TRENGGALEK NJENGGELEK - Dalam Babad Tanah Jawa, salah satu bagian yang sakral sekaligus penuh mistis adalah kisah Panembahan Senopati, pendiri Dinasti Mataram, yang disebut menjalin pernikahan spiritual dengan Nyi Roro Kidul, Penguasa Laut Selatan.
Bagian bait ke-62 hingga ke-64 mengisahkan detik-detik Panembahan Senopati hendak pamit pulang ke Mataram, setelah genap tujuh hari memadu kasih di istana samudera.
Setelah berhari-hari larut dalam cinta spiritual, Panembahan Senopati akhirnya merasa tugasnya di Istana Laut Selatan telah selesai.
Dalam kepercayaan Jawa, angka tujuh bukan sekadar hitungan waktu, tetapi lambang kesempurnaan, kesakralan, dan pengesahan ikatan gaib antara Raja Mataram dan Ratu Laut Selatan.
Baca Juga: Panembahan Senopati Mampu Luluhkan Nyi Roro Kidul, Jurus Apa yang Dipakainya?
Dengan hati berat, Panembahan Senopati memutuskan untuk meninggalkan samudera dan kembali ke keratonnya di Mataram, tempat rakyatnya telah lama menanti.
Panembahan Senopati berbicara lembut pada Sang Ratu. Dia berharap Sang Ratu senantiasa berbahagia.
Kalimat penuh rasa hormat ini mencerminkan kesetiaan seorang Raja kepada tanggung jawabnya, meski hatinya terikat oleh pesona Ratu Kidul.
Mendengar niat Panembahan Senopati, Nyi Roro Kidul tak kuasa menahan sedih. Ia tahu bahwa pengabdian Panembahan Senopati pada Mataram jauh lebih besar dari pada hasrat pribadinya.
Baca Juga: Pergolakan Batin Nyi Roro Kidul Menyala, Namun Ratu Laut Selatan itu Menghadapi Batasan Kodrat
Air mata Sang Ratu menetes deras, membasuh istana samudera dengan haru. Inilah bukti cinta abadi Ratu Laut Selatan yang merelakan kepergian kekasih spiritualnya demi kejayaan tanah Jawa.
Jika dicermati secara seksama, hal itu sekadar dongeng asmara, melainkan simbol pengukuhan perjanjian gaib antara penguasa darat (Mataram) dan penguasa laut (Nyi Roro Kidul).
Ritual pamit Panembahan Senapati mempertegas bahwa restu mistis Laut Selatan melekat pada Raja Mataram dan akan diwariskan ke generasi penerus. ****