu Menghadapi Batasan Kodrat
Ratu Laut Selatan pun akhirnya pasrah, diayun pelan di pangkuan Panembahan Senopati.
Tanpa ragu, Sang Ratu menuruti bisikan hati yang terlanjur terpaut cinta dan kagum.
Inilah simbol penerimaan restu spiritual Laut Selatan kepada Raja Mataram, di mana kehendak alam gaib berpadu dengan kehendak manusia.
Baca Juga: Nyi Roro Kidul Terus Merayu Panembahan Senopati Meski Pernah Bersumpah Tak Menikah, Berhasilkah Dia?
Apa yang terjadi sejalan dengan kehendak alam. Panembahan Senopati digambarkan bagaikan Sang Hyang Wiku yang memegang kekuasaan jagat.
Tak ada satu pun halangan yang bisa membendung hasratnya, karena restu gaib sudah digenggam.
Tatapan Senopati menembus keindahan Ratu Kidul yang kini bersandar manja di pangkuannya, mempertegas ikatan sakral antara tahta bumi dan lautan.
Panembahan Senopati membawa Sang Ratu menuju balai peraduan dengan kelambu tertutup. Keduanya larut dalam suasana penuh cinta, laksana kumbang merengkuh sari bunga yang mekar, simbol kesempurnaan restu dan keabadian ikatan gaib antara Kerajaan Mataram dan Samudera Selatan.
Editor : Dharaka R. Perdana