TRENGGALEK NJENGGELEK - Babad Tanah Jawa adalah salah satu naskah sastra Jawa yang sarat dengan simbol spiritual, politik, dan mistik.
Salah satu bagian paling terkenal adalah kisah Panembahan Senopati, pendiri Mataram Islam, yang menjalin hubungan gaib dengan Nyi Roro Kidul, Sang Ratu Penguasa Laut Selatan.
Bait ke-57 hingga 61 mengungkap detail pernikahan gaib ini, simbol restu raja Jawa hingga kini. Khususnya momen bercumbu dan penyatuan cinta di ranjang emas Istana Laut Selatan.
Baca Juga: Panembahan Senopati Mampu Luluhkan Nyi Roro Kidul, Jurus Apa yang Dipakainya?
Konon usai Nyi Roro Kidul terpikat pada rayuannya, Panembahan Senapati membopong Sang Ratu Kidul menuju tempat tidur keemasan, kemudian kelambu ditutup rapat.
Ini melambangkan penyatuan dua kekuatan besar: jagat Mataram di daratan, dan samudera luas di Laut Selatan.
Adegan ini secara spiritual dipercaya sebagai pernikahan gaib yang menjadi pondasi sahnya raja-raja Jawa.
Menariknya, jin dan lelembut di kawasan Laut Selatan berusaha mengintip peristiwa sakral tersebut.
Mereka tak hanya sekadar penasaran, tetapi juga menunjukkan ketaatan mutlak pada perintah Ratu Kidul dan sang raja Mataram.
Ini mengukuhkan posisi Panembahan Senopati bukan hanya sebagai pemimpin manusia, tetapi juga diakui di alam gaib.
Baca Juga: Nyi Roro Kidul Tegas Menjawab Panembahan Senapati: Antara Rayuan, Restu Gaib, dan Filosofi Raja Jawa
Tidak berselang lama mahkota Sang Ratu pecah, yang disimbolkan sebagai pecahnya ego, martabat, sekaligus tanda penyerahan diri sepenuhnya kepada Panembahan Senapati.
Cairan wangi yang membasahi ranjang adalah simbol kesucian restu, sari asmara, dan kesuburan, yang diyakini akan menurunkan kekuatan pada garis keturunan raja-raja Mataram.
Setelah puncak cinta, Sang Ratu terbaring lemas, menandakan tuntasnya perjanjian mistik. Senopati dengan penuh kasih membopong Sang Ratu ke pemandian untuk pembersihan diri, sebagai simbol kembalinya kesucian.
Dalam filosofi Jawa, mandi bersama setelah hubungan suci berarti menutup ikatan dengan keseimbangan baru.
Rangkaian asmara ini ditutup dengan adegan Nyi Roro Kidul berbaring di pangkuan Panembahan Senopati, tiada henti dicium penuh rasa cinta.
Keduanya larut dalam asmara tanpa jeda — simbol ikatan gaib yang abadi antara keturunan raja Mataram dengan Penguasa Laut Selatan. ****