Trenggaleknjenggelek – Di tengah arus modernisasi yang terus menggerus budaya lokal di berbagai daerah, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, menjadi salah satu wilayah yang masih menjaga dengan teguh kearifan tradisinya. Meski dikenal sebagai kabupaten kecil dengan 14 kecamatan dan 157 desa, Trenggalek menyimpan kekayaan budaya yang hidup dan lestari, bahkan hingga kini.
Sejumlah tradisi warisan leluhur masih rutin digelar dan menjadi bagian dari identitas masyarakat. Di antaranya adalah Nyadran, Tiban, Larung Sembonyo, dan Ngitung Batih. Tradisi-tradisi ini tak hanya menjadi ritual spiritual, tapi juga ajang memperkuat solidaritas sosial warga.
1. Nyadran: Mengenang Adipati Menak Sopal
Tradisi ini digelar setiap Jumat Kliwon di bulan Selo, sebagai bentuk penghormatan terhadap Adipati Menak Sopal, tokoh yang membangun Dam Bagong. Warga melakukan kirab kerbau, ziarah, hingga pelemparan kepala kerbau ke Dam Bagong sebagai tumbal simbolik untuk menolak bala. Keyakinan lokal menyebutkan, bila upacara ini tidak digelar, Trenggalek bisa dilanda bencana banjir bandang.
2. Tiban: Perang Cambuk Meminta Hujan
Saat kemarau berkepanjangan, warga Trenggalek menggelar tradisi Tiban, yakni ritual minta hujan dengan saling mencambuk menggunakan lidi aren. Tradisi ini sarat makna tentang keseimbangan alam dan usaha manusia menjaga kelestarian lingkungan. Meski terkesan ekstrem, Tiban justru menjadi simbol permohonan kolektif yang penuh filosofi.
3. Larung Sembonyo: Syukur Hasil Laut Nelayan Prigi
Di kawasan pesisir Prigi, Kecamatan Watulimo, nelayan menggelar tradisi Larung Sembonyo sebagai bentuk syukur atas limpahan hasil tangkapan laut. Puncaknya, tumpeng agung dan hasil bumi dilarung ke tengah laut, diiringi oleh doa bersama dan iring-iringan puluhan perahu nelayan. Tradisi ini mempererat hubungan antar warga sekaligus menjaga harmoni dengan alam.
4. Ngitung Batih: Doa untuk Keluarga dan Keselamatan
Dilaksanakan setiap 1 Muharram, Ngitung Batih berasal dari Kecamatan Dongko dan menjadi wujud kepedulian masyarakat terhadap kesejahteraan keluarga. Tradisi ini melibatkan kirab dayang-dayang pembawa takir plontang menuju pendapa kecamatan. Acara dilanjutkan dengan doa bersama agar keluarga dijauhkan dari mara bahaya.
Meski generasi muda kini hidup dalam era digital dan globalisasi, pelestarian budaya tetap menjadi prioritas warga Trenggalek. Tradisi-tradisi ini terus diwariskan dari generasi ke generasi, membuktikan bahwa akar budaya lokal masih bertahan kokoh di tengah zaman yang terus berubah.(jaz)
Editor : Zaki Jazai