TRENGGALEKJENGGELEK - Prasasti Yupa merupakan peninggalan arkeologis tertua di Indonesia yang tidak hanya mencerminkan kejayaan Kerajaan Kutai, tetapi juga memiliki makna historis dan linguistik yang mendalam.
Sebagai prasasti batu peninggalan abad ke-4 Masehi, prasasti Yupa menjadi saksi penting transisi masyarakat Nusantara dari era prasejarah menuju peradaban tertulis.
Baca Juga: Prasasti Yupa, Peninggalan Kerajaan Kutai Belum Masuk Memory of The World UNESCO, Kenapa?
Tak heran jika Prasasti Yupa kini tengah diusulkan masuk dalam program Memory of the World UNESCO sebagai bagian dari warisan dokumenter dunia.
Upaya pengusulan ini diperkuat oleh pernyataan Kepala Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah (PRAPS-BRIN), Irfan Mahmud.
Baca Juga: Menelusuri Jejak Kerajaan Hasin, Misteri Sejarah Tersembunyi di Sekitar Sungai Ngasinan Trenggalek
Dia menegaskan ada nilai historis dan linguistik luar biasa yang terkandung dalam tujuh prasasti Yupa yang ditemukan di Muara Kaman, Kutai Kartanegara.
Dari tujuh prasasti tersebut, empat telah berhasil dibaca dengan baik, sementara tiga sisanya masih dalam kajian epigrafi lanjutan.
Baca Juga: Berikut 4 Prasasti yang Pernah Ditemukan di Trenggalek, Nomor 3 Jarang Terekspose
“Yupa bukan hanya prasasti tertua, tetapi juga jembatan naratif antara bahasa Indo-Arya dan bahasa lokal Nusantara,” jelas Irfan.
Ia mengusulkan pembentukan kelompok kerja lintas sektor yang melibatkan BRIN, Kementerian Kebudayaan, IAAI, hingga komunitas heritage untuk memperkuat riset serta pelestarian situs Muara Kaman.
Irfan juga menyoroti pentingnya strategi pelestarian yang menyentuh aspek identitas lokal, seperti menghadirkan replika prasasti Yupa di pusat kota.
Selain itu menghidupkan kembali narasi Kutai Kuno melalui festival Erau, serta memperkuat lanskap budaya di sekitarnya.
“Prasasti Yupa adalah aset pengetahuan bangsa yang tetap hidup dan relevan dalam membangun jati diri nasional,” tegasnya.
Di sisi lain, Ketua IAAI Komda Jabodetabek, Berthold DH Sinaulan, turut menyatakan dukungan penuh atas pengajuan Yupa ke UNESCO.
Ia menekankan bahwa Yupa menjadi bukti sah transisi dari masa prasejarah ke sejarah, sekaligus fondasi penting dalam memahami akar bahasa Melayu kuno sebagai cikal bakal bahasa Indonesia modern. ****