Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Prasasti Yupa, Peninggalan Kerajaan Kutai Belum Masuk Memory of The World UNESCO, Kenapa?

Dharaka R. Perdana • Jumat, 25 Juli 2025 | 05:36 WIB

Prasasti Yupa bakal diusulkan sebagai bagian memori dunia oleh UNESCO. (BRIN)
Prasasti Yupa bakal diusulkan sebagai bagian memori dunia oleh UNESCO. (BRIN)

TRENGGALEKJENGGELEK - Prasasti Yupa tidak hanya menjadi bukti arkeologis keberadaan Kerajaan Kutai sebagai kerajaan tertua di Nusantara, tetapi juga merupakan dokumen sejarah yang kaya akan nilai budaya, historis, dan akademis.

Melalui Prasasti Yupa ini, kita tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi juga membuka jalan untuk pengakuan dunia terhadap peradaban awal Indonesia.

Baca Juga: Berikut 4 Prasasti yang Pernah Ditemukan di Trenggalek, Nomor 3 Jarang Terekspose

Hal ini mengemuka dalam Seminar Prasasti Yupa Kerajaan Kutai dan Prasasti Padang Lawas dalam Konteks Sejarah Kawasan yang digelar oleh BRIN di Kawasan Sains Sarwono Prawirohardjo, Jakarta (22/7).

Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra) BRIN, Herry Jogaswara, menegaskan bahwa prasasti Yupa memiliki nilai sejarah dan arkeologi yang sangat penting, namun hingga kini belum terdaftar dalam program Memory of the World UNESCO.

Baca Juga: Prasasti Kamsyaka, Jejak Sima Swatantra Abad ke-10 Ungkap Sejarah Otonomi Wilayah Kampak dan Menandai Awal Pemerintahan Lokal di Trenggalek

“Forum ini menjadi momen penting untuk membahas warisan prasasti tertua di Indonesia, dari Yupa di Kutai, Kalimantan Timur hingga prasasti Hindu-Buddha di Padang Lawas, Sumatera Utara,” ujar Herry.

Menurut dia, pengusulan prasasti Yupa ke UNESCO adalah langkah strategis yang perlu dikawal bersama oleh arkeolog, akademisi, dan institusi kebudayaan.

Baca Juga: Kawasan Situs Kamulan Konon Jadi Pengendali Banjir di Timur Trenggalek, Benarkah Demikian?

Dukungan terhadap pengakuan global ini juga datang dari Duta Besar/Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO, Ismunandar.

Dalam sambutannya, ia menyebut bahwa prasasti Yupa dari abad ke-4 Masehi merupakan salah satu dokumen tertua yang mencatat eksistensi peradaban Nusantara.

Baca Juga: Sungai Ngasinan Trenggalek Jadi Jalur Strategis Airlangga Memulihkan Jawa Timur, Ini Alasannya

“Dibandingkan dokumen lain yang telah diakui UNESCO, Yupa jauh lebih tua dan memiliki nilai luar biasa dalam narasi sejarah dunia,” tegasnya.

Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam mewujudkan pengakuan ini. BRIN menggandeng Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Komda Jabodetabek dan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kutai Kartanegara. 

Khususnya dalam mengkaji serta merumuskan strategi pelestarian situs bersejarah, utamanya kawasan Muara Kaman sebagai lokasi ditemukannya Yupa.

Kabid Sosial dan Kependudukan BRIDA Kutai Kartanegara, Tulus Sutopo, menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah menyusun langkah konkret untuk pengembangan situs tersebut.

Meski sempat terkendala efisiensi anggaran, BRIDA tetap berkomitmen untuk menyusun kajian heritage impact assessment sebagai peta jalan pelestarian yang berkelanjutan.

“Langkah ini penting agar setiap revitalisasi situs bersejarah memiliki dasar ilmiah dan terarah. BRIDA akan memprioritaskan upaya pelestarian budaya Kutai, termasuk prasasti Yupa, sebagai warisan identitas daerah dan nasional,” katanya.

Dengan sinergi antara lembaga riset, pemerintah pusat dan daerah, serta komunitas arkeologi, diharapkan prasasti Yupa tidak hanya menjadi kebanggaan lokal, tetapi juga diakui sebagai bagian dari warisan dunia yang memperkaya narasi peradaban global. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#kerajaan kutai #peradaban awal #Prasasti Yupa