Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Kawasan Situs Kamulan Konon Jadi Pengendali Banjir di Timur Trenggalek, Benarkah Demikian?

Dharaka R. Perdana • Jumat, 18 Juli 2025 | 21:28 WIB

Foto satelit yang memperlihatkan Sungai Ngasinan yang berkelok-kelok di sekitar pusat kota Trenggalek.
Foto satelit yang memperlihatkan Sungai Ngasinan yang berkelok-kelok di sekitar pusat kota Trenggalek.

TRENGGALEKJENGGELEK - Keberadaan Situs Kamulan di Kecamatan Durenan, Trenggalek tidak bisa dipandang sebelah mata.

Sebagian besar orang hanya menganggap jika Situs Kamulan sebagai kunci sejarah keberadaan peradaban di Trenggalek. 

Namun bisa saja kawasan sekitar Situs Kamulan memiliki fungsi lain karena berdekatan dengan aliran Sungai Ngasinan. 

Baca Juga: Sungai Ngasinan Trenggalek, Hulu Brantas yang Mengubur Banyak Peninggalan Sejarah

Trenggalek dikenal sebagai daerah subur dengan banyak lahan pertanian produktif. Salah satu faktor utama yang menopang kesuburan ini adalah keberadaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Ngasinan, sebuah kawasan tangkapan air yang sangat vital di bagian utara Trenggalek.

Tak hanya menjadi penyedia air irigasi, Sungai Ngasinan juga memainkan peran penting dalam mencegah banjir dan mengatur drainase alami wilayah cekungan yang luas.

DAS Ngasinan mencakup aliran utama Sungai Ngasinan dan Sungai Ngrowo, yang akhirnya bermuara di Sungai Brantas.

Baca Juga: Sungai Ngasinan Saksi Tumbuhnya Peradaban di Trenggalek, 4 Situs Ini Menjadi Bukti

Meskipun wilayah DAS ini tidak terlalu luas, letaknya yang strategis di antara perbukitan Rajegwesi seperti Gunung Pringulung, Gunung Kekep, hingga Gunung Bale, menjadikannya sistem tangkapan air yang sangat efektif.

Cekungan morfologis yang dibentuk oleh perbukitan ini membuat air hujan dan limpasan permukaan mengalir ke satu titik utama Sungai Ngasinan dengan pola aliran radial sentripetal.

Pola ini memungkinkan wilayah sekitarnya menjadi zona akumulasi air yang besar, yang jika tidak diatur bisa menyebabkan banjir.

Baca Juga: Emil Dardak Terus Pantau Pencarian Korban Longsor Trenggalek, Soroti Pentingnya Pemetaan Sungai

Namun, Sungai Ngasinan bertindak sebagai outlet alami, mengalirkan kelebihan air keluar dari cekungan dan menjaga wilayah tetap kering dan subur.

Berkat proses geologis yang berlangsung selama ribuan tahun, aliran Sungai Ngasinan membawa serta material halus seperti lempung dan pasir, yang kemudian mengendap di dataran rendah.

Endapan aluvial ini menjadi tanah pertanian yang sangat subur, cocok untuk berbagai jenis tanaman pangan dan hortikultura.

Namun, sifat tanah bertekstur halus ini juga memiliki kelemahan berupa drainase vertikal yang buruk. Artinya, jika tidak dikelola dengan baik, wilayah ini mudah tergenang air, terutama saat musim hujan deras.

Dalam hal ini, fungsi Sungai Ngasinan sebagai pengatur debit air sangat penting. Sungai ini menjadi saluran pembuangan alami (discharge area) yang mencegah genangan berlebihan dan mempercepat aliran air keluar dari permukaan tanah.

Dalam konteks perencanaan wilayah, DAS Ngasinan perlu mendapat perhatian lebih sebagai bagian dari mitigasi risiko banjir alami.

Di masa lalu, kawasan sekitar Situs Kamulan mungkin telah berfungsi sebagai area kendali banjir, mengingat letaknya di sisi fisiografis cekungan dan dekat dengan jalur keluar Sungai Ngasinan ke arah Tulungagung.

Artinya, masyarakat klasik tampaknya telah memanfaatkan morfologi alam ini secara cerdas untuk menetap di kawasan yang subur namun aman dari risiko bencana hidrometeorologis.

Di tengah perubahan iklim dan alih fungsi lahan yang masif, DAS Ngasinan harus dijaga keberlanjutannya. Pelestarian daerah resapan, konservasi lereng, serta pemeliharaan bantaran sungai adalah langkah penting untuk mempertahankan fungsi ekologisnya.

Selain sebagai penyedia air dan lahan pertanian, DAS Ngasinan bisa dikembangkan sebagai wilayah edukasi ekologi, konservasi berbasis masyarakat, hingga wisata berbasis sungai yang bernilai edukatif dan ekonomis.

 

Editor : Dharaka R. Perdana
#situs kamulan #trenggalek #Sungai Ngasinan