TRENGGALEKJENGGELEK - Wilayah Trenggalek yang kini kita kenal, khususnya area Kelutan dan Durenan, menyimpan jejak masa lalu yang lebih dalam dari sekadar peta administratif.
Salah satu nama di Trenggalek yang masih bertahan hingga kini adalah Ngasinan, yang dulunya bukan hanya nama sungai, tapi juga sebuah kawedanan atau distrik penting pada masa kolonial Belanda.
Baca Juga: Menelusuri Jejak Kerajaan Hasin, Misteri Sejarah Tersembunyi di Sekitar Sungai Ngasinan Trenggalek
Namun siapa sangka, nama Ngasinan ini diduga berkaitan erat dengan kerajaan kuno bernama Hasin atau Macin, yang muncul dalam berbagai prasasti dan naskah Jawa kuno, termasuk di masa Raja Airlangga.
Peta kolonial tahun 1855 menunjukkan bahwa Ngasinan merupakan distrik besar di wilayah selatan Sungai Ngasinan.
Kawasan ini mencakup wilayah-wilayah strategis di sekitar Kelutan, yang kini menjadi bagian dari pusat kota Trenggalek.
Baca Juga: Sungai Ngasinan Trenggalek, Hulu Brantas yang Mengubur Banyak Peninggalan Sejarah
Sebagai sebuah kawedanan, Ngasinan memiliki peran administratif yang penting pada masa pemerintahan Hindia Belanda.
Jejak nama ini tidak berhenti pada era kolonial. Banyak peneliti dan sejarawan lokal, seperti Abdul Hamid Wilis (2007), mencatat bahwa nama Ngasinan tidak lain merupakan kelanjutan toponimi dari Hasin, nama sebuah kerajaan lokal yang eksis sebelum abad ke-11.
Dalam Prasasti Baru (1030 M) yang berasal dari masa Raja Airlangga, disebutkan bahwa Kerajaan Hasin merupakan salah satu wilayah yang diserang dan ditaklukkan dalam rangka mengembalikan kejayaan kerajaan mertuanya, Dharmmawangsa Teguh dari Mataram Jawa Timur.
Baca Juga: Sungai Ngasinan Saksi Tumbuhnya Peradaban di Trenggalek, 4 Situs Ini Menjadi Bukti
Dalam naskah Tantu Panggelaran, Hasin (juga disebut Macin) muncul sebagai wilayah spiritual, tempat persinggahan Begawan Agastya dalam perjalanannya menuju Mandala Kailaca, kediaman Begawan Markandeya.
Hasin disebut berada di sebelah barat Gunung Wilis, posisi yang sangat sesuai dengan letak Trenggalek saat ini.
“...dibawanya mereka ke barat, ke Masin, ke puncak Kailaca...”
(Tantu Panggelaran, terjemahan Poerbatjaraka)
Sungai Ngasinan mengalir melintasi wilayah Durenan menuju Tulungagung, melalui zona dataran subur dan aluvial yang cocok dijadikan pusat permukiman.
Di sekitar aliran ini terdapat situs purbakala seperti Situs Kamulan dan Candi Brongkah, yang menunjukkan bahwa wilayah ini telah dihuni sejak masa klasik Hindu-Buddha.
Nama “Ngasinan” kemungkinan merupakan bentuk adaptasi atau pelestarian dari nama “Hasin” yang mengalami pergeseran fonetik alami, namun tetap mempertahankan akar toponimiknya.
Baca Juga: Kawasan Situs Kamulan Konon Jadi Pengendali Banjir di Timur Trenggalek, Benarkah Demikian?
Dari kerajaan vassal Mataram Kuno, berubah menjadi wilayah administratif kolonial, dan kini menjadi nama lokal yang bertahan dalam memori geografis masyarakat Trenggalek.
Brandes dan de Casparis menyebut Hasin sebagai wilayah yang ditaklukkan Airlangga pada 1030 M, terkait strategi menyerang Raja Wengker di Ponorogo.
Nama Hasin juga disebut dalam masa Kertajaya (Dandang Gendis), dan seorang permaisuri Kediri disebut berasal dari Hasin (Dewi Hasin).
Melalui penelusuran toponimik, arkeologis, dan historis, wilayah Ngasinan terbukti tidak sekadar nama geografis modern.
Dia adalah warisan dari masa klasik Jawa, yang menyimpan potensi besar untuk ditelusuri lebih lanjut—baik dalam konteks sejarah kerajaan lokal, maupun identitas wilayah Trenggalek itu sendiri.
Mengungkap sejarah Kerajaan Hasin berarti juga mengungkap bagian penting dari sejarah pengaruh Airlangga, Mataram Jawa Timur, dan peradaban Hindu-Buddha yang pernah mengakar kuat di barat Gunung Wilis.
Editor : Dharaka R. Perdana