TRENGGALEKJENGGELEK - Sungai Ngasinan merupakan sungai terpanjang dan terbesar yang berada di pusat kota Trenggalek.
Sungai Ngasinan dikenal sebagai penyebab utama seringnya banjir besar melanda Trenggalek sejak zaman dahulu.
Kendati demikian, Sungai Ngasinan diduga memiliki peran yang tidak bisa disepelekan pada perkembangan peradaban di Trenggalek.
Menurut Agus Aris Munandar, pada masa Majapahit (Abad XIII–XV Masehi) banyak situs atau candi yang dibangun di area yang dianggap baik sebagai tempat untuk mendirikan bangunan suci.
Tempat-tempat itu antara lain dekat sumber air, adanya mata air, danau, daerah aliran sungai, genangan air luas, dan lebih baik adalah lahan di dekat pertemuan dua aliran sungai.
Selain itu di kawasan dataran tinggi yang subur dan mempunyai banyak sumber air, di lereng-lereng gunung yang berhutan rimbun yang menandakan kesuburan, di tepian persawahan luas subur dan dataran yang dialiri banyak sungai kecil
Baca Juga: Desa Kamulan Jejak Peradaban Kuno di Kabupaten Trenggalek
Beberapa situs arkeologi di Trenggalek, dengan memperhatikan kriteria di atas,diketahui sebagian besar berada di sepanjang Sungai Ngasinan.
Keberadaan badan air seperti sungai, kolam, danau, dan mata air tersebut akan dimanterai oleh para pendeta untuk dijadikan air amerta sebagai sarana upacara pemujaan dewa.
Oleh karena itu,bangunan candi juga bermakna kesuburan wilayah sehingga tempat suatu candi atau situs didirikan merupakan wilayah yang subur.
Baca Juga: Berikut 4 Prasasti yang Pernah Ditemukan di Trenggalek, Nomor 3 Jarang Terekspose
Di wilayah yang subur itulah dewa-dewa banyak bersemayam dan dapat dipuja manusia.
Berikut situs-situs arkeologi di sekitar DAS Ngasinan berdasarkan Jurnal DAS NGROWO-NGASINAN: PENGARUH DAN MANFAATNYA TERHADAP TINGGALAN ARKEOLOGI DI TRENGGALEK:
1. Candi Brongkah
Candi Brongkah terletak di Dusun Brongkah, Desa Kedunglurah, Kecamatan Pogalan, Trenggalek yang merupakan satu-satunya tinggalan bangunan candi yang dijumpai di Trenggalek hingga kini.
Candi Bongkah adalah sebuah bangunan candi berbahan bata. Posisi bangunan candi sekarang terletak di kedalaman 3 meter di bawah permukaan tanah.
Banjir yang berulang-ulang pada Sungai Ngasinan diduga merupakan salah satu penyebab tertimbunnya candi Brongkah pada saat ini.
Berdasarkan pola hias batu-batu berelief, diduga bahwa bangunan Candi Brongkah merupakan bangunan candi masa Majapahit yang bercorak agama Hindu.
2. Situs Semarum
Situs Semarum merupakan sebuah situs arkeologi dengan temuan berupa singkapan struktur bata yang berorientasi Timur-Barat.
Bentuk dan karakter Situs Semarum yang terletak di Desa Semarum, Kecamatan Durenan, Trenggalek dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang berada di dataran rendah dengan sisi utara dibatasi Gunung Bale dan di sisi selatan dibatasi Sungai Ngasinan
Hasil rekonstruksi grafis diduga bahwa karakter Situs Semarum sebagai situs segaran atau reservoir didasarkan pada bentuknya yang relatif besar dan luas.
Temuan struktur bata pada awalnya diduga sebagai bangunan pagar, tetapi berdasarkan hasil penelitian 2014 diduga bahwa fungsi Situs Semarum merupakan sebuah bangunan yang berkaitan dengan bangunan air kuno (ancient hydraulic structure).
Yaitu reservoir yang secara umum berfungsi sebagai penampung air. Indikasinya adalah dijumpainya sebuah lubang pembuangan air di bagian sudut timur laut struktur bata.
Selain itu ada bandul jala yang terbuat dari tanah liat bakar, serta lapisan pasir dan kerakal hasil sedimentasi di bagian dalam struktur bata.
Informasi adanya lapisan pasir dan kerakal ini juga dijumpai di Situs Kolam Segaran Trowulan yang pada bagian dasar kolam juga dijumpai data berupa pasir dan batu kali .
3. Runtuhan Bata Kuno di Desa Kendalrejo
Di sebelah barat Situs Semarum, yaitu sekitar 220 meter ditemukan runtuhan bata-bata kuno dengan ukuran yang cukup besar.
Ukuran bata yang masih dapat dilacak mempunyai panjang 35--36 cm, lebar 22--27 cm, dan tebal 9,5–11 cm.
Runtuhan bata kuno tersebut berada di lokasi penambangan tanah untuk bahan pembuatan genteng dan bata, tepatnya di sebelah barat Sungai Ngasinan yang berjarak 10 meter.
Debit air sungai di lokasi runtuhan bata kuno yang masuk Desa Kendalrejo, Kecamatan Durenan, Trenggalek ini cukup deras pada saat musim penghujan.
Lokasi runtuhan bata kuno ini merupakan tempat untuk kegiatan upacara bersih desa oleh masyarakat setempat yang kemudian disebut dengan Danyangan Timo.
Informasi dari masyarakat setempat menyatakan bahwa dahulu di lokasi ini juga dijumpai sebuah pohon Timo yang cukup besar, kemudian ditebang untuk dimanfaatkan sebagai sokoguru salah satu bangunan masjid di wilayah Durenan.
Berdasarkan pengamatan, bata-bata kuno yang dijumpai di Danyangan Timo ini mempunyai bentuk dan ukuran yang sama dengan bata kuno yang dijumpai di Situs Semarum.
Selain itu, dijumpai sebuah bata yang mempunyai profil pada bagian sudut, tetapi sudah dalam kondisi tidak utuh lagi.
Sebelum rusak, diduga runtuhan bata-bata kuno ini merupakan sebuah bangunan kuno yang juga menggunakan bata sebagai bahan penyusunnya.
4. Situs Kamulan
Situs Kamulan berada di Desa Kamulan, Kecamatan Durenan, Trenggalek merupakan situs dengan struktur bangunan yang terbuat dari bata.
Menurut informasi dari penduduk, di sekitar lokasi ini pernah ditemukan prasasti yag terbuat dari batu dan sekarang tersimpan di Museum Empu Tantular.
Struktur bangunan ditemukan ketika dilakukan penggalian tanah oleh pemiliknya untuk pembuatan bata dan struktur bangunan tersebut diperkirakan merupakan bagian dari candi.
Karakter Situs Kamulan mengacu pada hasil kegiatan survei arkeologi dan ekskavasi mengindikasikan sebagai situs pemukiman kuno.
Hal ini didukung oleh lingkungan fisik yang baik, seperti ketersediaan air dan bentang lahan yang relatif datar.
Keberadaan permukiman kuno ini didukung dengan data tertulis berupa Prasasti Kamulan yang berangka tahun 1164 Saka atau 1194 Masehi yang sekarang tersimpan di Pendapa Manggala Praja Nugraha Trenggalek. ****