Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Sungai Ngasinan Trenggalek, Hulu Brantas yang Mengubur Banyak Peninggalan Sejarah

Dharaka R. Perdana • Jumat, 18 Juli 2025 | 05:17 WIB

Foto satelit yang memperlihatkan Sungai Ngasinan yang berkelok-kelok di sekitar pusat kota Trenggalek.
Foto satelit yang memperlihatkan Sungai Ngasinan yang berkelok-kelok di sekitar pusat kota Trenggalek.

TRENGGALEKJENGGELEK - Trenggalek tidak hanya dikenal sebagai wilayah yang kaya akan keindahan alam dan budaya Jawa Timur, tetapi juga memiliki kekayaan geologis dan sejarah yang terkubur di balik aliran airnya.

Salah satu contoh nyata adalah Sungai Ngasinan, sebuah sungai yang mengalir dari Trenggalek menuju Tulungagung dan berkontribusi sebagai hulu penting Sungai Brantas.

Baca Juga: Sungai Ngasinan Saksi Tumbuhnya Peradaban di Trenggalek, 4 Situs Ini Menjadi Bukti

Sungai Ngasinan mengalir di wilayah Kecamatan Durenan bagian tengah dan merupakan bagian dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Ngasinan-Ngrowo, yang kemudian bermuara di Sungai Brantas.

DAS ini dikenal memiliki daerah tangkapan hujan yang luas, serta pola aliran yang rapat dan berhulu di kawasan pegunungan utara Trenggalek.

Baca Juga: Tanggul Sungai Ngasinan di Ngares Jebol, Sebanyak 11 KK Terdampak, BPBD dan BASARNAS Kerahkan Perahu Fiber dan Mobilisasi Angkutan

Beberapa anak sungai penting yang ikut menyuplai aliran utama adalah Kali Jurangbanteng dan Kali Sedongo, yang semuanya berasal dari kaki Pegunungan Rajegwesi, gugusan perbukitan seperti Pringulung, Gunung Kekep, Condrogeni, dan Gunung Bale.

Wilayah sekitar Sungai Ngasinan memiliki bentuk geomorfologi berupa cekungan alami, dikelilingi oleh perbukitan yang secara tidak langsung membentuk benteng topografis.

Baca Juga: Aliran Sungai Temon Bergeser, BPBD Trenggalek Kerahkan Alat Berat

Hal ini menyebabkan area tersebut mengalami akumulasi endapan aluvial yang sangat tebal, terdiri dari material halus seperti lempung dan pasir, serta fragmen kerikil mengambang.

Tak heran, wilayah ini menjadi lahan pertanian produktif dan padat permukiman sejak masa lalu.

Baca Juga: Diterjang Derasnya Arus Sungai, Jembatan di Desa Jatiprahu Trenggalek Putus

Keberadaan sungai permanen (perennial) seperti Sungai Ngasinan memastikan pasokan air yang stabil, terutama dari pola aliran radial sentripetal yang berasal dari wilayah tinggi sekitarnya.

Tidak hanya kaya secara alamiah, kawasan DAS Ngasinan juga menyimpan jejak peradaban masa klasik. Dua situs penting, yakni Candi Brongkah dan Situs Kamulan, menjadi bukti bahwa wilayah ini sudah dihuni sejak zaman dahulu.

Menariknya, kedua situs ini merupakan bagian dari buried landscape atau bentang lahan yang terkubur, yang terkubur oleh sedimentasi aluvial.

Candi Brongkah yang terletak sangat dekat dengan Sungai Ngasinan memiliki lapisan sedimen yang jauh lebih tebal dibanding Situs Kamulan yang berada agak jauh dari aliran sungai.

Ini membuktikan bahwa alur sungai dan aktivitas fluvial sangat berpengaruh terhadap lanskap arkeologis wilayah tersebut.

Dengan melihat aspek hidrologi, geomorfologi, dan arkeologi, Sungai Ngasinan bukan hanya sekadar aliran air, melainkan sumbu penting dalam lanskap ekologis dan budaya Trenggalek.

Sungai ini berperan sebagai pengatur drainase wilayah cekungan agar tidak tergenang, menjadi sumber air bagi pertanian dan permukiman, serta tempat terkuburnya sejarah yang menunggu untuk diungkap. ****

 

Sosok Mantan Suami Putri Karlina Wabup Garut Sebelum Menikah dengan Maula Akbar Putra Dedi Mulyadi (KDM)
Sosok Mantan Suami Putri Karlina Wabup Garut Sebelum Menikah dengan Maula Akbar Putra Dedi Mulyadi (KDM)
Potret connie francis
Potret connie francis
Editor : Dharaka R. Perdana
#trenggalek #Sungai Ngasinan #sungai brantas