TRENGGALEK NJENGGELEK - Dalam Babad Tanah Jawa yang melegenda, perpisahan Nyi Roro Kidul dengan Panembahan Senopati tak sekadar menjadi penutup cerita asmara gaib, melainkan lambang restu sakral antara penguasa Laut Selatan dan Raja Mataram.
Babad Tanah Jawa ini pun menyingkap kesedihan Sang Ratu Laut Selatan kala ditinggal kekasih spiritualnya.
Baca Juga: Remuk Redam Hati Nyi Roro Kidul saat Panembahan Senapati Pamit Pulang ke Mataram, Dia Bilang Begini
Dalam bait 65 ini, digambarkan bagaimana Nyi Roro Kidul belum puas menikmati kehangatan kasih Panembahan Senapati.
Sambil perlahan bangkit dari pangkuan Sang Raja Mataram, Sang Ratu merasakan betapa indahnya cinta jika saling seimbang, saling memberi dan menerima.
Bait ini membuktikan bahwa cinta Nyi Roro Kidul tulus, bukan sekadar nafsu, melainkan pengabdian penuh restu gaib.
Dalam hatinya, Nyi Roro Kidul menahan duka, namun ia menegaskan bila cinta mereka akan benar-benar sempurna, andai ia mampu memenuhi segala kebutuhan Panembahan Senapati.
Baca Juga: Panembahan Senopati Mampu Luluhkan Nyi Roro Kidul, Jurus Apa yang Dipakainya?
Di sinilah terungkap niat suci Sang Ratu: menjadi penjaga, pelindung, sekaligus pendamping spiritual, meski hanya sebatas dunia gaib.
Momen puncak perpisahan pun berlangsung dengan sangat berkesan. Dengan lambang melepas setagen berhias bunga emas, Sang Dyah merelakan diri.
Baca Juga: Pergolakan Batin Nyi Roro Kidul Menyala, Namun Ratu Laut Selatan itu Menghadapi Batasan Kodrat
Dipeluk oleh Senapati, ia diajak berjalan di taman istana samudera, diiringi lantunan Kidung Mijil, kidung Jawa klasik yang bermakna keikhlasan dan pelepasan.
Momen ini jadi simbol cinta abadi yang tak terpisahkan oleh ruang dan waktu, meski secara jasad Senapati kembali ke Mataram, jiwa dan restu Nyi Roro Kidul tetap menyertai.
Bagian bait ini menegaskan satu hal penting dalam mitologi Jawa: cinta antara raja daratan dan penguasa samudera adalah ikatan gaib penjaga keseimbangan Jawa.
Kesetiaan Nyi Roro Kidul yang tetap merelakan perpisahan, justru menjadi dasar restu dan perlindungan bagi Mataram dan keturunannya, bahkan hingga hari ini.